UDARA Seoul di pagi hari terasa segar saat Jian melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional Bandara Incheon. Matanya memindai kerumunan hingga tertuju pada sosok pria dengan setelan hitam rapi yang berdiri tegak tak jauh dari barisan penjemput.
Itu Will. Wajahnya tetap datar seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi, namun binar di matanya tampak sedikit lebih cerah saat melihat Jian mendekat.
“Selamat datang kembali, Dokter Ryu,” ucap Will pelan. Ia membungkuk hormat, lalu mengambil alih koper besar di tangan Jian dengan gerakan yang luwes.
“Terima kasih, Ahjussi. Dan tolong, panggil saja Jian,” sahut Jian sambil tersenyum tipis. “Mikail benar-benar tidak tahu kan kalau aku pulang hari ini?”
“Mikail mengira kau masih ada urusan sampai besok,” jawab Will singkat sambil membukakan pintu mobil untuk Jian. “Kejutan ini akan sangat... menarik bagi keseimbangan emosinya.”
Jian terkekeh pelan mendengar gaya bicara Will yang kaku namun menyimpan sedikit selera humor. Begitu mobil mulai melaju membelah jalanan Seoul, Jian menatap keluar jendela sebelum kemudian menoleh ke arah Will.
“Ahjussi, sebelum ke kantor Mikail... bisakah kita mampir ke rumah ayahku sebentar?”
***
Mobil berhenti di depan sebuah pagar rumah yang sangat Jian kenali. Ia turun dengan perasaan campur aduk. Bersiap melihat bangunan yang mungkin sudah kusam atau taman yang tak terurus. Namun, Jian justru terpaku di tempatnya berdiri.
Rumah mendiang ayahnya tampak masih sangat terawat. Cat dindingnya bersih, semak-semak di halaman dipangkas rapi, dan bunga-bunga di pot kecil tampak segar seolah ada tangan yang menyiraminya setiap pagi. Segalanya persis seperti saat ayahnya masih ada di sana.
“Mikail...” gumam Jian pelan.
“Mikail membayar orang untuk datang ke sini setiap minggu,” Will menjelaskan dari belakang, suaranya melembut. “Dia bilang, dia tidak ingin kau merasa kehilangan rumah saat kau kembali nanti. Dia ingin tempat ini tetap menjadi tempat yang paling nyaman untukmu berkunjung.”
Jian menyentuh pagar besi yang dingin itu, air matanya perlahan jatuh. Mikail tidak hanya menunggunya di masa depan, pria itu juga menjaga masa lalunya agar tetap hidup. Perhatian Mikail yang sedalam ini membuat Jian merasa sangat dicintai, lebih dari yang bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
***
Setengah jam kemudian, Jian sudah berdiri di depan meja sekretaris Mikail di lantai teratas gedung Daehan Ventures. Dengan bantuan kode rahasia dari Will, Jian berhasil menyelinap masuk tanpa terdeteksi.
“Ada tamu untuk Anda, Daepyo-nim. Sudah sejak tadi menunggu di dalam,” ucap sang sekretaris melalui interkom saat melihat Jian memberi isyarat diam.