Tuan Leonard, yang sejak tadi memantau situasi, akhirnya melangkah mendekat. Setelah memberikan beberapa instruksi kepada prajuritnya, dia beralih ke arahku. Di sisi lain, Nona Chinua masih memarahi adik seperguruannya, Chengiz, yang meskipun berwajah sangar, tampak tak berkutik di hadapan sang kakak.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Tuan Leonard padaku.
"Saya belum sepenuhnya yakin dengan motif para pelaku. Tapi dugaan saya, mereka terkait dengan kelompok pemberontak. Mereka tahu saya dan Syira bergabung dengan kelompok ini, jadi mereka mengirim penyusup untuk menyerang kami," jawabku sambil berusaha merangkai analisis.
"Apakah ini ada hubungannya dengan masalah pribadimu dengan mereka?" lanjutnya.
"Kemarin pagi, saat kami masih di hutan, perkemahan kami diserang oleh kelompok tak dikenal. Saya berhasil mengalahkan mereka, tapi satu orang lolos," kataku menjelaskan.
Syira, yang berdiri tak jauh, menyela dengan nada polos, "Jadi itu sebabnya Tuan pergi lama kemarin? Kenapa gak bilang-bilang?"
Aku menghela napas, lalu membelai kepalanya dengan lembut. "Maaf, aku gak mau kamu khawatir. Lagi pula, kamu masih kecil. Aku takut kamu panik, dan... ada masalah bahasa juga, jadi gak mudah menjelaskan semuanya ke kamu."
Tuan Leonard tampak merenung, menyusun potongan-potongan informasi. "Hmm... jadi begitu. Mungkin saja mereka mengejarmu karena dendam, apalagi kau membawa gadis ini. Ditambah lagi, tadi siang kau berhasil mengalahkan pasukan pemberontak. Itu pasti makin memperkeruh situasi. Tapi tetap saja aneh. Kalau memang target mereka hanya balas dendam, kenapa mereka tidak langsung mengincar aku?"
Aku mencoba menjelaskan, "Mereka mungkin menganggap risiko menyerang pos ini terlalu besar. Chengiz selalu berjaga di pintu masuk, dan serangan frontal pasti berakhir buruk untuk mereka. Selain itu, jeruji besi di jendela juga membuat mereka sulit menyelinap masuk. Bahkan jika mereka berhasil melewati semua itu, Nona Chinua pasti akan menghadang mereka dengan kekuatannya. Jadi, mereka memusatkan perhatian pada saya dan Syira-target yang dianggap lebih mudah."
Tuan Leonard mengelus janggutnya, merenungkan penjelasanku. "Hmm... skenario yang kau gambarkan masuk akal. Tapi satu hal masih mengganjal. Bagaimana mereka bisa tahu kau adalah orang yang bertanggung jawab atas pembantaian pemberontak itu?"
"Mungkin mereka punya mata-mata," jawabku sambil melirik ke arah lain. "Ada kemungkinan mata-mata itu melihat saya saat bertarung kemarin dan melaporkannya ke atasan mereka. Tapi ini baru dugaan."
Tuan Leonard mengangguk pelan. "Ya, masuk akal. Mata-mata adalah taktik umum dalam perang seperti ini."
Syira, yang tampak semakin gelisah, bertanya dengan nada khawatir, "Terus... kalau mereka datang lagi, gimana, Tuan?"
Aku menghela napas panjang, merasa lelah memikirkan situasi ini. "Entahlah, Syira. Kalau mereka berani datang lagi, ya, mau gak mau aku harus melawan. Jujur, aku malas terlibat lebih jauh, tapi semuanya sudah terlanjur begini. Kita cuma bisa bertahan."
"Tenanglah, Nak Yudha," Tuan Leonard menepuk bahuku dengan lembut. "Sebagai balas budi, aku akan menjamin keselamatan kalian berdua. Tidak ada yang akan menyentuh kalian selama kalian ada di bawah perlindunganku."
Aku mengangguk, merasa sedikit lega. "Saya sangat menghargai itu, Tuan. Tapi saya harap kita bisa meninggalkan tempat ini secepat mungkin."
"Tentu. Kita akan bergerak sebelum pagi tiba," jawabnya tegas. "Sekarang, sebaiknya kau kembali istirahat. Aku akan memastikan penjagaan malam ini diperketat."
Tuan Leonard berjalan pergi dengan langkah mantap. Saat melewati Nona Chinua, dia berbisik sesuatu yang membuat Nona Chinua mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya ke salah satu penyusup yang masih tak sadarkan diri.
"Malam ini, tingkatkan keamanan!" perintahnya dengan nada penuh otoritas.
"Siap, Tuan!" jawab para penjaga serempak, suaranya memenuhi udara malam yang dingin.