POV Yudha
Aku berusaha menjelaskan situasi kepada mereka. Satu per satu, cerita kuurai, namun aku bisa melihat keraguan yang tersirat di mata mereka. Mereka tampak kesulitan mempercayai bahwa akulah yang telah menghabisi puluhan bandit ini.
Seorang lelaki tua, yang sepertinya menjadi pemimpin mereka, mengernyitkan dahi. Keraguan jelas terlihat di wajahnya. “Kau yang membunuh mereka semua? Bagaimana caranya?” tanyanya, suaranya dipenuhi kebingungan. Namun, nada bicaranya berubah menjadi yakin ketika dia menambahkan, “Tidak, aku bisa merasakan aura pembunuhmu. Itu cukup meyakinkan kami. Kau memang pelakunya.”
Aura pembunuh? pikirku, bingung dengan apa yang ia maksud. “Aku tidak mengerti,” gumamku dengan jujur.
Ketegangan mulai terasa. Para anggota rombongan terdiam saat mendengar pernyataan lelaki tua itu. Alis mereka terangkat, menampakkan campuran antara kekaguman dan keraguan.
Seorang pendekar wanita di antara mereka terperangah. “Apa?! Jadi dia memang orangnya?” bisiknya tak percaya.
“Bagaimana dia bisa melakukan semua itu? Apakah dia menggunakan ilmu sihir?” tanya pendekar pria yang berdiri di dekatnya, nadanya dipenuhi ketidakpercayaan.
Lelaki tua itu kembali memandangku. “Apa kau utusan dari ibu kota?” tanyanya.
“Bukan,” jawabku sambil berhati-hati memilih kata. “Saya hanya kebetulan lewat dan melihat kekacauan ini dari atas bukit. Jadi, aku memutuskan untuk turun tangan.”
Lelaki tua itu memandangku dengan tatapan penuh penilaian. Walau keraguan masih membayang, ada penghargaan yang mulai muncul di matanya. “Jika benar begitu, terima kasih, Anak muda. Tanpa bantuanmu, kami mungkin tidak akan selamat. Tindakanmu mencegah bencana besar antara dua kerajaan,” ucapnya dengan nada tulus.
Aku terkejut, alisku terangkat tinggi. “Bencana antara dua kerajaan? Apa maksudnya?” tanyaku penasaran.
Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan. Ternyata, para bandit yang kuhadapi adalah pemberontak dari Kerajaan Sivieth yang melarikan diri ke hutan ini setelah dikejar oleh pasukan kerajaan mereka. Tujuan mereka bukan hanya sekadar bersembunyi, melainkan juga memicu ketegangan dengan Kerajaan Elceria. Jika lelaki tua ini, yang rupanya diplomat penting, tewas di tangan mereka, maka Elceria pasti akan menuding Sivieth sebagai dalang pembunuhan tersebut. Itu akan menjadi percikan api yang memicu perang besar.
"Keberadaan para pemberontak ini ibarat bom waktu yang siap meledakkan konflik," jelasnya, wajahnya serius. "Ambisi mereka adalah merebut kembali takhta Kerajaan Sivieth. Kami sempat mendapat laporan tentang persembunyian mereka di hutan Fluoran saat berada di Sivieth. Maka dari itu, kami memutuskan berjaga-jaga saat kembali."
Setelah penjelasan panjang, lelaki tua itu tersenyum, walau ragu tetap mengintai di matanya. “Karena kau telah menyelamatkan kami, kau layak mendapatkan penghargaan, Anak muda. Kami berhutang nyawa padamu.”
Namun, seorang pendekar wanita dengan pakaian serba hitam memotong, nada suaranya dingin. “Tunggu, Tuan Leonard. Jangan terburu-buru percaya padanya. Aura pembunuhnya terlalu kuat. Aku ragu niatnya baik,” katanya dalam bahasa yang tidak kumengerti.
Lelaki tua, yang ternyata bernama Leonard, menatapku lekat-lekat. “Beberapa orangku masih meragukanmu. Mungkinkah kau bisa mengendalikan atau bahkan menghilangkan aura pembunuh itu?”
Aku tersentak. Baru kusadari bahwa mereka bisa merasakan sesuatu dariku yang tidak aku sadari. Mungkin semacam aura atau energi yang bagiku tak terlihat. Bahkan gadis harimau putih yang selalu menemaniku tidak tampak terganggu dengan keberadaanku.
“Aura pembunuh? Saya benar-benar tidak tahu apa yang kalian maksud,” jawabku bingung.
Tuan Leonard tampak terkejut, seolah tidak percaya dengan jawabanku. “Kau tidak menyadarinya? Semua orang di sini bisa merasakannya. Mengapa kau tidak bisa?”
Beberapa anggota rombongan yang menyaksikan percakapan kami terlihat semakin bingung, mungkin karena perbedaan bahasa yang digunakan. Aku masih belum bisa memahami apa sebenarnya aura pembunuh yang mereka bicarakan.