The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #16

Insting yang Berkhianat

WAKTU seolah terlipat dalam ritme yang mekanis dan melelahkan. Di saat Jian sedang bergelut dengan bau formalin yang tajam di laboratorium anatomi—memegang skalpel dengan jemari gemetar namun presisi di atas tubuh cadaver di bawah lampu neon yang dingin—pada waktu yang bersamaan, Mikail justru terjebak dalam perang angka di ruang rapat Daehan Ventures yang elegan, mengempaskan tumpukan dokumen ke hadapan para direktur yang menunduk ketakutan.

Seiring berjalannya hari, pemandangan berganti secara simultan. Jian terlihat di perpustakaan saat fajar menyingsing dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah mata, tenggelam dalam hafalan anatomi yang rumit, sementara itu Mikail berada di dalam jet pribadi, menatap tajam data akuisisi dengan latar pemandangan kota yang berganti-ganti di bawahnya. Komunikasi di antara mereka menyusut drastis, hanya menyisakan pesan singkat yang fungsional dan dingin seperti “Aku pulang terlambat,” atau “Uang semester sudah masuk.”

Tepat di tengah hiruk-pikuk praktikum fisiologi yang melelahkan suatu siang, Jian tiba-tiba berhenti karena napasnya yang memburu mulai mengeluarkan suara siulan tipis yang menyakitkan. Begitu ia menyadari serangan asma itu datang, ia segera menarik diri dari kerumunan mahasiswa dan menyelinap ke tangga darurat yang sunyi. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya untuk menekan inhaler. Ia memejamkan mata seraya menyandarkan punggung pada dinding semen yang dingin. Sembari oksigen perlahan merayap masuk kembali ke paru-parunya, kesepian yang ia rasakan justru terasa jauh lebih menyesakkan daripada penyakitnya sendiri.

 

 

***

 

 

Kesibukan itu menciptakan celah. Mikail, yang mulai merasa aman dengan kepatuhan Jian yang tenang, memberinya sedikit kelonggaran—tidak ada lagi pengawalan ketat setiap jam. Namun, malam ini, kelonggaran itu berubah menjadi bumerang.

Mikail memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Migrainnya kambuh. Jenis sakit kepala yang terasa seperti ada paku yang dipukul masuk ke saraf matanya.

“Jian belum kembali?” Suara Mikail parau saat Will masuk ke kamar tidurnya.

“Ponselnya mati. Terakhir terlihat di area kampus tiga jam lalu.”

Mendengar itu, kemarahan yang bercampur dengan kecemasan liar membuat Mikail memaksa tubuhnya bangkit. Dengan langkah yang sedikit goyah karena pening, ia masuk ke dalam mobil. Will mengemudi dengan kecepatan tinggi. Menyisir kafe-kafe di sekitar universitas dan perpustakaan kota.

Akhirnya, mereka menemukannya. Di bawah lampu halte bus yang temaram dan mulai berkedip, Jian berdiri sedang melambaikan tangan pada sekelompok teman kuliahnya yang naik ke dalam bus.

Mikail turun dari mobil sebelum Will sempat membukakan pintu. Aura dominannya menyapu selasar halte yang sepi itu.

“Ryu Jian!” suaranya menggelegar, meradang di tengah sunyinya malam.

Jian tersentak. Bahunya menegang saat melihat sosok tinggi Mikail yang tampak kuyu namun mengerikan berjalan menghampirinya.

“Kenapa kau belum pulang?! Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?!” bentak Mikail tepat di depan wajahnya. Napas pria itu memburu, menahan sakit kepala yang kian menyiksa.

Lihat selengkapnya