The Cursed Children

Rakanta
Chapter #2

Dalam Dekap Malam

•••

"Mungkin Tuhan sudah bosan dengan ciptaannya."

•••

Mendengar Paman Ben bercerita selalu menyenangkan. Di umur berapa pun itu, sejak dulu sampai hari ini mereka tak pernah merasa bosan.

Sambil ditemani secangkir coklat panas dan hangatnya api perapian, Paman Ben akan duduk di sofa sementara tujuh anak asuhnya membentuk setengah lingkaran. Dengan tubuh terbalut selimut tebal, mereka menyimak setiap kata yang keluar dari bibir keriput Paman Ben.

Morgan dan Camelia duduk di dekat tembok, mereka pun membungkus diri dengan selimut seperti anak-anak lain.

Lima belas tahun sudah mereka menghabiskan waktu di tempat Paman Ben, merajut ribuan kisah bersama mereka yang hidup senasib. Di antaranya bahkan ada yang sudah pergi atau menikah.

"Sebentar lagi kita akan dianggap dewasa." Morgan menatap coklat panas dalam cangkirnya yang mengepulkan uap tipis. "Masih ingin di sini?"

Camelia terkekeh sebentar sebelum menatap lamat-lamat mata Morgan dari samping. "Bagaimana denganmu?"

Morgan mengangguk samar, ada senyum tipis di sana. "Aku ingin menemani Paman Ben."

"Kalau begitu, aku juga sama." Gadis cilik itu mendekatkan cangkir coklatnya ke cangkir milik Morgan. "Kita akan selalu bersama, kan?"

Morgan menatap tangan Camelia yang berkulit putih halus. "Ya, kita akan selalu bersama."

"Mengerikan sekali!"

Keduanya menolehkan kepala untuk menatap Coward yang duduk di sebelah kanan sofa Paman Ben. Anak yatim piatu yang baru datang sebulan lalu itu memasang wajah terkejutnya dengan mata melotot lebar.

"Benar, mengerikan sekali!" Paman Ben, yang tahun ini umurnya sudah menginjak enam puluh delapan, mengangkat dua tangan sambil memasang wajah seram. "Apalagi mereka punya taring."

Anak-anak sedikit memundurkan badan seolah Paman Ben adalah makhluk apa pun itu yang sedang diceritakan. Sementara dari sudut lain yang tidak terlalu terkena cahaya perapian, datang gadis lucu dengan rambut pirang dikepang dua. Tangan mungilnya menggenggam boneka beruang kecil.

"Aku takut ...."

Perhatian Camelia teralihkan, perlahan seutas senyum pun merekah. "Kemarilah." Ia membuka selimut tebalnya. "Di mana coklat panasmu?"

Gadis kepang tadi tidak menjawab, hanya menggeleng dan melompat ke pelukan Camelia. Angelina memang yang paling takut di antara mereka, dongeng Paman Ben jelas berhasil menakutinya.

Mungkin Paman Ben juga menyadari sikap Angelina karena tiba-tiba dia mengeluarkan tongkat kecil dari balik baju rajut tebalnya. "Batu Bintang ada sepuluh, Anak-anak." Tangan yang sudah keriput itu lantas terangkat, berputaran, dan menyebarkan sepuluh cahaya berlainan warna yang memadat menjadi kristal-kristal indah. "Kalau kalian menemukan batu-batu ini, simpanlah karena Korg takut padanya."

Tidak ada satu anak pun yang tidak merasa takjub dengan pertunjukan sihir Paman Ben. Di seluruh desa kecil ini, hanya lelaki tua itu yang pernah pergi begitu jauh sampai mengenal dan mempelajari sihir-sihir. Dia punya jutaan kisah dalam kepalanya yang sulit untuk dibedakan mana yang nyata dan mana yang dongeng.

Sepuluh kristal ciptaan Paman Ben berputar di langit-langit ruangan, dipandang dengan binar kekaguman. Mulut anak-anak terbuka makin lebar saat kristal-kristal itu terbang melalui sebelah kepala atau ujung dahi.

Tangan Angelina terangkat pelan saat satu kristal merah muda terbang mendekatinya. Paman Ben yang melihat itu lantas menghentikan gerakan kristal sehingga Angelina dapat menyentuhnya.

Tidak ada lagi jejak ketakutan di wajah lucu Angelina. Reaksinya sama seperti anak-anak lain, mata melotot penuh kagum dan mulut terbuka karena takjub.

"Indah sekali, ya?" Camelia berbisik, menempelkan pipinya ke pipi bulat Angelina.

Angelina menatap pantulan wajahnya di muka kristal dan mengelusnya perlahan. "Aku ingin ... aku ingin melihat Batu Bintang yang asli ...."

