The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #15

Terima Kasih Pertama

FEBRUARI tiba dengan sisa-sisa udara musim dingin yang menusuk tulang. Aula SMA dipenuhi oleh riuh rendah suara para siswa dan orang tua yang merayakan akhir dari sebuah perjalanan.

Jian duduk di barisan depan dengan jubah kelulusan hitam. Wajahnya datar, hampir tanpa emosi. Di sekelilingnya, teman-temannya sibuk berpelukan dan berfoto. Ia merasa seperti sebuah pulau terpencil di tengah samudera yang ramai. Di tangannya, ia menggenggam buket mawar kecil yang ia beli sendiri di depan gerbang sekolah—sebuah simbol kemandirian yang pahit.

Saat namanya dipanggil ke panggung sebagai salah satu lulusan terbaik, Jian melangkah dengan dagu terangkat. Ia menerima ijazahnya, membungkuk formal, dan saat ia menegakkan tubuh, matanya tanpa sengaja menyapu barisan paling belakang aula.

Langkahnya hampir terhenti.

Di sana, di sudut remang dekat pintu keluar, berdiri seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya. Mikail. Pria itu datang sendiri tanpa sepengetahuannya. Di tangannya, ia mendekap sebuah buket besar bunga lili putih.

Setelah prosesi selesai, Jian berusaha keluar lewat pintu samping untuk menghindari keramaian, namun ia justru mendapati Mikail sudah berdiri menunggunya di selasar yang sepi.

“Aku tidak ingat pernah mengundangmu,” cetus Jian dingin saat pria itu melangkah mendekat.

“Kau butuh wali di upacara kelulusan,” jawab Mikail rendah. Suaranya tenang meski ada nada tak terbantahkan di sana.

Jian segera membuang muka. Enggan menatap mata yang selalu berusaha mengontrol hidupnya itu.

“Tidak mau menerimanya?” Mikail menyodorkan buket lili putih di tangannya. “Kudengar ini bunga kesukaan mendiang ibumu.”

Gerakan Jian terhenti. Ia menatap kelopak bunga yang putih bersih itu dengan ragu. Memorinya tentang sang ibu sangat kabur. Ia baru berusia enam tahun saat wanita itu pergi. Ia tidak ingat warna kesukaan ibunya, apalagi jenis bunga favoritnya. Namun, mendengar nama sang ibu disebut, pertahanan Jian goyah. Ia akhirnya menerima buket besar itu. Aroma lili yang kuat merayap masuk ke indra penciumannya. Memberikan sensasi hangat yang asing.

Jian hendak berbalik untuk pergi, namun Mikail dengan cepat menahan lengannya. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup tegas untuk menghentikan langkah Jian.

“Ayo makan. Aku sudah memesan tempat untuk merayakan kelulusanmu,” ucap Mikail.

Jian menatap lengan yang dicekal itu, lalu menatap Mikail dengan tajam. “Tidak mau. Lepaskan....”

“Ryu Jian! Selamat atas kelulusanmu!”

Suara lantang itu memutus protes Jian. Gurunya berjalan menghampiri dengan wajah berseri-seri. Langkah guru itu melambat saat menyadari sosok pria di samping Jian yang memancarkan aura dominan.

“Ah, Anda pasti walinya Jian? Saya sering mendengar tentang prestasi Jian, dia murid kebanggaan kami,” sapa guru itu dengan hormat.

Mikail melepaskan lengan Jian, namun ia justru melangkah selangkah lebih maju. Memasang ekspresi sopan yang sempurna. “Benar, Seonsaengnim. Terima kasih sudah mendidik Jian dengan baik. Aku baru saja akan membawanya pergi untuk makan malam keluarga sebagai perayaan.”

“Ah, tentu, tentu! Silakan. Hari ini adalah hari besar untuknya. Nikmatilah waktu kalian,” ujar sang guru sambil menepuk bahu Jian dengan bangga sebelum berpamitan pergi.

Jian hanya bisa terpaku. Tidak mungkin ia mendebat walinya di depan sang guru. Ia menoleh ke arah Mikail dengan tatapan benci. Menyadari bahwa pria itu baru saja menggunakan kesopanan sosial untuk menjebaknya.

“Kita pergi sekarang,” titah Mikail.

Kali ini Jian tidak punya pilihan selain mengikuti langkah lebar pria itu menuju mobil yang sudah menunggu di luar.

 

 

***

 

 

Lihat selengkapnya