Segelas air putih disodorkan untuk diminum oleh Zie. Setelah meminumnya, dia mendadak pusing beberapa saat, lalu keadaannya kembali normal. Di depannya kini ada Mr. Dav, pria berkulit putih dengan janggut lebat serta setelan kemeja abu-abu yang rapi. Mr. Dav datang menjenguk setelah Zie pulang dari rumah sakit. Dia sengaja datang agak terlambat supaya Zie bisa tenang menjalani pengobatannya terlebih dahulu. Lalu sekarang, dia duduk di hadapan Zie, memandang pelan dan berbicara dengan hati-hati.
“Nona Linzie, sudah sehat?”
Zie mengangguk.
Rumah mereka masih terkunci. Tak ada siapa pun di dalam yang dapat membukakan pintu. Sehingga mereka terpaksa duduk menunggu di bangku teras rumah. Sementara Anneth mencoba menjauh sedikit dari mereka untuk menghubungi Livina.
“Yakin sudah sanggup untuk melaksanakan pengusiran?” tanya Mr. Dav lagi.
Zie kembali mengangguk, memantapkan niatnya, pasti.
“Baiklah. Sebelum itu, saya ingin memberi tahu terlebih dahulu siapa iblis ini sebenarnya. Dia adalah Azazil, sosok raja iblis yang dulunya ialah ahli surga, yang kemudian diusir ke neraka gara-gara sifat sombongnya.”
“Azazil?”
“Iya, lebih tepatnya, Azazil adalah nama dia sebelum diusir ke neraka.”
“Sebentar, aku pernah baca fakta tentang raja iblis. Bukankah raja iblis disebut Lucifer?”
“Oh, yah, beberapa kepercayaan menyebutnya sebagai Lucifer. Tapi, kami menyebutnya Azazil.”
Zie manggut-manggut, paham. Dalam hatinya, sial, bisa-bisanya dia berurusan langsung dengan sosok raja iblis yang sebelumnya hanya ia baca di website. Ini buruk sekali.
“Jadi, bagaimana cara untuk mengusir iblis ini?”
Mr. Dav memantapkan posisi duduknya, menatap tepat ke arah mata Zie agar gadis itu benar-benar bisa mengerti.
“Jadi, begini. Kuncinya hanya satu. Kamu hanya perlu mengenal Tuhan.”
“Tuhan ...?” Teringat kembali Zie pada pertemuan dengan pamannya malam itu, saat pamannya memberitahunya tentang Tuhan. Mereka dibesarkan tanpa dikenalkan tentang sosok yang bernama Tuhan. Yang Zie tahu, di beberapa kelompok, Tuhan disebut sebagai sosok pencipta.
“Ya, Tuhan, sosok sang pencipta dan penguasa alam semesta. Tak ada satu pun yang kedudukannya lebih tinggi daripada Dia. Dia yang menciptakan, Dia pula yang dapat mengatur kehidupan di dunia ini.”
Zie terdiam lama memahami penjelasan dari Mr. Dav.
“Iblis merupakan salah satu ciptaan-Nya. Maka dengan kehendak-Nya, iblis tentu bisa dikalahkan. Oleh karena itu, kamu butuh pertolongan dari Tuhan. Hanya Dia, hanya kepada Dia.”
“Bagaimana cara meminta pertolongan Tuhan?” tanya Zie.
“Kamu hanya perlu yakin. Yakin seyakin-yakinnya, bahwa Dialah sang pencipta dan penguasa alam semesta ini, dan tunjukkan hanya kepada Dia kamu meminta. Iblis ini masih tidak mau menyingkir karena beranggapan kamu tidak percaya Tuhan. Dia pikir kamu lebih membutuhkan dia daripada Tuhan. Tunjukkan padanya bahwa kamu sudah percaya pada Tuhan dan mendapat pertolongan dari-Nya. Maka dengan kehendak-Nya, iblis ini akan pergi.”
Dada Zie gentar saat mendengar penjelasan panjang dari Mr. Dav tersebut. Terharu karena masih ada sosok yang bisa dijadikan tempat berharap. Meski dia masih belum mengenal lebih dalam siapa itu Tuhan, sekadar sebagai sang pencipta dan penguasa alam semesta. Setidaknya, dia sudah menemukan sosok yang bisa menolongnya. Dia bertambah yakin saat Mr. Dav melanjutkan kata-katanya.
“Perlu kamu ingat, Zie. Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
...
Setelah bicara panjang dengan Zie, Mr. Dav bangun menghampiri Anneth di sayap kiri rumah yang masih kesulitan menghubungi Livina. Zie juga sedikit menjauh, mencoba berjalan ke arah sayap kanan rumah dan mengeluarkan ponselnya, bermaksud hendak menghubungi Aldy. Dia juga perlu memberi tahu lelaki itu bahwa dia sudah menemukan solusi. Solusi yang amat sangat bagus menurutnya untuk menggantungkan harapan.
Di bahunya, tersangkut sebuah tas rajut berwarna hijau tua. Pemberian Mr. Dav beberapa waktu tadi yang isinya merupakan benda-benda yang dapat dimanfaatkan Zie saat melakukan pengusiran nanti, yakni kitab dan sebotol air yang sudah dibacakan ayat suci.
Tak lama, panggilannya ke ponsel Aldy diterima. Zie langsung menyampaikan tujuannya begitu panggilan tersambung.
“Aldy, aku sudah dapat solusinya!” ujar Zie semangat.
“Apa?”
“Tuhan. Kita bisa mengusir iblis itu dengan bantuan Tuhan.”
“Hah? Tuhan? Dari mana kamu tahu?”
“Ada orang yang sudah lama membantu keluargaku mengurusi hal ini. Dia menyarankan padaku untuk meyakinkan diri kepada Tuhan. Tuhan sang pencipta dan penguasa alam semesta. Jadi, Dia pasti bisa membantu kita mengusir iblis itu.”
“Kamu yakin? Bagaimana kalau setelah membantu kita, Tuhan itu malah meminta imbalan lagi seperti yang dilakukan oleh Deaveka?” nada Aldy masih miring, kurang bisa menerima tentang sosok baru yang disampaikan oleh Zie. Namun, Zie masih berusaha yakin.
“Aku yakin. Lagi pula, katanya Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jadi, dia tidak mungkin menyakiti kita, kan?”