The Destiny Of Parallel Worlds: Chosen As The Hero Commander (Ghost of Fluoran)

Eternity Universe
Chapter #18

CHAPTER 16 : Metode Sesat

Pria itu meronta dengan mulut tersumpal kaus kaki bau yang sudah jadi senjata andalanku. Matanya melotot, sementara teriakan tak jelas keluar dari balik sumpalan.

"Awawun yang au lalulan ada ku ercuma! Au idak aan biara lai!!" (Apapun yang kau lakukan pada ku percuma. Aku tidak akan bicara lagi!!) katanya, meski artikulasinya hampir tak bisa dipahami.

Sebenarnya aku malas sampai harus menggunakan metode "ekstra brutal" ini, tapi apalagi yang bisa kulakukan? Mengorek informasi dari pemberontak kepala batu seperti dia memang tidak akan mudah. Andai saja aku punya akses ke sihir pemindai pikiran, semuanya pasti lebih cepat.

Dengan nada serius, aku menoleh pada Nona Chinua yang berdiri memeluk dada sambil mengamatiku dengan tatapan yang sulit diterka.

"Nona, kalau nggak keberatan, sebaiknya pergi dulu. Aku bakal ngelakuin sesuatu yang... yah, mungkin bikin kamu nggak nyaman."

Chinua mengangkat alis, jelas tidak senang dengan permintaanku. "Kenapa? Kamu takut aku nggak tahan? Apa maksudmu ngusirku?" katanya ketus, nadanya mempertanyakan otoritasku.

Aku menghela napas, lalu memasang senyuman tipis. "Yah, nggak ngusir juga sih. Kalau mau lihat, silakan aja. Tapi jangan tutup mata ya."

"Hah? Tutup mata? Emangnya aku bakal lihat apa—" kalimatnya terpotong begitu aku mendadak menjulurkan tangan dan melorotkan celana pria itu.

"HEEEY! APA YANG KAMU LAKUKAN!?" pekik Chinua panik, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Loh? Katanya mau lihat? Kok malah tutup mata?" ejekku santai sambil menyeringai.

"Aku nggak mau lihat adegan menjijikkan kayak gitu! Dasar nggak punya sopan santun!" Chinua mendengus kesal dan berbalik pergi. Tapi aku bisa mendengar gumamannya yang samar, "Anak muda zaman sekarang... Vulgar sekali!"

Setelah dia pergi, aku merasa lebih lega. Interogasi semacam ini memang lebih nyaman tanpa ada penonton yang sok moralis. Chengiz, partnerku yang tadi diam saja, mendekat sambil berbisik.

"Yudha, serius... Apa ini cara yang efektif?"

"Ah, nanti aja aku kasih tutorialnya," balasku santai.

Sementara itu, pria yang masih dalam posisiku langsung berontak lebih keras, ekspresinya campuran antara marah dan takut.

"Kafu, mou ngafain hee!?" (Kamu mau ngapain ha?)

Aku memutar sangkur di tanganku, sengaja membuat kilatan pisaunya memantul di matanya.

"Bro, serius deh. Coba aja jujur dari awal. Kan enak, nggak perlu ada adegan memalukan kayak gini."

Pria itu meronta lagi, tapi kali ini suara paniknya lebih kentara. "Lefain auu arhgg!!" (Lepasin aku arghhh!!)

Mataku menyipit. Dengan nada dingin, aku mencondongkan badan ke arahnya. "Cepat bilang. Semua. Kalau nggak..." Aku sengaja berhenti, memainkan sangkur di depan wajahnya, sebelum menunjuk ke area paling sensitifnya sambil membuka kaus kaki dari mulutnya.

"...adik kecilmu ini bakal kena hukuman. Pilih mana?"

Pria itu membelalak, keringat mengucur deras di pelipisnya. "B-bunuh saja aku! Tapi jangan potong itu!!" teriaknya histeris.

Aku tertawa jahat, nada sadisku mengisi udara.

"Oooh, membunuhmu terlalu gampang. Dan jujur, nggak memuaskan. Tapi kalau aku potong ini..." Aku menekan ujung pisau ke arahnya, membuat dia semakin panik. "...itu setimpal dengan semua kejahatanmu, kan?"

Lihat selengkapnya