•••
"Jika kita berdua masuk surga, kau boleh menendangku ke neraka."
•••
Berat sekali rasanya ketika dipaksa tetap melangkah saat nyeri tulang rusuk sedang gigih menyiksa. Meskipun ada ukiran-ukiran dalam aksara kuno Bangsa Elf untuk memperingan zirah hitam ini, tak ada satu sihir pun yang bisa mengurangi beban dari tumpukan rasa letih di pundaknya.
Pedang panjang digantung di pinggang, siap menebas siapa pun yang menghadang. Namun jika ada yang paling ingin ditebas saat ini, itu adalah lehernya sendiri.
Jubah hitam berat oleh darah kering yang belum sempat ia bersihkan. Bayangan panjang di belakangnya serupa hantu-hantu penasaran yang ingin segera pulang tapi masih dipaksa untuk hadir di dunia.
Melintasi perpustakaan raksasa ini, suara langkah sepatu besi bergema melalui sela-sela tatanan rapi deretan buku di rak. Sampul-sampul penuh debu seperti sedang menunjukkan senyum miring saat melihatnya membawa berita duka sore itu.
Helaan napas berkali-kali keluar dari celah helm hitamnya mengiringi derap langkah nyaring yang mengisi keheningan di tiap sisi.
Meski begitu, ia tetap menyeret kaki melalui tangga, melintasi lorong-lorong di lantai berikutnya kemudian terus menanjak sampai ke puncak menara tempat Camelia berada.
Di atas sana, silau matahari terbenam mengganggu penglihatan beberapa saat sebelum perlahan-lahan matanya mulai terbiasa dengan keadaan.