The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #23

Anagram Takdir

KORIDOR fakultas kedokteran tampak sibuk seperti biasa. Jian berjalan menyusuri selasar gedung riset. Mencoba fokus pada tujuannya meskipun setiap getaran ponsel di saku jas laboratoriumnya membuat jantungnya berdegup tidak menentu. Itu pasti pesan dari Mikail, atau mungkin sekadar pengingat bahwa ia harus segera pulang begitu jam kuliah usai.

Jian berbelok menuju laboratorium patologi. Di sanalah Profesor Eun Jong-hae biasanya menghabiskan waktu di luar jam mengajar.

Jian menarik napas dalam, merapikan kerah jasnya, lalu mengetuk pintu kayu yang sedikit terbuka itu.

“Masuk,” suara bariton yang tenang terdengar dari dalam.

Profesor Eun sedang menunduk di depan mikroskop. Ia adalah sosok yang disegani karena ketajaman analisisnya. Bagi Jian, pria ini bukan sekadar dosen, melainkan satu-satunya harapan untuk membangun dinding pelindung akademik dari pengaruh Mikail.

“Profesor Eun? Aku Ryu Jian,” ucap Jian sopan sembari membungkuk.

Profesor Eun mendongak. Di balik kacamatanya, ia menatap Jian dengan raut mengenali. “Ah, mahasiswi yang menjawab pertanyaan tentang teknik sutura kemarin. Ada apa, Jian?”

Jian mendekat ke meja kerja sang profesor. “Aku membaca jurnal Anda tentang regenerasi sel yang bekerja sama dengan Harvard Medical School. Aku sangat tertarik dengan metodologinya, dan aku ingin bertanya apakah aku bisa bergabung sebagai asisten riset junior di laboratorium Anda?”

Profesor Eun menyandarkan punggungnya. Menatap Jian cukup lama. “Riset ini berat, Jian. Kau masih mahasiswa tingkat awal. Kenapa terburu-buru?”

“Karena aku mengincar program Research Trainee di Harvard tahun depan, Profesor,” jawab Jian dengan nada yang mantap meski tangannya sedikit dingin. “Aku butuh bimbingan Anda dan portofolio riset yang kuat untuk mengajukan beasiswa penuh secara mandiri.”

Profesor Eun tampak tertegun sejenak mendengar kata ‘beasiswa penuh’. Ia tahu biaya sekolah kedokteran Jian tidaklah murah, dan dari rumor yang beredar, Jian memiliki penyokong finansial yang sangat kuat. Mengapa ia justru bersikeras mencari jalan mandiri?

“Beasiswa penuh?” Profesor Eun mengulangi. “Itu artinya kau harus mengalokasikan waktu hampir seluruh soremu di sini untuk mengolah data. Kau siap?”

“Aku siap. Aku akan menyesuaikan semua jadwalku,” jawab Jian tanpa ragu.

Profesor Eun mengangguk samar. “Baiklah. Datanglah besok sore setelah kelas terakhirmu. Kita lihat apakah ambisimu sebanding dengan ketahananmu di depan data yang membosankan.”

 

 

***

Lihat selengkapnya