Terdengar tepukan ringan dan seluruh kristal tadi mendadak berubah jadi butiran debu. Anak-anak bergumam kecewa, begitu pun Angelina.

"Sudah larut, waktunya tidur, Anak-anak," ucap Paman Ben dengan senyum yang tidak pernah meninggalkan wajah tuanya.

...•••...

"Belum tidur?"

Morgan mendapati Paman Ben sudah berdiri di ambang pintu dibantu tongkat kayu butut itu.

"Aku hanya ingin terjaga sebentar."

"Sebentar, katamu?" Paman Ben terkekeh. "Sudah satu jam sejak aku menyuruh kalian untuk tidur."

Morgan tersenyum membalas ucapannya, lalu kembali menatap langit dari kursi teras rumah.

Udara memang terasa dingin menusuk, orang-orang sudah masuk ke kamar dan menggulung diri dalam selimut. Bukan berarti Morgan tidak merasakannya, hanya saja dia sudah terbiasa. Satu kebiasaannya sejak empat tahun lalu adalah menikmati pemandangan langit sebelum tidur.

Paman Ben berjalan pelan untuk kemudian duduk di kursi sebelahnya.

"Kau masih ingat ketika dunia tak punya langit?" ucap lelaki tua itu seraya ikut memandang ke atas. "Saat itu semuanya jadi tidak menarik."

Bagaimana bisa Morgan melupakan itu? Anak-anak yang seumuran dengannya pasti pernah merasakan hal serupa. Begitu membosankan ketika siang di mana langit hanya ada warna kelabu, sementara saat malam hanya ada hitam pekat.

"Paman, katamu dunia pernah hancur dua kali, kan?" Morgan membuka pembicaraan setelah sekian lama lenggang.

Paman Ben mengangguk. "Yang pertama karena hujan meteor dan yang kedua karena ledakan Gunung Terras. Kenapa kau menanyakannya?"

Tiba-tiba wajah Morgan menjadi murung. Matanya masih menatap langit, tapi tidak secerah tadi. "Aku takut," katanya. "Takut kalau dunia hancur sekali lagi."

Pandangan Paman Ben berpindah dari langit untuk kemudian mengamati wajah anak asuhnya sampai cukup lama. Senyum yang tidak pernah pergi dari wajah tuanya perlahan mulai pudar.

Tak kunjung mendapat jawaban, Morgan menoleh. "Paman?"

"Ah, tidak." Paman Ben menggeleng cepat-cepat. "Mungkin Tuhan sudah bosan dengan ciptaannya."

Kening Morgan berkerut dalam, otaknya berputar untuk mencerna ucapan Paman Ben. "Maksudnya?"

"Bukan apa-apa." Lelaki itu mengibaskan tangan di depan mereka, senyumnya perlahan kembali. "Lekaslah tidur, angin malam tidak baik untuk anak sesuiamu."

Sebenarnya Morgan masih ingin di sini lebih lama, menikmati langit yang tak pernah berkurang keindahannya. Akan tetapi, ucapan Paman Ben ada benarnya, hawa dingin di luar sudah jauh lebih menusuk.

Morgan merapatkan baju tebal lalu melangkah menuju pintu rumah. Saat tangannya hendak memutar gagang pintu, terdengar suara Paman Ben.

"Aku sudah pergi ke banyak tempat dan percayalah, Morgan, aku lebih takut akan kehancuran dunia ini lebih daripadamu."

Paman Ben tidak tersenyum, menandakan sedang sangat serius saat ini. Namun, pikiran Morgan masih belum bisa memahaminya dan ia hanya menganggap bahwa apa yang baru saja diucapkan adalah bahasa orang dewasa yang belum bisa dimengerti.

"Selamat malam, Paman." Morgan tak bisa memikiran jawaban lain.

Paman Ben hanya mengangguk.

Baru saja pintu terbuka, dari jauh terdengar raungan keras sampai membuat tubuh Morgan menegang dan jatuh tanpa bisa ditahan.

WAAAARRRGGHHHH!!!!

Suara itu terdengar sekali lagi, tak sekeras yang pertama, tapi cukup untuk jadi tanda bahwa hal buruk akan segera datang.

"Paman!" Tubuh Morgan gemetar hebat. Dia tidak tahu suara apa barusan, hanya saja instingnya menjerit menyuruhnya lari.

Wajah Paman Ben sudah sepucat patung dewi di Kuil Sidar, bibirnya bergetar sedikit terbuka, tubuh tua itu membungkuk hampir jatuh jika tidak ada tongkat bututnya yang menopang.

"Panggil anak-anak, bawa mereka pergi!"

Lihat selengkapnya