The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #22

Tanpa Ruang Bernapas

ANGIN sore di pemakaman itu terasa menusuk tulang, namun tak sedingin rasa hampa di dada Jian. Ia berdiri di hadapan dua nisan yang bersisian, menatap makam Ryu Bong Chul dengan pandangan yang tak lagi sama.

“Jadi, selama ini aku hanya barang jaminan bagi Ayah?” bisiknya parau. Tidak ada air mata kerinduan. Yang ada hanyalah kemuakan saat menyadari setiap inci kenyamanan hidupnya dibayar dengan harga dirinya sendiri.

Ia menatap makam ibunya yang tenang, lalu beralih pada makam ayahnya dengan tatapan hancur. Jian merasa mual menyadari bahwa kasih sayang yang ia terima selama ini ternyata memiliki label harga. Di atas tanah pemakaman yang sunyi itu, Jian menyadari bahwa ia tidak sedang berziarah untuk merindu, melainkan untuk meratapi dirinya yang kini tak lebih dari sebuah aset jaminan yang tertinggal.

“Kenapa Ayah setega itu?” bisiknya lirih, sementara angin sore menerbangkan helai rambutnya, meninggalkan tanya yang tak akan pernah dijawab oleh gundukan tanah di depannya.

Tanpa sepatah kata pamit, Jian berbalik. Ia tidak akan pulang ke rumah Mikail—penjara mewah yang selama ini ia puja.

Tujuannya hanya satu. Joon. Hanya di samping tempat tidur Joon ia bisa merasa sedikit tenang. Namun, saat Jian tiba di rumah sakit dan membuka pintu kamar inap itu dengan napas tersengal, dunianya kembali runtuh.

Kamar itu kosong.

Ranjangnya tertata sangat rapi, selimutnya terlipat kaku, dan semua peralatan medis telah disingkirkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi sosok Joon yang biasanya terbaring tenang di sana.

Jian bergegas keluar, menahan seorang perawat yang melintas di koridor. “Permisi, Suster. Ke mana pasien yang dirawat di kamar ini?”

Si perawat tersenyum ramah, mencoba mengingat jadwal semalam. “Pasien Park Joon?”

Jian mengangguk cepat, jantungnya berdegup tidak menentu.

“Kemarin malam keluarga memutuskan untuk memindahkannya ke Rumah Sakit Umum Gurye. Mereka bilang ingin merawatnya di tempat yang lebih tenang dan dekat dengan kediaman keluarga besar mereka.”

Jian tertegun. Gurye. Itu sangat jauh dari Seoul.

Rasa sesak seketika mengimpit dadanya, namun kali ini bukan hanya karena kehilangan jejak Joon. Pikiran Jian langsung tertuju pada satu nama. Mikail. Ia teringat bagaimana Mikail membayar seluruh biaya administrasi kemarin, dan bagaimana pria itu menatapnya dengan ancaman yang tersirat di balik kebaikannya.

Apakah Mikail yang melakukan ini? Batin Jian dengan tangan yang mengepal di sisi tubuhnya.

Bagi Jian, pemindahan yang mendadak ini tidak terasa seperti keputusan keluarga yang organik. Ini terasa seperti skenario yang telah disusun rapi. Mikail pasti telah menekan keluarga Joon, atau mungkin menawarkan sesuatu yang tak bisa ditolak agar mereka membawa Joon pergi sejauh mungkin dari jangkauan Jian. Ini bukan pelarian keluarga Joon. Ini adalah cara Mikail untuk memastikan ‘miliknya’ tidak lagi memiliki alasan untuk berpaling.

“Terima kasih,” gumam Jian pelan sambil memaksakan seulas senyum pahit yang tampak retak.

Ia berbalik. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan hampa. Jika benar Mikail dalang di balik semua ini, maka pria itu benar-benar tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi Jian untuk bernapas. Mikail tidak hanya membeli masa depannya dari tangan sang ayah, tapi juga memangkas setiap helai harapan yang coba Jian bangun di masa sekarang.

 

 

Lihat selengkapnya