The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #29

Batas Kepedulian

PAGI itu, mansion terasa semakin kosong. Di lorong, Jian tidak sengaja bertemu Will yang sedang membawa setelan pakaian formal berwarna hitam pekat.

“Apa Ahjussi melihat Mikail?” tanya Jian ragu.

“Mikail sedang menuju Andong, ke kediaman neneknya dari pihak Ayah,” jawab Will tenang. “Besok adalah hari peringatan kematian orang tuanya. Dia akan melakukan ritual jesa[1] di sana.”

Jian tertegun. Ia baru sadar betapa sedikit yang ia ketahui tentang beban yang dipikul Mikail. Mengingat pengabaian Mikail beberapa hari terakhir, Jian tahu ia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.

“Bisakah Ahjussi mengantarku ke sana? Aku ingin menemuinya. Aku harus meminta maaf,” pinta Jian dengan nada memohon yang tidak bisa ditolak.

Perjalanan ke Andong memakan waktu beberapa jam. Namun bagi Jian, waktu terasa berjalan sangat lambat. Begitu mereka sampai, sebuah hanok[2] yang megah dan kuno berdiri dengan anggun di antara pepohonan yang mulai menguning. Udara di sini sangat dingin dan sunyi, hanya suara gesekan daun yang terdengar.

Di dalam hanok, suasana terasa sakral. Aroma dupa mulai tercium. Kwon Seul-gi, yang mengenakan hanbok[3] hitam sederhana, terlihat sedang membantu menata meja persembahan. Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan membisikkan sesuatu.

“Ada tamu yang datang, Agassi,” lapor pelayan itu.

Seul-gi tersenyum tipis. “Biar aku yang menemuinya.”

Begitu melangkah ke gerbang depan, mata Seul-gi berbinar melihat sosok gadis yang tampak canggung berdiri di samping Will.

“Jian? Kau di sini?” sapa Seul-gi hangat, seolah sudah sangat akrab. Ia mengabaikan ekspresi terkejut di wajah Jian yang sama sekali tidak menyangka akan bertemu wanita itu di sini.

“Masuklah,” ajak Seul-gi ramah. “Will, kau juga masuklah.”

Jian yang kebingungan menoleh ke arah Will yang berjalan di sampingnya sedikit ke belakang.

Menyadari kebingungan itu, Will berbisik rendah, “Sepupu Mikail dari pihak Ayah.”

Mendengar itu, Seul-gi menoleh dan tertawa kecil. “Ah, benar. Maaf aku tidak sempat mengenalkan diri secara resmi kemarin. Ayo, ritualnya akan segera dimulai.”

Mereka berjalan melewati lorong kayu yang terbuka menuju aula utama, tempat di mana meja jesa telah ditata penuh dengan makanan persembahan.

“Nenek, Mikail... Jian di sini,” ujar Seul-gi saat mereka sampai di ambang pintu aula.

Mendengar seruan itu, Mikail yang sedang berlutut di depan altar tersentak. Ia menoleh cepat. Matanya membelalak tak percaya melihat Jian berdiri di sana dengan wajah sembap dan kedinginan. Di sampingnya, seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi berhenti menata dupa dan tersenyum lembut.

“Oh, William juga datang,” ucap Nenek dengan suara yang tenang namun berwibawa.

Will segera membungkuk hormat dengan sangat dalam, diikuti oleh Jian yang melakukan hal serupa meskipun hatinya berdebar tidak karuan. Jian semakin bingung. Kenapa nenek Mikail menatapnya seolah sudah mengenalnya sejak lama?

Nenek bangkit berdiri perlahan, mendekati Jian lalu mengelus pundaknya. “Akhirnya kau datang juga. Ayo, bergabunglah bersama kami. Kita lakukan ritual ini bersama-sama.”

Lihat selengkapnya