JIAN terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut nyeri pada keesokan harinya. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, memegangi pelipisnya yang pening luar biasa. Sejenak ia memejamkan mata. Mencoba mengumpulkan kepingan ingatan semalam yang terasa buram dan tumpang tindih. Begitu menyadari ia sudah berada di kamarnya sendiri, ia mengembuskan napas lega. Namun, perasaan lega itu hanya bertahan sedetik.
“Kau sudah bangun?”
“Ahjussi!” Jian refleks memekik karena terkejut. Jantungnya mencelus mendapati Mikail sudah berdiri di dekat jendela besar yang tirainya tersingkap lebar.
Mikail menoleh, dan sebuah senyum geli yang sangat tipis muncul di wajahnya. Ia merasa lucu, bukan hanya karena reaksi terkejut Jian, namun karena sudah lama sekali gadis itu tidak memanggilnya dengan sebutan Ahjussi. Mendengarnya kembali setelah sekian lama terasa seperti potongan memori lama yang kembali pulang.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Jian dengan suara parau.
“Menunggumu bangun,” sahut Mikail datar, namun nadanya jauh lebih lembut dari biasanya. Ia berjalan pelan mendekati ranjang, lalu menyodorkan sebuah botol kecil pereda pengar.
Jian menerimanya dengan perasaan malu yang mulai menjalar hingga ke ujung telinganya. Saat Jian meminum cairan itu, Mikail dengan telaten menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Jian. Setelah itu, Mikail duduk di tepi ranjang. Kehadiran pria itu yang begitu dekat mendadak membuat Jian gugup luar biasa.
Mikail menatap Jian lurus-lurus, seolah ingin menembus isi kepalanya. “Jadi... apa yang membuatmu takut jatuh cinta padaku?” tanyanya to the point.
Jian tertegun. Gelas di tangannya nyaris terlepas. “A-apa?”
Mikail tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan suara rendah, ia menirukan ucapan Jian semalam di mobil—tentang rasa takutnya, tentang pengakuan bahwa dia tidak bisa lagi membenci Mikail, dan tentang perasaannya yang mulai berubah.
Jian mematung. Wajahnya memucat seketika saat menyadari bahwa ia telah membeberkan seluruh isi hatinya dalam keadaan mabuk. Keheningan di kamar itu terasa menyesakkan. Mikail tidak melepaskan pandangannya. Menanti kepastian yang sudah ia damba selama empat belas tahun.
“Apa itu artinya... kau mulai menyukaiku?” tanya Mikail lagi. Suaranya melembut namun sarat akan tuntutan.
Di dalam kepala Jian, badai emosi berkecamuk. Ia teringat ayahnya, rasa bersalahnya, dan egonya yang merasa terhina karena telah kalah dan jatuh cinta pada pria yang ia anggap musuh. Rasa takut akan perubahan hidupnya membuat Jian melakukan pertahanan diri yang brutal.
“Itu tidak mungkin,” gumam Jian sambil memalingkan wajah. “Aku tidak mungkin menyukai orang sepertimu.”
Mikail terdiam sesaat. Senyum geli yang tadi sempat tersirat di wajah Mikail lenyap sepenuhnya. “Memangnya aku ini orang seperti apa di matamu, Jian?”
Jian menoleh. Menatap tepat ke manik mata Mikail yang terluka. “Kau hanya pria gila yang terobsesi membeli hidup orang lain.” Suaranya bergetar hebat. “Kau bahkan tidak punya hati untuk dicintai. Orang sepertimu....”
Jian sadar ucapannya keterlaluan, namun dorongan defensif dalam dirinya justru membuatnya semakin tajam. “Orang sepertimu tidak akan pernah tahu rasanya dicintai dengan tulus. Kau hanya tahu cara memiliki, bukan dicintai.”
Seketika itu juga, sorot matanya yang tadi hangat perlahan meredup. Berganti dengan sorot mata yang begitu hancur. Kalimat itu telak menghantam bagian terdalam jiwa Mikail yang selama empat belas tahun ia jaga hanya untuk gadis ini.
“Begitu rupanya,” gumam Mikail lirih, suaranya nyaris hilang. Ia mengerjap berkali-kali, berusaha menahan sesuatu di matanya agar tidak jatuh di depan Jian.
“Kau benar,” lanjut Mikail sambil memalingkan wajah ke arah jendela. Menatap kosong ke langit luar. “Seharusnya aku sadar diri. Bagaimana mungkin iblis sepertiku berharap bisa mendapatkan tempat di hati orang sepertimu.”
Mikail menarik napas yang terdengar sangat berat. “Selama ini, aku selalu berpikir bahwa jika aku melindungimu dengan cukup baik, suatu hari nanti kau mungkin akan melihatku sebagai manusia.”