MOBIL hitam itu berhenti dengan halus di depan pilar besar mansion. Will turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Jian dengan sikap hormat yang biasa ia tunjukkan.
Jian melangkah keluar. Kakinya terasa berat menyentuh lantai marmer yang dingin. Namun, baru beberapa langkah menjauh dari mobil, ia tiba-tiba berhenti. Sebuah kepingan memori yang selama ini terkubur di sudut kepalanya mendadak muncul ke permukaan dengan sangat jernih.
Jian berbalik perlahan. Menatap Will yang masih berdiri tegak di samping pintu mobil.
“Akhirnya aku ingat kapan kali pertama aku pernah melihat Ahjussi,” ucap Jian. Suaranya tenang namun menuntut.
Will diam mendengarkan. Wajahnya datar, namun matanya menatap Jian dengan perhatian penuh.
“Ahjussi adalah orang yang menabrakku di koridor sekolah setahun lalu,” lanjut Jian. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Will. “Apa itu bagian dari memata-mataiku?”
Will memasukkan tangannya ke saku celana. Sikapnya tetap tenang. “Bukan aku yang mengambil seluruh potretmu. Itu tugas orang suruhan Mikail yang lain. Mereka bergerak lebih tak terlihat dariku.”
Jian menunggu dengan ekspresi tidak sabar. Will menarik napas sesaat, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikan detail itu. “Aku bersama Mikail untuk urusan bisnis.”
“Aku tahu itu bukan urusan bisnis biasa,” sela Jian cepat. “Mikail tidak akan membuang waktunya di sekolah menengah hanya untuk urusan sepele.”
Will menaikkan satu alis, membenarkan. “Daehan Ventures sedang melakukan audit untuk program Digital Safety Grant—hibah sistem keamanan terpadu yang diberikan Mikail ke sekolahmu. Hari itu kami baru saja selesai memeriksa ruang kendali CCTV sekolah yang baru dipasang.”
Will menjeda, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Alasan kenapa aku tiba-tiba keluar dari ruangan itu... adalah karena Mikail ada di sana. Aku sengaja menabrakmu agar kau tertahan di depan pintu sedikit lebih lama, supaya Mikail bisa melihat wajahmu dengan jelas dari dalam.”
Jian terpaku. Ia teringat betapa bingungnya ia saat itu, karena pria yang menabraknya tampak begitu tenang meski ia yang bersalah karena keluar ruangan tanpa melihat-lihat. Ternyata, di balik pintu kayu yang tertutup itu, ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan kerinduan yang ia sendiri tidak pernah tahu keberadaannya.
“Dia ada di sana,” bisik Jian, “untuk melihatku sebentar?”
“Dia hanya ingin memastikan kau terlihat sehat,” tambah Will. “Sekarang masuklah. Dia pasti sudah menunggumu di dalam.”