The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #20

Paradoks Penyelamat

JIAN menatap kotak beludru gelap itu dengan tatapan datar. Ia tidak butuh membukanya untuk tahu bahwa isinya pasti sesuatu yang sangat mahal—sesuatu yang Mikail anggap bisa membayar satu tahun kebebasannya yang terenggut, atau mungkin sebuah kompensasi atas ponsel yang hancur berkeping-keping semalam.

Tanpa minat, Jian memungut kotak itu, membawanya masuk, dan langsung menyurukkannya ke bagian paling dasar lemari pakaian. Menimbunnya di bawah tumpukan diktat kuliah yang sudah tidak terpakai. Ia tidak ingin melihatnya, apalagi memakainya.

Beberapa jam kemudian, aroma antiseptik yang tajam menggantikan suasana mansion yang menyesakkan. Jian baru saja menyelesaikan kelas praktikum di Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, tempat di mana teori-teori anatomi yang ia pelajari akhirnya bertemu dengan tubuh-tubuh manusia yang nyata.

“Ah, Profesor Eun Jong-hae itu tampan sekali. Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi mendengar penjelasannya tentang teknik sutura tadi,” keluh Arin, teman satu fakultasnya, sambil mendekap kertas materi di depan dada dengan wajah bersemu.

Jian tersenyum tipis, mencoba mengimbangi energi temannya yang meluap-luap. “Kau menyukainya?” tanyanya sambil lalu, meski pikirannya masih tertinggal pada insiden semalam.

Arin menoleh cepat dan tersenyum sipu. “Siapa coba yang tidak suka dengan pria seperti Profesor Eun? Aku rasa hampir semua gadis yang tadi mengikuti kelas praktikum tidak bisa berkonsentrasi. Cerdas, dingin, tapi sangat telaten saat membimbing.”

Arin masih terus bercerita sepanjang perjalanan mereka di koridor rumah sakit yang sibuk. Namun, suara gaduh dari ujung koridor tiba-tiba memotong percakapan mereka. Derap langkah kaki yang terburu-buru disusul oleh kemunculan tiga orang perawat yang mendorong brankar sambil berlari.

“Minggir! Beri jalan!” teriak salah satu perawat.

Jian dan Arin segera menyingkir ke sisi dinding. Saat brankar itu melesat melewati mereka, dunia seolah melambat secara abnormal. Suara bising rumah sakit mendadak senyap di telinga Jian. Matanya terpaku pada sosok yang terbaring di atas sana.

Seseorang dengan kepala yang nyaris seluruhnya bersimbah darah hingga mengotori masker oksigennya. Dalam fragmen detik yang singkat itu, Jian melihat garis wajah yang sangat ia kenali—wajah yang baru saja memberinya tawa di bawah lampu pasar malam beberapa jam yang lalu.

Waktu seolah menghantam Jian kembali ke realita saat brankar itu menjauh.

“Joon?” bisik Jian. Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar, namun cukup untuk membuat Arin menoleh dengan alis terangkat.

“Apa? Kau mengenalnya?” tanya Arin bingung.

Jian tersentak pelan. Seketika ekspresinya berubah pucat pasi, berganti dengan kepanikan yang murni. Napasnya mulai memburu, teringat ancaman Mikail di lobi semalam tentang “menyingkirkan siapa pun yang mengganggu.”

“Arin, kau duluan saja. Aku masih ada keperluan mendesak di sini,” ucap Jian tanpa menunggu jawaban.

Sebenarnya Arin ingin menawarkan diri untuk menemani melihat kepanikan temannya itu, tetapi Jian sudah lebih dulu memutar tumit dan pergi dengan setengah berlari menuju ruang IGD, mengikuti jejak darah yang tertinggal di lantai koridor. Akhirnya Arin hanya mengedikkan bahu dan melanjutkan langkahnya. Tidak menyadari bahwa hidup Jian baru saja memasuki babak yang jauh lebih gelap.

 

 

***

Lihat selengkapnya