WILL menahan napas sejenak. Tangannya yang sudah berada di tuas transmisi membeku saat pintu depan mobil terbuka. Biasanya Jian akan langsung masuk ke kursi belakang tanpa sepatah kata pun. Menjaga jarak sejauh mungkin darinya sebagai bentuk protes bisu. Namun hari ini, gadis itu justru duduk di sampingnya, di kursi penumpang depan.
Suasana di dalam mobil mendadak terasa berat. Jian mengeluarkan inhaler dari saku tasnya. Menghirupnya dengan cepat seolah oksigen di sekitarnya baru saja habis tersedot.
Will memerhatikannya dengan dahi berkerut. “Kau habis lari?” tanya Will. Nada suaranya antara heran dan curiga.
Jian tidak menjawab. Ia fokus mengatur napasnya yang pendek-pendek. Setelah merasa dadanya sedikit lega, ia menyimpan kembali benda itu ke dalam tas. Matanya menatap lurus ke kaca depan, namun sorotnya tajam dan penuh tuntutan.
“Aku perlu tahu sesuatu dari Ahjussi,” ucap Jian tiba-tiba.
Will mengernyit. Ekspresi Jian jauh lebih serius dari biasanya—ada semacam keputusasaan yang bercampur dengan tekad di sana. “Tentang?”
Tanpa suara, Jian mengeluarkan dua lembar foto yang ia selipkan di buku catatannya. Ia menyodorkannya ke hadapan Will. Foto-foto itu menunjukkan Jian saat masih kecil, jauh sebelum kontrak utang ayahnya ada.
Will terdiam selama beberapa detik, lalu desahan napas pendek keluar dari mulutnya. “Jadi kau berhasil mencuri dua foto itu dari album Mikail.”
Bahu Jian sedikit tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Will. “Sudah kuduga... Ahjussi pasti tahu sesuatu.”
Jian tidak menunggu jawaban Will. Ia segera mengambil ponselnya. Jarinya bergerak cepat mencari kontak yang hampir tidak pernah ia sentuh jika tidak terpaksa. Ia menekan tombol panggil. Hanya dalam dua nada sambung, panggilan itu diangkat.
“Jian? Apa terjadi sesuatu?” Suara Mikail terdengar di seberang sana. Berat dan sarat akan kekhawatiran.
Jian tertegun. Ia menyadari bahwa Mikail jarang mendengar ponselnya berdering karena panggilan darinya—kecuali saat keadaan mendesak seperti kecelakaan Joon waktu itu. Mendengar nada cemas Mikail, rasa bersalah yang asing tiba-tiba menusuk ulu hati Jian. Ia baru saja menemukan fakta bahwa pria ini telah menjaganya sejak ia berusia sepuluh tahun, dan ia membalasnya dengan kebencian selama bertahun-tahun.
Jian menelan ludah, mencoba menjernihkan suaranya yang mendadak parau. “Aku butuh Will Ahjussi untuk menemaniku ke suatu tempat. Ada buku yang ingin kubaca.”
“Tentu saja,” jawab Mikail tanpa ragu. Suaranya terdengar lebih tenang namun tetap lembut.
“Terima kasih,” bisik Jian. Suaranya tercekat di tenggorokan. Terdengar canggung dan gemetar.
Alis Will terangkat sebelah. Ia melirik Jian dengan tatapan penuh selidik. Ucapan terima kasih yang tulus—meskipun terdengar susah payah—adalah sesuatu yang sangat langka keluar dari bibir gadis itu untuk Mikail.
Setelah panggilan ditutup, Jian kembali terdiam, memeluk tasnya erat-erat. Will yang sudah bekerja cukup lama untuk memahami dinamika rumit di mansion itu, tidak banyak bertanya lagi. Ia tahu Jian sedang tidak ingin ke perpustakaan kampus. Dengan peka, Will memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari keramaian dan berhenti di depan sebuah area dermaga tua yang sepi, tempat di mana hanya ada suara ombak kecil yang menabrak tepian beton dan angin laut yang tenang—tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar.
Mesin mobil dimatikan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kabin. Will tidak turun, ia tetap duduk di balik kemudi. Memberikan ruang bagi Jian untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
“Kita sampai,” ujar Will tenang. “Katakan padaku, apa yang ingin kau ketahui sekarang?”
Jian menoleh perlahan. Matanya yang memerah menatap Will dengan sorot yang kalut. “Ceritakan semuanya. Tentang bagaimana Mikail bisa mengenalku dan apa sebenarnya yang disepakatinya bersama ayahku.”
Will terdiam sebentar. Jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang pelan sebelum akhirnya ia menghela napas panjang. Ia menatap lurus ke arah dermaga yang mulai menggelap, lalu suara beratnya memecah keheningan di dalam mobil. “Ini cerita yang pernah kudengar sebelumnya dari ayahku.”
***
Seoul, empat belas tahun yang lalu.
Salju pertama tahun itu tidak turun dengan lembut. Ia jatuh seperti abu dingin yang berusaha memadamkan sisa kehidupan di kota. Namun, bagi laki-laki itu, musim dingin sudah dimulai jauh sebelum salju menyentuh tanah. Di dalam ruang duka yang pengap oleh aroma dupa, ia merasa dunianya baru saja runtuh.
Will melirik Jian sejenak sebelum melanjutkan, “Mikail hanya duduk diam di sana. Dia tidak mengerti apa-apa.”
Ia duduk bersimpuh di lantai kayu. Menatap kosong pada sepasang bingkai foto yang dilingkari pita hitam. Matanya kering dan membeku. Seoul terasa seperti planet asing yang kejam. Ia tidak mengerti prosedur duka ini, ia tidak paham bisik-bisik pelayat di sekitarnya. Ia tidak mengerti apa pun.