The Constellation

Cornelius Zii
Chapter #1

Bab 1: Hanya Kita Berdua

Aku sudah menantikan hari ini.

Kita berjanji bakal lihat Bima Sakti dan rasi bintang yang melukis langit malam yang indah.

Saat membuka mata pagi itu, aku gak bisa berhenti tersenyum ketika pake baju. Aku bahkan potong rambutku jadi pendek berponi biar penampilanku sedikit berbeda dari biasanya. Kuhirup udara segar yang terasa berbeda dari hari-hari biasanya.

"Kaelaaa, udah beres belum nyiapin barang pikniknya?" seruku dari ruang tamu sambil bersantai di sofa.

"Bentar lagi, Stella!"

Tak lama kemudian, dia menghampiriku dengan keranjang piknik di kedua tangannya. Dengan wujud mesin berbentuk bolanya yang kini dibalut pakaian kasual baru, dia jadi keliatan lebih lucu daripada biasanya.

"Jadi, temenmu yang sering kamu ceritakan itu beneran bakalan datang?" tanyanya.

"Yup, bentar lagi juga nyampe."

Aku mendengar bel pintu berbunyi. Itu pasti kamu. Aku segera menuju pintu, menepuk-nepuk pakaianku untuk bersihin debu yang mungkin masih nempel.

Begitu buka pintu, senyum langsung merekah di bibirku. Ngeliat kamu pake turtleneck cokelat baru tanpa jas lab rasanya agak aneh. Namun, entah kenapa, aku suka penampilan barumu.

"Hai, Zii. Mau masuk dulu?"

"Gak usah, makasih. Aku tunggu disini aja. Tapi, wah, Stella, kamu potong rambut di mana?"

"Cocok, gak?" Aku mengibaskan rambutku pelan, berusaha menahan senyum saat melihat reaksimu.

Kamu terkekeh. "Kamu keliatan... agak beda ya hari ini."

"Beda? Hum? Emangnya gimana?"

"Entahlah. Kayak keliatan lebih cocok aja gitu. Pas lah sama baju kamu."

Tiba-tiba, kedenger bunyi benturan kecil dari belakangku. Aku langsung berbalik.

"Kaela? Kamu gapapa?"

"Aman, Stella! Gapapa, kok hehe." Dia sedikit oleng saat membawa keranjang piknik. Lalu, dia melayang mendekat hingga berada di sampingku.

"Oh, ini robot kompanion yang pernah kamu ceritain, ya?" tanyamu.

"Yup." Aku menoleh ke arah Kaela. "Kaela, ini Zii. Temenku yang sering kuceritain ke kamu."

Kaela menundukkan kepalanya sejenak untuk ngasih hormat ke kamu. Kamu keliatan terkesan banget disitu.

"Jadi, Stella, Kaela, udah siap gak?"

Aku mengangguk.

Kita jalan kaki pagi itu karena kebetulan matahari bersinar cerah dan udaranya seger banget. Seenggaknya, gitu sih katamu minggu lalu, seolah-olah kamu itu kayak peramal cuaca. 

Bangunan-bangunan putih yang setiap hari kulewati saat pulang kerja entah kenapa tampak beda hari ini.

"Emang bener nanti malam kita bisa liat langit yang penuh sama rasi bintang?" tanyaku sambil berjalan.

"Kalau prediksiku tentang cuaca dan langit tepat sih, iya. Kenapa kamu nanya itu terus?"

"Cuman mau mastiin aja..." Aku menghela napas. "Soalnya kan..., aku pura-pura sakit biar bisa libur hari ini..."

"Lah?! Kamu ngapain, coba? Kita kan bisa pergi pas sore aja, sepulang kamu pulang kerja."

"Tau sih... Cuman... Hari ini kan agak spesial gitu, ya gak?"

Kamu terkekeh. "Yah, kalau itu alasannya sih. Ku bisa gak bisa protes, sih."

Saat melirik Kaela, aku ngeliat dia keliatan agak kesel.

Lihat selengkapnya