DI dalam mobil yang melaju membelah kegelapan jalan tol menuju Seoul, Jian hanya bisa bersandar lesu di kaca jendela. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih hangat daripada sikap Mikail tadi. Namun tetap saja, hati Jian terasa seperti sedang diperas.
“Kenapa dia harus sedingin itu? Benar-benar keterlaluan,” gumam Jian, lebih kepada dirinya sendiri. “Dia bahkan tidak mau menatapku. Aku lebih baik dimarahi daripada diperlakukan seperti pajangan rusak begitu. Ahjussi, apa dia benar-benar sudah tidak mau melihatku?”
Will yang sedang memegang kemudi tetap menatap lurus ke aspal. Wajahnya datar seperti biasanya. “Kalau aku jadi Mikail, mungkin aku akan melakukan hal yang sama.”
Jian menoleh, cemberut. “Ahjussi di pihak siapa sebenarnya?”
“Aku di pihak orang yang logis,” jawab Will tanpa ekspresi. “Empat belas tahun dia mencoba bicara padamu dan kau selalu menjawabnya dengan wajah ingin muntah. Sekarang saat dia melakukan hal yang sama, kau malah merasa tersiksa? Itu namanya karma, Jian. Selamat menikmati.”
Jian terdiam. Kata-kata jujur bin pedas dari Will barusan membuatnya merasa semakin kecil. “Tapi tetap saja, mengabaikanku seolah aku ini hantu itu sangat jahat.”
“Begitulah yang kau lakukan padanya dulu,” potong Will singkat sambil memutar kemudi dengan santai. “Mikail itu sudah profesional dalam urusan ditolak. Bedanya, kali ini dia akhirnya sadar kalau energinya lebih berguna untuk mengurus saham daripada mengurus gadis keras kepala sepertimu.”
Jian menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Will memang sarkas, namun benar. Selama ini Mikail yang mengejarnya, dan sekarang keadaan berbalik. Sebuah ide gila mendadak terlintas di kepala Jian. Ia tahu ada satu hal yang bisa menghancurkan tembok pertahanan Mikail dalam sekejap.
“Kali ini dia pasti akan menemuiku,” bisik Jian. Suaranya berubah yakin namun terdengar getir.
Will menoleh waspada. Keningnya berkerut. “Apa yang kau rencanakan, Ryu Jian?”
Jian tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan.
***
Udara musim dingin mencapai titik ekstrem. Suhu anjlok di bawah nol derajat, membuat setiap embusan napas berubah menjadi uap putih yang tebal. Jian berdiri di puncak tangga darurat gedung kampus yang sunyi. Angin kencang menerpa wajahnya, menusuk hingga ke tulang.
Jian mengatur pernapasannya yang mulai terasa berat karena udara beku. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan inhaler dari sakunya. Ia menatapnya sebentar, lalu menjatuhkan benda itu ke celah tangga yang gelap. Membiarkannya terjatuh jauh ke lantai dasar yang tak terjangkau.
Lalu, Jian mulai berlari.
Ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Memaksakan tubuhnya untuk bekerja keras di bawah tekanan udara dingin yang ekstrem. Begitu tiba di luar gedung universitas, sesuai rencananya, asma Jian kambuh hebat. Paru-parunya seolah mengecil, menolak masuknya oksigen. Setiap tarikan napasnya kini menghasilkan suara mengi yang menyakitkan.