JIAN memegangi kepalanya sambil memejamkan mata erat-erat. Suara penjelasan Will di mobil dan pengakuan Bae Min-ho di kantor polisi masih terdengar tumpang-tindih di benaknya. Membuat kepalanya terasa pening luar biasa. Mendadak ia didera perasaan asing yang tidak dipahaminya—campuran antara rasa bersalah yang menyesakkan dan debaran aneh yang tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya.
Ketika melewati ruang kerja Mikail di lantai dua, langkahnya terhenti. Ia menatap celah pintu yang sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya lampu kuning hangat jatuh ke lantai marmer. Kepala pelayan bilang Mikail belum keluar dari ruangannya sejak mereka tiba, bahkan belum menyentuh teh malamnya. Namun, Jian tidak mendengar suara apa pun dari dalam.
Didorong rasa penasaran dan keinginan untuk melihat pria itu setelah semua kenyataan terungkap, Jian mendekati pintu. Ia mendorongnya perlahan, hampir tanpa suara, dan masuk ke dalam.
Didapatnya Mikail sudah tertidur di meja kerjanya yang luas. Tangan kirinya tertekuk sebagai alas kepala, sementara tangan kanannya masih memegangi tumpukan dokumen audit yang tampak membosankan. Lampu meja yang masih menyala menyoroti separuh wajahnya. Menciptakan bayangan yang dramatis.
Jian berdiri mematung di sisi Mikail, hanya menatapnya dalam diam. Sampai kemudian, seolah digerakkan oleh dorongan yang tak terbendung, satu tangannya terulur. Jemarinya membelai rahang tegas Mikail dengan sangat lembut. Jika sedang tidur seperti ini, gurat dingin dan otoritas yang biasanya menyelimuti wajah itu menghilang sepenuhnya. Menyisakan raut yang damai dan tenang.
Pria seperti Mikail sebenarnya sangat mudah untuk dicintai. Dengan wajah tampan yang maskulin, mata tajam yang kini terpejam, dan segala kekuasaan yang dimilikinya, ia tidak perlu menunggu gadis seperti Jian selama empat belas tahun. Ada ribuan wanita di luar sana yang pasti bersedia mengantre untuk mendapatkan sedikit perhatiannya. Namun, pria ini justru memilih untuk bersembunyi di balik nama Mi-young dan berdiri di sudut perpustakaan yang dingin demi dirinya.
“Harusnya aku mengucapkan terima kasih lebih awal,” gumam Jian lirih. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Mikail yang terlelap dengan rasa sedih yang mendalam.
Jian segera menarik tangannya saat kepala Mikail bergerak pelan, mencari posisi tidur yang lebih nyaman. Sedetik kemudian, ia melangkah pergi sejenak, lalu kembali dengan membawa sebuah selimut wol tebal. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang pemilik rumah, ia menyampirkan selimut itu di punggung lebar Mikail.
Jian menatapnya sekali lagi, memastikan pria itu hangat, sebelum berbalik keluar dengan hati yang sedikit lebih ringan namun penuh tanya tentang apa yang akan ia katakan pada Mikail besok pagi.
***
Setelah menyelimuti Mikail di ruang kerjanya, Jian kembali ke kamarnya dengan perasaan berkecamuk. Ia melihat jam di dinding—pukul tujuh malam. Ia baru saja akan merebahkan diri ketika ponselnya bergetar hebat. Pesan dari grup angkatannya.
Jian, kau di mana? Kami sudah memesan tempat di kedai. Jangan bilang kau tidak datang.
Jian menghela napas. Ia sudah berjanji, dan Mikail pun sudah memberinya izin hingga jam sebelas malam. Dengan perasaan yang tidak menentu, ia mengganti pakaiannya, mencoba menghapus sembab di matanya dengan riasan tipis.
Saat ia menuruni tangga, ia berpapasan dengan Will yang sudah siap dengan kunci mobil di tangannya.