JIAN terbangun dengan leher yang kaku akibat posisi tidur yang tidak nyaman di kursi kayu. Ia memejamkan mata sejenak, menghalau pening, lalu menegakkan tubuh untuk memandang Joon yang masih terbaring kaku di ranjang—tak berdaya di bawah deru mesin monitor yang monoton.
Perutnya keroncongan. Perih yang mengingatkannya bahwa ia belum menyentuh makanan sejak kemarin sore. Jian mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Mencoba mengumpulkan sisa energi sebelum menyeret langkahnya keluar dari kamar rawat.
Baru saja pintu tertutup rapat di belakangnya, langkah Jian membeku. Mikail sedang berjalan ke arahnya. Penampilan pria itu berantakan. Rambutnya awut-awutan, matanya merah karena kurang tidur, dan kemeja hitamnya yang semalam kini tampak kusut.
Jian tertegun. Apa pria ini tidak pulang sama sekali? Ia pikir Mikail sudah pergi setelah pertengkaran hebat mereka semalam.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Mikail dengan suara rendah yang serak, seolah pita suaranya pun ikut kelelahan.
“Masih belum sadar,” jawab Jian pendek, menjaga jarak.
Mikail terdiam melihat binar cemas di mata Jian. Ada rasa pahit yang kembali mencubit hatinya saat menyadari betapa besarnya ruang yang Joon tempati dalam pikiran gadis itu. Namun, ia menekan ego itu dalam-dalam, lalu menyodorkan sebuah kantong kertas cokelat.
“Kau belum makan sejak semalam,” katanya datar. “Makanlah. Aku akan menjaganya sebentar.”
Jian menerima kantong itu dengan ragu. Harum roti hangat dan kopi segera menyeruak. Saat ia berbalik, Mikail sudah duduk di kursi tunggu koridor, meluruskan kakinya yang panjang, lalu menyandarkan kepala ke dinding dengan mata terpejam seketika.
***
Mikail tersentak bangun saat ujung kakinya tak sengaja tersenggol oleh seseorang. Ia langsung terduduk tegak dengan waspada. Seorang wanita jangkung berdiri di hadapannya, membungkuk berkali-kali sambil meminta maaf.
Mikail hanya mengangguk samar, membiarkan wanita itu pergi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir kantuk yang masih menggantung. Sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri di kursi keras ini? Dan di mana Jian?
Koridor sudah mulai ramai oleh hiruk-pikuk rumah sakit pagi hari, namun sosok Jian tidak terlihat. Saat seorang perawat keluar dari kamar Joon, Mikail terdorong oleh rasa penasaran yang asing. Ia melangkah masuk ke dalam.
Ia berdiri di samping ranjang Joon dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Hanya diam. Mengamati pria yang hampir merenggut nyawanya sendiri di aspal Apgujeong itu. Keningnya berkerut. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya, ia mengeluarkan ponsel.
“Detektif Cha? Ini Mikail Young,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku butuh bantuan Anda... Cari tahu siapa pelaku tabrak lari di Apgujeong kemarin sore... Ya, korban masih belum sadar... Hubungi aku segera setelah Anda menemukan pelakunya... Terima kasih.”
Di balik celah pintu yang sedikit terbuka, Jian membeku. Ia tidak bermaksud menguping, namun kecurigaannya semalam membuatnya ingin memastikan bahwa Mikail tidak melakukan hal buruk pada Joon di dalam sana.
Ternyata ia salah besar. Percakapan Mikail dengan detektif itu meruntuhkan semua tuduhan yang ia lemparkan semalam. Mikail tidak bersalah, namun pria itu tidak sedikit pun membela diri saat Jian menyebutnya pembunuh. Hati Jian seketika disergap rasa bersalah yang menyesakkan.
Pintu terbuka mendadak. Jian langsung berdiri tegak. Wajahnya memerah karena tertangkap basah.
“Aku akan kembali ke kantor. Kau juga harus ke kampus,” ucap Mikail seolah tidak terjadi apa-apa. “Keluarga Joon sudah dihubungi, mereka akan segera sampai.”
Jian hanya bisa mengangguk kaku. Mengekor di belakang punggung lebar Mikail yang mulai melangkah menjauh.