POV 3
Tak ada waktu untuk berpikir dua kali saat Albert memanggil mereka. Aran dan Urara segera bergegas menuju markas fraksi sayap kanan yang tersembunyi dalam kerimbunan hutan. Seperti dua bayangan yang terlatih, mereka berlari dengan kecepatan luar biasa melewati helai-helai rumput dan melompati dahan-dahan pepohonan seperti seorang ninja yang terampil.
"Ya ampun, apakah perjalanan ini tidak pernah berakhir? Kakiku ini sudah terasa pegal sekali," keluh Urara sesenggukan, napasnya terengah-engah.
Aran menoleh padanya sejenak, wajahnya dipenuhi ketegasan. "Sepertinya perjalanan ini akan memakan waktu yang lebih lama dari yang kita bayangkan," jawabnya.
Urara menggelengkan kepalanya, mata cemerlangnya penuh dengan kebingungan. "Ya ampun, mengapa kau menerima tawaran dari pria misterius itu? Semuanya terasa ceroboh dan jauh dari rencana kita."
"Aku menerimanya karena..." Aran berbicara dengan penuh ketegasan, ia pun menjelaskan topik pembicaraan yang telah ia diskusikan dengan pria misterius yang menemuinya sebelumnya. Kata-kata Aran mengalir dengan deras, mengisi udara dengan ketidakpastian dan ketegangan yang seakan-akan menjepit hati Urara.
Mendengar rencana yang terbukti semakin rumit dan berbahaya tersebut, Urara merasakan denyut nadi dalam dadanya semakin kencang.
Antusiasme yang membara dalam dirinya diwarnai oleh kegugupan akan konsekuensi yang mungkin dihadapi. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan membulatkan tekadnya untuk menerima tawaran yang akan diberikan Albert.
"Jadi begitu, ya... Baiklah, sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik," ucap Urara dengan penuh semangat, mencoba membantah kegelisahannya dengan kata-kata yang berapi-api.
Mereka segera mengambil langkah cepat, meluruskan pikiran pada tugas yang telah menantinya. Dahan-dahan pepohonan terlihat melintas dengan cepat di samping, dan mereka menghilang di antara dedaunan tanpa meninggalkan jejak yang terlihat bagi mata biasa.
Hanya petunjuk samar dari kerusakan pepohonan yang tersisa sebagai bukti kehadiran mereka yang sekarang bergerak menuju sebuah takdir yang tak dapat dihindari.
POV Yudha
Setelah kami berbincang lama, aku memperhatikan Syira yang terdiam dan tampak sangat lemah. Aku khawatir padanya dan menanyakan kondisinya.
"Syira, ada apa? Kamu mual?" tanyaku dengan khawatir.
Namun, Syira hanya memegang perutnya dengan lesu dan tak menjawab. Tiba-tiba, suara Tuan Leonard menyela dengan senyum di wajahnya, "Sepertinya dia mengalami mabuk kendaraan,"
Aku sudah menduganya. "Ya ampun, Syira. Mungkin kamu belum terbiasa, kan?" ucapku dengan simpati.
Hanya dengan menganggukkan kepala, Syira mengakui perkataanku. Sebelumnya, aku telah memprediksi bahwa hal ini mungkin terjadi. Untuk berjaga-jaga, aku telah mempersiapkan beberapa helai daun tumbuhan dengan aroma khas yang mungkin dapat meredakan rasa mualnya.
Aku tidak pernah mempelajari hal ini dari pelatihan manapun, hanya sebatas pengalaman pribadi ketika mengalami mabuk kendaraan dulu. Ketika dulu aku pergi ke sekolah, tanpa sengaja menemukan sebatang pohon jambu biji dengan aroma daun yang khas di sebuah halte. Aku yakin aroma khas itu mampu meredakan mabuk kendaraan, dan ternyata benar, tips ini sangat efektif saat di coba.
Aku juga mencoba menggunakan jenis dedaunan dari tanaman lain seperti serai dan kemangi. Dan ternyata, keduanya memberikan efek serupa. Sejak saat itu, aku mulai menerapkan tips ini untuk menghindari mabuk kendaraan saat bepergian.
Tentu saja, menggunakan aromaterapi atau minyak kayu putih akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk meredakan mabuk kendaraan. Namun, tips ini bisa digunakan untuk alternatif lain.
Harap diperhatikan bahwa tips di atas hanya didasarkan pada pengalaman pribadi dan hasil pengujian berdasarkan kondisi diriku sendiri. Tidak ada penelitian ilmiah yang valid yang mendasari cara ini benar-benar efektif dalam meredakan mabuk kendaraan. Setiap individu mungkin memiliki respons yang berbeda terhadap metode ini.