JIAN berjalan menyusuri lorong lantai atas menuju kamar utama. Saat ia sampai di depan pintu kayu jati yang besar itu, kepala pelayan baru saja keluar dengan wajah lega. Jian berhenti dan menunduk sopan, sebuah gestur refleks yang masih ia pertahankan meskipun hatinya bergejolak. Setelah kepala pelayan berlalu, Jian menarik napas panjang. Menguatkan diri sebelum melangkah masuk.
Di dalam, aroma minyak kayu putih dan teh melati yang lembut menyambutnya. Mikail duduk bersandar di tumpukan bantal tinggi di atas tempat tidurnya. Di hadapannya, sebuah meja baki perak berisi sarapan khusus—bubur gandum halus, buah-buahan segar, dan air putih hangat—masih tertata rapi. Pria itu tidak mengenakan setelan jasnya. Ia hanya memakai kaus hitam polos yang membuatnya tampak kurang mengintimidasi namun tetap dominan.
Jian berhenti beberapa langkah dari tempat tidur. Ia tidak mendekat, hanya berdiri dengan menjejalkan kedua tangannya ke saku mantelnya, seolah sedang melakukan visitasi pasien di rumah sakit.
“Kau tidak ke kantor?” tanya Jian datar. Memecah kesunyian.
Mikail meliriknya sekilas sebelum kembali menyesap air hangatnya. “Aku mengambil cuti hari ini. Will bersikeras aku harus mengistirahatkan sarafku.”
Jian mengangguk sekali. Sangat formal. “Keputusan yang masuk akal secara medis. Migrain akut butuh waktu pemulihan minimal dua puluh empat jam tanpa paparan cahaya biru dari layar monitor.”
“Will juga bilang kau memberikan instruksi detail semalam,” Mikail meletakkan gelasnya. Matanya kini tertuju sepenuhnya pada Jian. “Kompres hangat dan pijatan Feng Chi. Aku tidak tahu kau memerhatikan sedetail itu.”
Jian sedikit mengeratkan cengkeraman tangannya di dalam saku mantel. “Jangan salah paham. Itu bagian dari kurikulum semester ini tentang penanganan darurat pasien migrain. Aku hanya butuh objek praktik yang nyata, dan kau kebetulan sedang tersedia.”
Mikail terdiam sejenak. Sebuah kilat tipis yang menyerupai senyuman muncul di matanya yang masih sedikit kuyu. “Objek praktik? Jadi aku hanya kelinci percobaan bagimu?”
“Begitulah kenyataannya,” sahut Jian dingin, meniru ucapan Mikail waktu itu.
Mikail tidak membantah. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas baki, lalu menatap Jian dengan ekspresi yang kembali mengeras.
“Kalau begitu, pastikan kau tidak memberikan ‘praktik’ tambahan malam ini,” ucap Mikail. Suaranya kembali ke otoritas yang biasa namun ada nada protektif di sana. “Pastikan ponselmu selalu terisi daya penuh mulai sekarang. Aku tidak ingin membuang energiku untuk mencarimu di setiap halte bus di kota ini hanya karena bateraimu habis.”
Jian merasa tenggorokannya sedikit tercekat. Ia tahu itu bukan sekadar perintah, melainkan peringatan bahwa kelonggaran yang diberikan beberapa waktu terakhir ini ada batasnya.
“Aku mengerti,” jawab Jian singkat. Ia berbalik untuk pergi, namun sebelum mencapai pintu, suara Mikail kembali menghentikannya.
“Terima kasih, Jian... untuk kurikulumnya.”
Jian tidak menyahut. Ia terus melangkah keluar dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat. Menyadari bahwa meskipun ia mencoba bersikap seprofesional mungkin sebagai calon dokter, pria di dalam kamar itu seperti punya cara untuk meruntuhkan dinding pertahanannya.