The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #31

Runtuhnya Benteng Terakhir

KEHENINGAN di bangsal rumah sakit itu terasa begitu berat. Mikail menatap Jian dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan yang meluap dan rasa sakit yang mendalam. Ia sadar, gadis di depannya ini tidak pernah benar-benar berubah. Jian tahu persis di mana letak kelemahan Mikail dan ia tidak ragu untuk menusuk tepat di titik itu.

“Jangan pernah lakukan itu lagi, Jian. Jangan pernah,” bisik Mikail parau.

Jian mengangguk pelan. Menatap Mikail dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Membiarkan masker oksigennya tergeletak di pangkuan. Ia tahu ia telah menang.

Kemarahan Mikail perlahan runtuh, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Ketakutan yang ia rasakan saat mendengar suara angin di telepon tadi telah menghisap seluruh energinya. Ia tidak bisa lagi berpura-pura dingin. Tembok yang ia bangun selama berhari-hari hancur berkeping-keping hanya dengan satu tatapan dari Jian.

Mikail menghela napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih tidak karuan. “Syukurlah kau baik-baik saja.”

Saat Mikail hendak berdiri dari tepi ranjang, hendak berpindah ke kursi kayu di sana, Jian refleks menahan lengan pria itu dengan erat.

“Di sini saja,” pinta Jian lirih.

Mikail tertegun, lalu perlahan duduk kembali. Ia menatap tangan Jian yang masih melingkar di lengannya, seolah tidak percaya gadis itu kini menahannya untuk tetap tinggal.

“Aku sudah tahu semuanya,” suara Jian bergetar. “Will Ahjussi menceritakan segalanya padaku. Tentang krisan itu... tentang bagaimana Ahjussi menjagaku selama empat belas tahun ini tanpa pernah membiarkanku tahu.”

Jian mendongak, menatap mata Mikail yang tampak lelah. “Kenapa tidak pernah memberitahuku? Ahjussi membiarkanku mengutukmu, membencimu, dan menyebutmu iblis... padahal Ahjussi melakukannya untukku.”

Mikail membuang muka sejenak. Rahangnya mengeras. “Aku hanya tidak ingin kau merasa berhutang sesuatu padaku.”

Ia kembali menatap Jian, kali ini dengan sorot mata yang begitu tulus sekaligus pasrah. “Kau boleh tidak menyukaiku, Jian. Kau boleh menolak kehadiranku atau tidak mencintaiku. Tapi kumohon... tolong jangan membenciku. Aku tidak yakin bisa menanggung kebencianmu terlalu lama.”

Mendengar pengakuan itu, hati Jian serasa hancur. Pria ini, yang ditakuti banyak orang, justru memohon hal sekecil itu padanya.

Jian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik napas pendek yang masih sedikit terasa berat, lalu maju dan memeluk leher Mikail dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu, terisak pelan.

Tubuh Mikail menegang sesaat. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu memiliki kendali atas segalanya itu merasa lumpuh. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Jian akan menjadi pihak yang pertama kali memangkas jarak di antara mereka dan memeluknya seerat ini.

“Aku tidak membenci Ahjussi,” bisik Jian di sela tangisnya. “Aku hanya terlalu bodoh. Maafkan aku.”

Jian melonggarkan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Mikail dalam jarak yang sangat dekat. Dalam keheningan bangsal itu, Jian perlahan mendekat dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Mikail. Bukan ciuman yang menuntut, melainkan sebuah pernyataan bahwa mulai detik ini, ia berhenti berlari.

Mikail membeku. Matanya membelalak sebelum akhirnya terpejam perlahan. Ia membalas ciuman itu dengan penuh perasaan, seolah seluruh beban selama belasan tahun ini terangkat seketika.

 

 

***

 

 

Mikail dan Jian melangkah keluar dari lobi rumah sakit. Satu tangan Mikail menjinjing tas kuliah Jian, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari gadis itu. Genggamannya begitu hangat, seolah ia sedang memastikan bahwa Jian benar-benar ada di sana.

Namun, langkah mereka terhenti saat seorang pria yang mengenakan penyangga leher ringan menghampiri dengan wajah bingung dan cemas. Itu adalah pemilik mobil yang ditabrak Mikail tadi.

“Ahjussi, tunggu!” seru pria itu. “Anda tadi bilang ambil saja mobilnya, tapi aku tidak mengerti maksudnya. Kita harus bicara soal prosedur asuransi dan leherku juga cedera.”

Lihat selengkapnya