The Deaveka

Haula Luthfia Ramadhan
Chapter #19

Chapter 18

Anneth sampai di rumahnya dalam keadaan hujan lebat. Mungkin harusnya dia bisa menetap di rumah Livina sampai hujan reda. Namun, dia harus segera pulang karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Paling tidak, dia bisa menyelesaikan urusannya lebih cepat sebelum berangkat kembali ke rumah sakit untuk menemani Zie nanti malam. 

Sambil memasukkan mobil ke garasi, tiba-tiba saja dia merasa seperti ada yang memperhatikan. Dia memandang-mandang beberapa saat dan menyadari, ada sosok yang tengah memandangnya dari kejauhan. Sosok Deaveka Jason.

Wanita berambut pirang dan bermata biru itu tak peduli, bahkan tidak merasa takut sama sekali. Dia keluar dari mobilnya sembari mengeluarkan botol dari dalam tas, botol berisi air suci yang diberikan Mr. Dav untuk berjaga-jaga. Air itu lalu ia percikkan ke beberapa tempat di sekitar rumahnya, termasuk mobil silver-nya yang barusan ia naiki. 

Beberapa kertas berisikan ayat-ayat juga ia tempelkan pada pintu dan beberapa sisi dinding di dalam rumah. Semua ia lakukan agar iblis bernama Deaveka Jason itu tidak bisa masuk dan menyentuh dirinya lagi. Tak peduli wujudnya persis seperti kekasih tercintanya sekalipun. Anneth memantapkan pikirannya bahwa yang namanya iblis tetaplah musuh terbesar bagi manusia. 

***

Semenjak kejadian yang menimpa keluarga mereka, suasana rumah itu kini benar-benar hening. Tak ada seruan dan obrolan tawa lagi di antara penghuninya. Hanya tinggal Livina dan Tony yang hanya mampu merespons pelan, sekadar jika ada hal-hal penting.

Tak sampai di situ, sumber penghasilan untuk biaya hidup mereka juga tidak berjalan lagi. Biaya rumah sakit Zie saja dibantu oleh Anneth. Tony yang sebelumnya merupakan karyawan di sebuah perusahaan swasta tak mampu lagi bekerja. Sementara Livina, meski pekerjaannya di bidang sales online, namun dia sudah tidak semangat lagi melakukan apa pun. Semua dilalui begitu saja tanpa peduli lagi pada kebutuhan pokok untuk menyambung kehidupan. Seolah benar-benar pasrah. 

Malam itu, listrik di rumah tiba-tiba mati. Jatah pembayaran mereka sudah habis. Sepasang suami istri itu kini hanya diam di dalam kamar, menjalani bisu dalam kegelapan. Terlampau hening, nyaris tak ada apa pun yang terdengar. Anehnya, bahkan suara napas sekalipun. 

Livina tiba-tiba tersentak. Kemudian mengambil ponselnya untuk menyalakan senter. Diarahkannya cahaya senter pada Tony yang duduk di kursi roda di samping ranjang. Namun, suaminya tak ada lagi di situ. Hanya tinggal kursi roda yang kosong. 

“Sayang? Di mana kamu?”

Jantung Livina seketika menekuk. Rasa takut menyerbu. Tidak mungkin suaminya bisa bangun seorang diri apalagi meninggalkan tempat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Hal tak beres sedang terjadi. Sergap Livina mengarahkan senter ke seluruh penjuru ruangan. Namun, Tony tak juga ia temukan.

“Di mana kamu, Sayang?!” teriak Livina beberapa kali, lalu mencoba keluar kamar, mencari di luar.

Pelan-pelan dia melangkahkan kakinya dengan bantuan cahaya senter. Memandang-mandang di area ruang tamu dan juga ruang tengah.

“Sayang!” suaranya bergaung antara beberapa bagian ruangan di lantai itu. Seolah semuanya kosong. Bulu-bulunya bangun, menyerap hawa dingin yang bersemilir halus dekat kulitnya.

Kepalanya tiba-tiba menoleh cepat ke arah balkon lantai atas, menyadari salah satu pintu kamar yang ada di sana terbuka. Tak lain adalah pintu kamar Zie. Cahaya kuning terang terlihat memancar dari dalam. Livina memicing memandang dari kejauhan. Pelan-pelan mencoba mendekat, menaiki tangga dengan hati-hati.

Dia jelas tahu sesuatu yang mungkin terjadi di kamar itu merupakan suatu hal yang ganjil. Bukan pada Tony pikirnya, namun pada sosok yang katanya menghuni kamar itu. Takut, tapi rasa penasaran dan emosinya berada lebih di puncak, sehingga dia yakin melangkah hingga sampai di depan pintu.

Di ambang, dia sudah dapat melihat seseorang di kamar itu, berpakaian kemeja putih dan jeans hitam yang sedang memunggungi arahnya, berdiri di antara lilin-lilin yang menyala. Dari postur belakang tubuhnya saja, Livina sudah mengenali seseorang itu. Dia makin terperangah ketika seseorang itu membalikkan badan dan menatap ke arahnya. Ketika itu juga, mata Livina berair, haru melihat kembali wajah sosok yang telah lama pergi. Sosok yang sebenarnya sangat ia sayangi, namun telah dia kecewakan, Jason Ann. Sungguh rasa hatinya sangat ingin memeluk lelaki itu sembari menangis keras. Nyatanya, Livina hanya dapat berdiri mematung dengan kerut wajah di mana-mana dan air mata yang tumpah begitu saja.

“Kak ...,” sapa Jason sembari tersenyum manis.

Tiba-tiba, mimik wajah Livina berubah datar.

“Kau bukan adikku,” katanya kasar. 

Pria di hadapannya itu mendelik heran.

“Adikku mana pernah tersenyum seperti itu pada kakaknya. Dia selalu merajuk duluan saat bertatapan denganku. Bahkan setelah berpisah selama delapan tahun pun,” lanjut Livina.

Pria itu lalu mendengkus. “Oh, begitu. Wah, aku takjub. Sang kekasih yang sudah lama bersama saja tidak menyadari perbedaan apa pun. Tapi ternyata, kekuatan batin saudara kandung itu nyata, ya?”

“Beraninya kau menggunakan wujud adikku! Cepat lepaskan itu dan pergi dari sini!” teriak Livina seraya mengeluarkan telunjuknya, berang sekali.

“Hei, hei, tenang dulu, Bu. Aku perlu bicara.”

“Kau tidak perlu bicara! Tak ada yang ingin kudengar darimu, dasar iblis! Gara-gara kau keluargaku jadi begini! Pergi kau! Pergi, sialan!” 

Livina emosi, dia menghantam lilin-lilin hingga sebagiannya jatuh berserakan. Barang-barang lainnya yang ada di situ juga dia banting dan lemparkan ke arah Deaveka Jason. Seraya terus berteriak menyerapahi.

“Iblis kau! Iblis! Masih berani kau menggunakan wujud adikku! Lepaskan wujud itu, lalu pergi kau cepat!”

Lihat selengkapnya