The Deaveka

Haula Luthfia Ramadhan
Chapter #18

Chapter 17

“Tuhan ...?” 

Satu penggalan kata yang muncul di benak Zie saat kembali membuka mata. Gambar objek yang jatuh ke retina matanya buram. Tiupan dingin dari selang oksigen menjalar dalam kedua lubang hidung. Seluruh anggota badannya lemas. Berat di kepala masih terasa, pun dengan tulang-belulang di punggungnya. Setidaknya, dia berhasil melewati masa kritis yang dialaminya semalam. 

Dari sebelah, terdengar samar suara dokter yang tengah bicara dengan Anneth. Sementara Livina duduk di kursi pinggiran dinding, masih menunduk dan memaling muka dari Zie yang tertidur di atas ranjang. Semalam, dia menangis semakin keras saat mendapat kabar tentang Zie, dan sekarang dia tak sanggup berkata apa-apa. Hanya diam, tak berani berbuat apa pun bahkan untuk menangis lagi.

Kedua wanita itu cukup lega saat tahu Zie sudah sadar. Meski belum bisa merespons saat diajak bicara. Anneth kembali ke arah Livina dan duduk bersamanya. Tak lama setelah berbincang sebentar, Livina izin pulang lebih dulu. Dengan alasan suaminya sendirian di rumah dan pasti kesulitan jika hendak melakukan sesuatu.

Anneth membiarkan wanita itu pergi. Sementara dirinya masih berada di sini. Menemani Zie yang tampak kembali menutup mata, melanjutkan tidur. Lagi pula, Anneth tak tahu harus ke mana lagi. Perasaannya sedang tidak cocok untuk dibawa bertemu dengan teman-teman atau saudaranya di tempat lain. Dia ingin merenung di sini, memikirkan tentang sosok Jason yang sempat muncul dan menemani hari-harinya beberapa waktu lalu. 

Tak bisa dimungkiri, visual Jason kala itu benar-benar membuat hatinya pilu. Seakan kembali ke masa lalu dan kembali merasakan kehilangan. Sungguh kecewa rasanya. Terlebih ketika tahu bahwa sosok itu sebenarnya ialah iblis. Bagaimanapun juga, iblis tidak bisa tinggal dengan manusia.

Kemarin, Mr. Dav menyatakan bahwa upaya pengusiran iblis yang dilakukannya gagal. Bukan gagal, sebenarnya, mereka butuh Zie. Karena Zie yang memanggil iblis itu, maka Zie pula yang harus melepaskannya. Sebab, si iblis terikat perjanjian dengan Zie. Sebuah perjanjian yang sepertinya cukup serius. Raut muka Mr. Dav terlihat tidak mengenakkan saat mengatakan hal itu. Anneth jadi sangat takut. Apalagi ketika mendapat kabar Zie kecelakaan. Dia sangat-sangat berharap setelah ini Zie bisa membuat iblis itu pergi dari kehidupan mereka.

Sekitar siang hari, Aldy datang menjenguk. Anneth mengizinkannya masuk. Kali ini wanita itu melangkah keluar. Memberikan kenyamanan pada dua anak muda, Aldy dan Zie, yang mungkin akan membicarakan hal panjang.

 Zie sudah cukup bisa membuka tutup matanya saat itu dan sudah sanggup bicara. Sejujurnya semenjak siuman pagi tadi, hati Zie benar-benar gelisah. Yang terlihat dia memang menutup mata, seolah tidur. Namun kenyataannya, dia terus-terusan terbayang akan sekelompok Deaveka yang mengelilinginya malam itu, boneka yang berbicara, dan seringaian Deaveka Jason yang menatapnya di atas aspal jalanan yang dingin. 

Kedatangan Aldy siang ini membuat Zie seolah menemukan sosok yang bisa ia percaya. Lelaki muda itu menarik kursi dan duduk di samping ranjang Zie, sambil berusaha tersenyum lembut. Senyuman itu memang benar-benar ampuh membawa sedikit ketenangan setiap kali Zie merasa cemas berkepanjangan. Senyum yang memesona. Walau sebenarnya lelaki itu sudah bisa melihat cemas dari raut dan kerut di wajah Zie.

“Senang melihatmu selamat, Zie.”

Mata Zie sedikit melebar menyambut ucapan itu. 

“Apa kamu sudah merasa baikan? Atau masih ada yang sakit?” lanjut Aldy bertanya. Zie tidak menjawab satu pun, hanya menggerakkan tangan kirinya, di mana selang infus tertancap. 

“Kamu pasti tidak nyaman dengan itu. Sabar, ya. Aku sudah dengar kabar dari dokter, katanya kamu hanya perlu menjalani perawatan sekitar dua atau tiga hari. Sambil cek bagian dalam, apa ada masalah. Semoga kamu tidak separah itu, Zie.”

“Hmm.” Zie mengangguk. 

“Semalam, kamu benar-benar membuatku cemas dan panik. Aku takut sekali jika terjadi hal fatal padamu. Syukurlah kamu sudah siuman sekarang.” Aldy terdiam sebentar dan kembali melontarkan pertanyaan.

“Apa kamu sudah makan? Semalam kamu bahkan belum sempat makan apa pun. Aku sangat menyesal mengingat itu.”

Zie tersenyum sekilas dan menggeleng.

“Makanan di rumah sakit biasanya tidak enak. Mau kubelikan di luar? Katakan, kamu mau makan apa?”

“Aldy,” potong Zie tiba-tiba.

“Hmm?”

Lihat selengkapnya