WAKTU tidak lagi berjalan dalam hitungan jam, melainkan dalam tumpukan diktat anatomi yang kian menebal dan kalender korporat yang kian padat. Tanpa mereka sadari, empat musim telah berganti warna di luar jendela mansion, sementara di dalam, dinamika antara Jian dan Mikail membeku dalam sebuah rutinitas yang aneh namun stabil.
Semua bermula saat musim gugur menyapa. Daun-daun berubah jingga di sepanjang jalan menuju kampus. Senada dengan cahaya lampu belajar Jian yang menyala hingga pukul tiga pagi. Mikail sering kali berdiri di ambang pintu kamar yang setengah terbuka, hanya menatap punggung Jian yang melengkung di atas meja belajar, sebelum meletakkan segelas susu cokelat hangat di meja tanpa suara dan pergi sebelum Jian sempat menoleh.
Memasuki musim dingin, jarak di antara mereka sempat terkikis oleh kerapuhan. Jian jatuh sakit karena kelelahan menjelang ujian akhir semester. Di tengah igauan demamnya, ia merasakan usapan tangan yang kasar namun ragu di dahinya. Saat ia terbangun dengan keringat dingin yang mulai mengering, ia menemukan Mikail tertidur di kursi di samping ranjangnya dengan laptop yang masih menyala di pangkuan—sebuah pemandangan yang meruntuhkan sedikit demi sedikit dinding kebencian Jian.
Kesibukan mencapai puncaknya saat musim semi tiba. Jian mulai menjalani rotasi klinis awal yang menguras energi, sementara Mikail melakukan ekspansi besar ke pasar Eropa. Mereka menjadi dua orang asing yang tinggal satu atap. Hanya bertemu di lorong saat fajar, bertukar anggukan singkat, atau sekadar melihat bayangan satu sama lain lewat pantulan kaca jendela. Komunikasi mereka berevolusi menjadi kode-kode praktis. Sebuah post-it di pintu kulkas atau pesan singkat mengenai jadwal makan malam yang efisien.
Hingga akhirnya musim panas kembali menyapa dengan udara yang mulai menghangat. Jian menyadari bahwa ia tidak lagi gemetar saat Mikail memasuki ruangan. Ketakutan itu telah bermutasi menjadi sebuah rasa maklum yang dalam. Ia mulai hafal kapan migrain Mikail akan kambuh hanya dari cara pria itu mengerutkan alis, dan Mikail mulai hafal jenis kopi yang Jian butuhkan saat ia harus terjaga semalaman. Setahun telah berlalu, dan sangkar emas itu kini terasa lebih seperti rumah yang sunyi daripada sebuah penjara.
Pagi itu, cahaya matahari musim panas yang cerah menembus jendela ruang makan. Menciptakan pola-pola persegi panjang di atas meja mahoni. Keheningan yang biasa menyelimuti sarapan mereka kini terasa lebih ringan, hanya diiringi denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen.
Mikail meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu berdehem kecil untuk memecah sunyi. “Mengenai ulang tahunmu....”
Jian menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengoles mentega pada roti. Ia tidak langsung menjawab, melainkan tetap menunduk, menunggu Mikail melanjutkan kalimatnya yang sempat tertahan.
“Apa kau ingin mengadakan pesta?” tanya Mikail kemudian. Matanya menatap Jian dengan intensitas yang lebih lembut dari setahun lalu.
Jian terdiam sejenak. Ia sedikit tertegun menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Setahun telah terlewati dalam sangkar ini, dan dalam seminggu ke depan, ia akan menginjak usia dua puluh tahun. Usia yang seharusnya menjadi puncak kebebasan bagi seorang gadis, namun baginya, itu hanyalah penanda satu tahun lagi ia menjadi bagian dari hidup pria di hadapannya.
“Tidak perlu,” jawab Jian singkat sambil melanjutkan makannya. Ia tidak pernah menyukai keramaian yang palsu.
Namun, saat ia mengunyah rotinya, sebuah memori lama tiba-tiba melintas. Kenangan tentang rencana ke Namsan Tower bersama Joon yang hancur berantakan tepat di hari ulang tahunnya yang kesembilan belas karena kemunculan Mikail. Rasa sesak yang dulu sempat hilang kini muncul kembali, namun kali ini bukan sebagai kemarahan, melainkan sebagai sebuah keinginan untuk menuntaskan sesuatu yang tertunda.
Jian mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata gelap Mikail. “Tapi, ada hal yang ingin kulakukan.”
Mikail sedikit memajukan tubuhnya. Memberikan atensi penuh. Menunggu kelanjutan kalimat Jian.
“Aku ingin pergi ke Namsan Tower,” ucap Jian. Ia melihat Mikail sudah bersiap membuka mulut, mungkin untuk memerintahkan Will atau mengatur jadwal, jadi Jian segera memotong, “Sendirian. Tanpa pengawalan Will.”
Garis wajah Mikail langsung berubah menegang. Keberatan itu terpancar jelas dari caranya mengerutkan kening.
“Aku ingin menikmati hari ulang tahunku seperti gadis normal lainnya,” tambah Jian lagi, suaranya lebih tegas. Ia bisa melihat keraguan di mata Mikail, seolah pria itu takut jika ia melepaskan genggamannya sedetik saja, Jian akan menguap seperti embun.
“Aku tidak akan lari. Kau sendiri tahu itu tidak ada gunanya—karena tidak ada tempat untukku sembunyi dari jangkauanmu.”
Mikail terdiam cukup lama. Logika posesifnya bertarung dengan rasa percayanya yang mulai tumbuh selama setahun terakhir. Ia menatap Jian, mencari celah kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan seorang gadis yang butuh menghirup udara luar tanpa bayang-bayang pria berjas hitam di belakangnya.
Mikail menghela napas panjang, sebuah tanda kekalahan yang jarang ia tunjukkan.