Setelah berhasil menghabisi semua bandit tanpa menyisakan satu pun, kini hanya tersisa para ksatria dan dua pendekar tangguh di medan laga. Dengan menggunakan teropong bidik, aku bisa melihat jelas kebingungan di wajah mereka. Mereka jelas-jelas masih mencari tahu dari mana asal tembakan yang dengan cepat menghabisi para bandit itu.
Ada dorongan dalam diriku untuk turun dan menemui mereka, berharap mereka bisa melihatku sebagai sekutu, apalagi setelah aku membantu mereka mengatasi situasi sulit ini. Namun, aku teringat pada gadis kecil yang saat ini berada di sampingku. Membawanya ke tengah situasi berbahaya itu jelas bukan pilihan yang bijak. Aku tak ingin mempertaruhkan keselamatannya hanya demi mendapatkan pengakuan dari para ksatria di bawah sana.
Wajah polos gadis kecil itu menatapku, dengan kebingungan yang jelas tergambar di matanya. Mungkin dia masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi, atau seberapa berbahayanya situasi ini sebenarnya.
Setelah mempertimbangkan segala risikonya, akhirnya aku memutuskan untuk turun sendiri. Melindungi gadis ini adalah prioritas utamaku. Aku tidak akan membiarkannya terseret dalam bahaya yang mengintai di bawah.
"Dek, kamu tunggu di sini, ya! Aku mau turun. Kalau ada apa-apa, tembak ini ke atas, oke?" Aku berbicara sambil menyodorkan flaregun padanya, berusaha terdengar setenang mungkin.
Gadis kecil itu mengangguk, meski aku tak yakin apakah dia benar-benar mengerti sepenuhnya. Untuk memastikan, aku memberikan sedikit isyarat tangan agar dia tahu cara menggunakan flaregun itu. Semoga saja dia tidak salah paham dan malah menembakkan suar itu di saat yang tidak tepat.
Dengan segala persiapan yang sudah matang, aku bergegas turun dari bukit. Peralatan tempur di tubuhku terasa berat, tapi aku tetap fokus pada misi ini, bertemu dengan para ksatria dan pendekar itu.
POV 3
"Darimana datangnya serangan itu?" tanya Chinua dengan ekspresi serius, matanya menyapu medan yang dipenuhi mayat.
"Para bandit ini mati diserang oleh sesuatu... Tapi apa?" sahut seorang ksatria, suaranya terdengar penuh kebingungan.
Di dekatnya, seorang ksatria lain tengah berjongkok, memeriksa salah satu mayat yang tergeletak di tanah. Dia menyentuh luka di dada korban yang tampak jelas seperti tembakan jarak jauh. "Lihat ini, luka tembus ini seperti hasil dari senjata jarak jauh. Tapi... siapa yang bisa melakukannya dari jarak sejauh itu?"
Leonard, yang mengamati dari balik kerumunan ksatria, mulai menarik kesimpulan dalam pikirannya. Berdasarkan situasi yang terjadi, ia berasumsi bahwa mungkin ada kelompok Assassin dari ibu kota yang telah diam-diam membantu mereka. Logikanya tajam, menimbang setiap kemungkinan. Baginya, segalanya tampak seperti bagian dari rencana yang cermat untuk melindungi rombongannya dari serangan pemberontak.
Namun, apa yang tidak diketahui Leonard adalah kenyataan yang lebih rumit, bahwa ada pihak ketiga yang sebenarnya turun tangan dalam pertempuran ini, dan mereka melakukannya tanpa diketahui oleh siapa pun di medan laga.
***
Di sisi lain, di puncak bukit yang menghadap ke lembah, seorang gadis harimau putih duduk gelisah. Dia adalah gadis yang sebelumnya diminta Yudha untuk tetap diam di tempat. Namun, rasa penasarannya mengalahkan perintah itu. Dia tak dapat menahan keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di bawah sana.