The Deaveka

Haula Luthfia Ramadhan
Chapter #21

Chapter 20 | End

Tiga belas tahun yang lalu, Tony terlibat dalam sebuah proyek gelap yang diadakan di perusahaan swasta tempatnya bekerja sebagai seorang teknisi mesin. Proyek gelap itu membuatnya tidak bisa keluar lagi, terkunci pada sebuah ruangan gelap, di mana dia harus terus-terusan bekerja. Sekitar ratusan pekerja terkunci di sana. Tidak ada ponsel, tidak ada alat komunikasi apa pun yang bisa digunakan untuk menghubungi orang luar. Mereka terkunci bersama mesin-mesin tua yang sudah rusak. 

“Satanis, ini satanis!” Itu yang sempat didengar oleh Tony dari beberapa pekerja lainnya, orang-orang dari berbagai daerah yang belum pernah ia temui. Saat itu dia benar-benar bingung. Bagaimana dirinya bisa berada di sini? Ingatan terakhir kali, dia masuk ke dalam lift dan terseruduk jatuh hingga terbangun di tempat gelap seperti ini.

Satu per satu orang lalu mati karena lelah, sesak, dan kelaparan. Tony memandangi tumpukan mayat-mayat yang berada di sekelilingnya itu. Hal yang terpikir olehnya hanya: dia ingin hidup, ingin pulang, dan bertemu dengan istri dan anaknya. Saat itulah dia melihat Azazil dengan wujud pria berwajah tirus, berambut hitam keriting, dan berkulit putih, dibalut pakaian hitam tebal dari atas hingga kaki; sambil tersenyum kepadanya. 

Harapannya itu akhirnya terwujud. Dia kembali menghirup udara segar di atas bumi Kota Medellin, Colombia dan bersegera menemui anak dan istri yang sudah begitu ia rindukan. Namun, dia malah mendapati bahwa dirinya kini sudah berada di masa 8 tahun kemudian.

Sebelumnya, Livina, istri yang ia tinggalkan menangis sepanjang malam. Karena saat dia menelepon suaminya itu, malah terdengar suara wanita yang begitu halus dan berbicara dalam bahasa InggrisLivina tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu. Yang jelas, hatinya hancur. Bagaimana bisa ada seorang wanita mengangkat telepon suaminya malam-malam seperti ini?

Esoknya, Jason baru saja pulang kuliah dan langsung mendatangi rumah Livina. Namun, dia tidak mendapati kakaknya di sana, melainkan hanya Zie, bocah berusia 4 tahun yang menangis ketakutan di sudut kamar. 

“Dia peran penting di rumah ini, bukan? Tanpa dia, keluarga ini terpecah belah,” ucap Azazil pada Livina malam itu.

“Kalian belum memperlakukan Zie dengan cukup baik. Terlebih, ketika kalian malah menambah anak lagi. Kalian tahu, Zie sebenarnya cemburu,” lanjut Azazil, memunculkan rasa terbakar dalam hati Livina ketika mendengarnya. 

“Sekarang pilih, siapa di antara kalian yang pantas untuk menebus ini? Akan kuberi kesempatan untuk berpikir. Atau, mungkin juga kau mau menyiapkan surat wasiat?” 

...

“Ibu minta maaf. Semua yang terjadi dalam keluarga kita ini akibat kesalahan Ibu, Ibu yang tidak bisa dewasa dalam menghadapi masalah. Biar Ibu yang menebus perjanjian ini. Tinggallah dengan ayah, dia pasti lebih bisa menjagamu dibandingkan Ibu. Maaf sudah menjadi ibu yang buruk, Zie. Selamat tinggal. Ibu sayang kamu.”

Zie membaca isi surat itu yang kemudian membuat tangisnya pecah.

“Tidak! Kenapa Ibu melakukan ini? Ibuu!” Zie mengempas suratnya, kemudian memeluk erat tubuh sang ibu yang dingin, kaku, sudah tidak bernyawa lagi. Zie menyesal, sungguh sangat menyesal atas semua hal yang terjadi pada keluarga mereka selama ini. Air matanya meluap teramat deras, menangis menjerit sejadi-jadinya.

“Aku juga sayang Ibu! Ibuuuuu ...!”

***

Lihat selengkapnya