AROMA dupa di ruangan itu terasa menyesakkan, bercampur dengan udara musim dingin yang merayap masuk lewat celah pintu. Jian kecil menggenggam erat buket krisan putih di dadanya, mengikuti langkah ayahnya menuju ruang duka. Namun, langkah mungilnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang tampak begitu rapuh di sudut ruangan.
Seorang anak laki-laki—mungkin beberapa tahun lebih tua darinya—duduk bersimpuh sendirian. Ia tampak begitu kecil di tengah ruangan yang besar dan dingin itu. Bahunya bergetar hebat, dan suara isak tangisnya yang tertahan terdengar sangat menyakitkan di telinga Jian.
Tanpa berpikir panjang, Jian melepaskan diri dari jangkauan ayahnya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan setangkai krisan paling cantik yang ia punya tepat di depan wajah anak itu. Isakan itu berhenti seketika. Anak laki-laki itu mendongak, menatap Jian dengan mata kemerahan yang tampak asing dan membeku.
“Who are you?” tanya anak itu dengan suara serak.
Jian mengernyitkan dahi. Suara itu terdengar aneh, seperti bahasa yang hanya muncul di film-film luar negeri. Karena tidak mengerti, ia hanya memberikan senyum lebar dan kembali menyodorkan bunga itu, seolah mendesak lewat tatapan matanya.
“Oppa tidak akan menerimanya?” tanyanya lembut.
Anak laki-laki itu tampak kebingungan. Ia melirik pria asing di sampingnya, seolah meminta izin, sebelum akhirnya jemarinya yang gemetar mengambil tangkai bunga itu dari tangan Jian.
Melihat bunga itu diterima, rasa cemas di hati Jian menguap. Ia segera duduk di lantai, tepat di hadapan anak itu hingga lutut mereka bersentuhan. Ia ingin anak itu tahu bahwa dia tidak sendirian. Jian kemudian menunjuk ke arah sepasang foto pria dan wanita di atas altar yang dikelilingi gunungan krisan.
“Itu... orang tua Oppa?” tanyanya lirih.