Jeda Musim Panas yang Singkat
“JIAN, ayo pergi ke suatu tempat. Ada pasar malam di dekat sini, kau harus mencoba tteokbokki yang dulu sering kita beli,” ajak Joon dengan semangat yang menular.
Jian sempat ragu, namun saat melihat binar di mata Joon, ia mengangguk. “Hanya sebentar,” pikirnya. Namun, sebentar itu berubah menjadi jam yang terus bergulir. Mereka tertawa di bawah lampu-lampu gantung, mencoba berbagai permainan stan, dan berjalan menyusuri trotoar sambil memegang es krim—persis seperti sepasang remaja biasa yang tidak memiliki beban dunia di bahu mereka. Di sana, Jian benar-benar merasa hidup kembali. Ia lupa pada dunia yang gelap, lupa pada diktat anatomi, dan yang paling berbahaya... ia lupa pada jam di pergelangan tangannya.
Sementara itu, di dalam ruang makan mansion yang megah, suasana justru terasa sangat mencekam.
Mikail duduk sendirian di kepala meja makan panjang yang telah ditata dengan sangat sempurna. Di hadapannya, berbagai hidangan khas ulang tahun Korea tersaji—ada miyeok-guk[1] yang masih mengepul, japchae, hingga berbagai hidangan sampingan premium yang ia pesan khusus agar terasa seperti masakan rumah. Sebuah kue ulang tahun kecil dengan lilin yang belum dinyalakan berdiri tenang di tengah meja.
Mikail melirik jam dinding berlapis emas di ruangan itu. 22:30.
Ia menyesap air putihnya dengan gerakan kaku. Pikirannya mulai liar. Apakah dia kabur? Apakah dia celaka? Apakah dia sengaja mengabaikan perintahku?
Setiap kali jarum jam berdetak, ketenangan Mikail terkikis sedikit demi sedikit. Ia berkali-kali mengeluarkan ponselnya, menatap kolom obrolan dengan Jian yang masih kosong. Tangannya sudah gatal ingin menelepon Will atau melacak posisi GPS, namun ia menahan diri. Ia sudah berjanji akan memberinya waktu.
“Setengah jam lagi, Jian,” gumam Mikail dengan suara rendah yang berbahaya. Matanya menatap sup rumput laut yang mulai mendingin itu dengan tatapan kosong.
Kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menunduk dalam, merasakan aura dingin yang memancar dari sang majikan. Mikail yang biasanya efisien dan tanpa emosi, kini tampak seperti bom waktu yang siap meledak hanya karena seorang gadis belum pulang ke sangkarnya.
23:15.
Mikail berdiri. Kursi mahoninya berderit tajam di atas lantai marmer. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gerbang depan. Menyilangkan tangan di depan dada. Kekhawatiran itu kini mulai bermutasi kembali menjadi amarah yang posesif.
Di luar sana, Jian masih tertawa mendengar lelucon Joon, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam mansion itu, iblis yang ia takuti sedang menghitung setiap detik keterlambatannya dengan napas yang memburu.