The Chrysanthemum Promise

Yooni SRi
Chapter #33

Melintasi Zona Waktu

BOSTON masih diselimuti kegelapan yang pekat saat Jian melangkah gontai keluar dari koridor rumah sakit. Rambutnya sedikit berantakan, dan kantung mata yang mulai menghitam menjadi saksi bisu betapa kerasnya sif jaga malam selama dua belas jam yang baru saja ia lalui. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia segera merapatkan mantelnya, mencoba mengusir dingin yang menusuk.

Sesaat kemudian, ia menyalakan ponsel yang sejak tadi mati. Sebuah pesan langsung masuk tepat ketika layarnya menyala.

Cepat pulang dan tidur. Pastikan inhaler ada di samping bantalmu. Jangan membantah.

Jian tersenyum kecil. Jarinya yang kaku mengetik balasan singkat sebelum ia melangkah masuk ke gerbong kereta bawah tanah yang bergetar. Kepalanya bersandar pada jendela kaca yang dingin, dan dalam hitungan detik, ia langsung tertidur pulas dalam perjalanan pulang.

Di sisi lain, fajar baru saja menyentuh cakrawala Seoul. Mikail berdiri tegak di balkon apartemen mewahnya. Memandangi matahari terbit yang memantul pada gedung-gedung pencakar langit. Ia sudah berpakaian rapi dengan jas kerja yang kaku, menyeruput kopi hitamnya sambil menatap ponsel. Begitu balasan dari Jian terbaca, gurat tegang di wajahnya sedikit mengendur. Ia menghela napas lega, meletakkan cangkirnya, dan siap menghadapi hiruk-pikuk kantor dengan perasaan yang lebih tenang.

Siang harinya di Boston, suasana berubah menjadi sunyi yang menekan. Jian berada di perpustakaan kampus, dikelilingi oleh tumpukan buku tebal dan jurnal kedokteran yang seolah tak ada habisnya. Ia menatap layar laptop dengan mata merah karena kelelahan, sesekali memijat pelipisnya yang berdenyut. Di sampingnya, secangkir kopi yang sudah dingin dibiarkan begitu saja. Tangannya bergerak menulis catatan rumit, namun pikirannya sesaat melayang ketika ia tanpa sadar menyentuh wallpaper ponselnya yang menunjukkan foto Mikail.

Secara bersamaan di Seoul, Mikail sedang berada di tengah ruang rapat yang tegang. Ia memimpin presentasi di depan jajaran direksi dengan gestur yang tegas dan suara yang mendominasi. Namun, di tengah argumen sengit mengenai proyek baru, Mikail terdiam sejenak. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, menghitung perbedaan waktu, dan membayangkan Jian yang mungkin sedang berjuang di balik meja perpustakaannya. Meski raga mereka terpisah ribuan mil, fokus mereka tetap sama. Menyelesaikan tanggung jawab demi masa depan yang akan mereka bagi bersama.

 

 

***

 

 

Musim gugur akhirnya tiba sepenuhnya di Boston. Mengubah taman kampus menjadi lautan warna merah dan oranye yang memukau. Jian berjalan melewati pepohonan yang berguguran bersama seorang teman wanita, tertawa lepas saat mereka mencoba mengambil foto selfie di tengah suasana yang indah itu. Jian segera mengirimkan foto tersebut ke Seoul. Di dalam mobil mewahnya yang tengah membelah kemacetan, Mikail menerima notifikasi itu. Ia menatap layar ponsel cukup lama, mengamati tawa Jian, sebelum akhirnya membalas dengan emoji hati yang singkat namun penuh arti.

Beberapa hari kemudian, udara Boston terasa jauh lebih sejuk. Jian baru saja keluar dari gedung kuliah. Mengobrol santai dengan seorang teman pria seangkatannya. Mereka berjalan perlahan menuju taman kampus untuk membahas tugas tambahan.

“Kopi di Harvard Square itu benar-benar akan menyelamatkan nyawamu, Ryu,” seloroh temannya sambil tertawa renyah.

“Aku akan mencobanya kalau aku punya waktu untuk bernapas,” sahut Jian sambil tersenyum. Namun, saat ia mendongak untuk menyeberangi jalur pejalan kaki, langkahnya terhenti secara mendadak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di bawah pohon ek raksasa yang daunnya sudah setengah gugur, Mikail berdiri tegak. Ia memakai mantel wol panjang berwarna gelap yang elegan dengan syal kasmir yang melilit lehernya. Sosoknya tampak sangat kontras di tengah kerumunan mahasiswa yang berpakaian santai. Mikail menatap Jian dengan senyum tipis yang penuh kerinduan.

Temannya menoleh bingung. “Ryu? Kau kenapa?”

Jian tidak menjawab. Matanya terpaku pada sosok pria itu. Mikail mengangkat tangannya yang memegang sebuah tas karton cokelat ke udara, seolah menunjukkan harta karun yang ia bawa dari jauh. Ia mengedikkan dagunya sedikit, memberi kode agar Jian mendekat.

Lihat selengkapnya