The Cursed Children

Rakanta
Chapter #3

Di Luar Sangkar

•••

"Kami yatim piatu."

•••

Masih belum jelas kenapa bisa selamat. Mereka hanya ingat setelah Korg itu pergi, dengan berusaha membutakan mata, ketiganya mencari jalan keluar meninggalkan jasad Tom yang telah hancur kepalanya.

Kemudian matahari mendaki dari ujung timur ketika mereka sudah begitu lelah menahan dinginnya malam yang terasa seperti akan berlangsung selamanya. Setelah melihat fajar, barulah Morgan berani untuk berhenti dan istirahat.

Sekeliling masih hutan belantara, daerah asing yang lumayan jauh dari desa. Morgan memutuskan bahwa dia sama sekali tidak kenal dengan tempat ini. Tak terlihat pula ada jalan dekat sana yang membuatnya jadi lebih buta arah.

"Tidurlah dulu." Camelia mengelus kepala Angelina yang tubuhnya masih gemetar hebat. Sebagai seorang kakak, ia coba menenangkan dengan memberi sedikit senyum. "Tidak apa, biar aku dan Morgan yang menjagamu."

Napas Angelina memburu, gadis cilik itu masih terlalu takut untuk melepas genggamannya pada jemari lentik Camelia. Namun dengan sabar, Camelia terus duduk di samping tempat Angelina berbaring dan tak pernah berhenti mengusap kepalanya.

Akhirnya gadis cilik yang biasanya selalu ceria itu kini jatuh pulas dengan napas teratur.

Camelia masih setia duduk di sana untuk mengelus rambut Angelina. Akan tetapi tatapannya tidak sedang tertuju pada Angelina, melainkan kepada lelaki yang duduk membelakangi mereka sambil memeluk pedang Paman Ben erat-erat. Kepalanya tertunduk lesu, bahunya terkulai lemas. Jika ada hal yang harus dikatakan tentang anak itu, maka pasti tentang seseorang yang habis harapan dan hilang tujuan.

"Morgan ...."

Morgan mengangkat tangan, mengisyaratkan agar Camelia berhenti bicara. "Biarkan aku sendiri untuk sekarang, tolong ...."

Bibir yang tadi sudah terbuka kini menutup kembali. Camelia hanya mengangguk sebagai jawaban walaupun tahu Morgan tak bisa melihatnya.

Sejuk udara pagi seolah tak dapat menembus kulitnya. Morgan duduk terpaku di sana, menatap entah ke mana dengan pikiran berkecamuk liar. Wajah adik-adiknya terbayang jelas di depan mata. Coward yang menjerit ketakutan, Richard yang mengulurkan tangan meminta pertolongan dan Tom yang melotot tak percaya atas keputusan Morgan.

Kemudian wajah-wajah mereka berubah menjadi begitu menakutkan hingga membuat Morgan merinding hebat. Tatapan ketiga adiknya jelas sedang menuduh, menuntut keadilan bagi kematian yang tak coba Morgan cegah.

Anak itu menutup muka dengan dua tangan agar bisa menghindar dari tatapan-tatapan menuduh mereka.

Semua itu tak lepas dari perhatian Camelia yang masih terus mengelus kepala Angelina dalam diam.

"Urgh ...." Rintihan Morgan lolos tanpa sadar. Ia mulai menjambak rambutnya dengan kasar.

Padahal baru saja mereka duduk bersama menikmati cerita Paman Ben dan berpikir bahwa besok malam atau lusa akan mengulangnya lagi. Siapa yang akan menduga bahwa di malam yang sama, semua keindahan itu akan terusir pergi?

"Kenapa ... kenapa jadi begini?" Tangannya yang menjambak rambut semakin liar tak terkendali. "Kenapa harus kami ...?"

Tidak ada yang pernah menjawab pertanyaannya. Bahkan udara pun seolah enggan bicara apa-apa sampai berhenti berembus sejenak.

Dari yang awalnya hanya menjambak, kini Morgan mulai memukul-mukul kepalanya sendiri, berharap rasa sakit bisa sedikit menyembunyikan rasa bersalahnya.

"Morgan!"

Tiba-tiba terdengar suara Camelia yang selirih bisikan, tapi ada ketegasan di sana.

Morgan berhenti memukuli kepalanya, sedikit tersentak.

"Tidurlah dulu, seharusnya kita aman sekarang. Kita sudah lumayan jauh dari desa."

Morgan tidak mengharapkan kata-kata seperti itu. Dia sudah bersiap dengan caci maki dan kutukan kejam dari adik tertuanya, mendapat doa-doa buruk seperti agar lekas mati atau semacamnya.

Namun, Camelia melanjutkan. "Kita butuh istirahat."

Tanpa menjawab dan menoleh, Morgan menjatuhkan diri ke samping, mencoba tidur dengan mata yang kembali penuh dengan air kesedihan. Darah masih menodai dahinya, tapi tak dihiraukan sama sekali. Memangnya apa pentingnya darah itu dibanding nyawa adik-adiknya yang sudah ia bunuh secara tidak langsung?

"Maaf ...." Gumamannya makin lirih sampai ia jatuh terlelap dalam mimpi buruk.

•••

Morgan merasakan perbedaan besar di antara hubungan mereka bertiga. Hampir tak ada senyum apalagi tawa. Mata kedua gadis yang mengikutinya selalu tampak sayu dan tak ada lagi semangat hidup.

Ia sebenarnya tidak tahu ke mana harus menuju, tapi dia tetap berpegang teguh pada perkataan Paman Ben untuk jalan ke selatan. Menjelang senja, mereka melihat sebuah kota di kejauhan. Di menara-menaranya, berkibar panji merah dengan gambar kepala singa. Itu adalah panji milik Kerajaan Faelor.

"Ada kota di depan," desis Morgan setengah merasa lega karena akhirnya melihat pemukiman manusia.

Camelia dan Angelina juga ikut melihat, ada sedikit binar harapan di sana.

Lihat selengkapnya