“KENAPA Ahjussi membawaku ke sini?” tanya Jian sementara ia mengedarkan pandangannya berkeliling dengan bingung.
“Kau ingin tahu siapa yang menabrak ayahmu hari itu, bukan?” sahut Will sambil terus melangkahkan kakinya dengan tegas.
Jian terlihat bingung sekaligus waswas, namun ia tidak bertanya lagi. Ia terus mengikuti langkah lebar Will memasuki koridor kantor polisi yang lengang. Begitu Will berhenti di depan ruang besuk, Jian melihat seorang pria muda berusia akhir dua puluhan duduk di sana. Pria itu menunduk dalam, bahunya gemetar, tampak hancur oleh penyesalan.
Kening Jian berkerut halus. Ia merasa pernah melihat wajah itu di suatu tempat, namun ingatan traumatis hari itu membuatnya sulit berpikir jernih.
“Ini....”
“Bae Min-ho,” sela Will dengan nada datar. “Dialah orang yang menyebabkan ayahmu celaka.”
Jian terbelalak. Satu tangannya terangkat menutupi mulutnya sendiri. Ia menoleh dan menatap pria muda di balik kaca itu dengan tampang syok luar biasa.
“Aku benar-benar minta maaf,” gumam pria itu lirih melalui interkom. “Aku memacu motor terlalu cepat karena terburu-buru, dan saat ayahmu menyeberang... motorku tergelincir. Aku tidak bisa mengendalikannya. Aku benar-benar tidak sengaja....”
Jian segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin mendengar satu kata pun lagi yang keluar dari mulut pria itu. Kilatan ingatan mendadak menghantamnya. Ia ingat sekarang. Ia pernah melihat foto pria ini terlampir dalam sebuah berkas riwayat hidup yang terselip di dalam map kerja Mikail beberapa waktu lalu.
Dunia seolah berputar di bawah kaki Jian. Ternyata bukan Mikail pelakunya. Selama ini ia mengira Mikail sengaja merencanakan ‘kecelakaan’ itu untuk menyingkirkan ayahnya agar ia tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya. Ternyata bukan Mikail, melainkan pria muda yang malang ini.
Apa yang sudah kulakukan? Batin Jian menjerit. Selama ini ia sudah menuduh orang yang salah. Ia telah memandang Mikail sebagai monster jahat, padahal pria itu bahkan tidak berusaha membela diri sedikit pun saat Jian melontarkan tuduhan-tuduhan brutal padanya. Mikail justru menyembunyikan identitas pelaku ini—mungkin untuk melindunginya dari kenyataan yang lebih menyakitkan.
“Jian?” tegur Will saat melihat Jian mulai mengusap pelipisnya dengan gusar. Wajahnya terlihat pucat.
Jian menoleh dan menatap Will dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah yang mengimpit. “Aku mau pulang sekarang.”