The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #32

Pergi untuk Kembali

SIANG itu, koridor fakultas kedokteran SNU terasa lebih bising dari biasanya, namun Jian seolah berada di dalam ruang hampa. Ia baru saja keluar dari kelas anatomi ketika ponsel di saku mantelnya bergetar pendek.

Sebuah notifikasi email muncul di layar.

 

Subject: Admissions Decision – Harvard Medical School (HMS)

 

Langkah Jian terhenti seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Selama ini, Harvard adalah ambisinya untuk ‘lari’—sebuah pintu keluar yang ia bangun dengan keringat dan air mata agar ia bisa bebas dari jangkauan Mikail. Namun sekarang, saat genggaman tangan Mikail baru saja terasa hangat, surat ini membawa rasa yang berbeda.

Dengan jemari yang gemetar hebat, ia membuka portal aplikasi tersebut. Di sana, di bawah logo resmi yang megah, kalimat pertamanya membuat napasnya tertahan.

 

Congratulations, Jian Ryu. We are pleased to inform you that you have been admitted to the MD Program at Harvard Medical School...

 

Dunia di sekitar Jian seolah melambat. Ada rasa bangga yang meledak di dadanya. Sebuah validasi atas seluruh malam yang ia habiskan untuk belajar hingga jatuh sakit, serta pembuktian bahwa ia bukan sekadar ‘gadis titipan’ di bawah lindungan Mikail. Namun, di saat yang sama, ada rasa sesak yang tiba-tiba mengimpit. Pergi ke Boston berarti jarak ribuan mil, perbedaan waktu belasan jam, dan perpisahan yang nyata.

“Ryu Jian!”

Sebuah suara yang tenang namun tegas memanggilnya. Jian mendongak dan melihat Profesor Eun berjalan ke arahnya. Pria itu melepaskan kacamata bacanya, menatap Jian dengan binar mata yang sangat cerah.

“Profesor,” sapa Jian pelan, mencoba menstabilkan suaranya.

“Kau sudah membukanya, bukan?” Profesor Eun tersenyum lebar, sesuatu yang jarang beliau lakukan. “Dekan dari Boston baru saja mengirimkan pesan pribadi kepadaku. Mereka sangat terkesan dengan ketajaman analisismu dalam tes wawancara kemarin. Kau mendapatkan beasiswa penuh, Jian. Kau berhasil menembus salah satu lubang jarum tersulit di dunia kedokteran.”

Jian menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. “Terima kasih, Profesor. Terima kasih sudah membimbingku selama ini.”

“Jangan menangis karena sedih, kau harus bangga,” ucap Profesor Eun dengan nada kebapakan. “Aku tahu perjalananmu tidak mudah, tapi ini adalah tiketmu menuju masa depan yang kau impikan. Segera urus dokumen keberangkatanmu, mereka menunggumu di semester depan.”

Setelah Profesor Eun pergi, Jian berdiri mematung di tengah keramaian mahasiswa yang berlalu-lalang. Ia menatap layar ponselnya lagi. Pengumuman itu terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memenangkan mimpinya. Di sisi lain, ia menyadari satu hal yang menyakitkan.

Ia tidak lagi ingin lari dari Mikail.

Jian segera merogoh ponselnya, hendak menekan nomor Mikail, namun ia berhenti. Ia tidak ingin mengatakannya lewat telepon. Ia ingin melihat reaksi pria itu. Ia ingin tahu, apakah bagi Mikail, kesuksesan Jian adalah sebuah kemenangan, atau justru awal dari kehilangan yang paling ia takuti.

 

 

***

 

 

Malam itu, ruang kerja Mikail hanya diterangi oleh lampu meja yang berpendar kekuningan, menciptakan suasana tenang yang menyelimuti seluruh ruangan. Jian sedang duduk di lantai, bersandar pada sofa beludru dengan buku-buku tebal dan catatan yang berserakan di sekitarnya. Fokusnya sepenuhnya tersita oleh materi neurologi yang sedang ia pelajari.

Di balik meja kerjanya, Mikail sesekali mencuri pandang ke arah Jian. Melihat gadis itu mengerutkan kening atau menggigit ujung pulpennya membuat Mikail merasa tenang sekaligus bangga. Tanpa suara, Mikail berdiri dan melangkah keluar ruangan.

Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan baki di tangannya. Ia membawakan segelas susu hangat dan sepiring kecil tteok-kkochi yang dilumuri saus madu—camilan malam yang tidak terlalu berat namun cukup untuk memberi energi. Mikail meletakkan baki itu di meja di samping buku-buku Jian. Jian mendongak, matanya sedikit terkejut namun kemudian melunak. Sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya.

Lihat selengkapnya