The Destiny Of Parallel Worlds: Chosen As The Hero Commander (Ghost of Fluoran)

Eternity Universe
Chapter #21

CHAPTER 19 : Sindikat

POV 3

Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, pria berseragam dengan pangkat tinggi itu berdiri di hadapan mereka. Wajahnya tampak pucat, dan butiran keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya. Dengan suara gemetar, ia berbicara, "Bukankah kalian adalah para pendekar yang disebut-sebut oleh Tuan Albert?"

Urara, dengan pandangan tajamnya yang penuh rasa jengkel, melipat tangan di dada. "Kami tidak tahu siapa itu Albert, dan jujur saja, kami juga tidak peduli. Yang kami tahu, kami diundang ke sini. Sebelum mengarahkan senjata kepada kami, didik dulu anak buahmu agar tidak sembarangan menyerang orang," katanya dengan nada ketus.

Pria itu menelan ludah, jelas merasa bersalah. "Saya... Saya mohon maaf atas kesalahan mereka. Kami tidak menyangka kalian akan tiba secepat ini. Kami pikir perjalanan kalian akan memakan waktu lebih lama, jadi kami belum sempat mempersiapkan penyambutan."

"Hah! Apa kalian mengira kami selemot Kumara? Jangan remehkan kami!" Urara mendengus, meskipun di dalam hati ia merasa tubuhnya hampir roboh karena kelelahan. Namun, dengan bangga, ia menyembunyikan kelemahannya di balik sikap angkuhnya.

(Kumara: Reptil raksasa yang sering digunakan sebagai alat transportasi di dunia ini. Tubuhnya menyerupai kura-kura, tetapi dengan ukuran yang jauh lebih besar dan gerakan yang lambat.)

Pria itu menunduk dalam-dalam, suaranya semakin memohon, "Kami benar-benar minta maaf! Anak buahku hanya menjalankan tugas menjaga tempat ini agar tetap tersembunyi. Kami tidak bermaksud menyinggung kalian."

Aura pembunuh yang melingkupi Aran seketika mereda. Ia menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada Urara untuk menenangkan diri. "Cukup. Lupakan apa yang terjadi. Bawa kami kepada pemimpin kalian," katanya dengan dingin, nadanya tak menunjukkan emosi apa pun.

Namun, Urara jelas tidak puas. "Hah? Melupakan saja? Jangan bercanda, Aran! Perlakuan mereka tadi sama sekali tidak bisa dimaafkan. Kau terlalu lembek!"

Aran menatapnya tanpa ekspresi, tatapannya tajam seperti mata pedang. "Sudahlah, Nona Urara. Jangan buang waktu kita hanya untuk mengurusi hal kecil seperti ini. Fokus pada misi. Kau tentu tak ingin dia marah, bukan?"

Kalimat itu langsung menghentikan protes Urara. Wajahnya menegang seketika. Ia mendengus kesal, meskipun jelas terlihat ia enggan melawan perintah yang baru saja didengar. "Cih, baiklah. Aku tidak mau mendapat hukuman hanya karena hal ini." Namun, tiba-tiba ia melipat tangan dengan gerakan teatrikal, sambil menyipitkan mata ke arah Aran. "Tapi tunggu dulu, hei. Bukankah aku ini seniormu? Kenapa kau malah bersikap seolah-olah mengaturku?"

Aran tak mengubah nada dinginnya. "Senior atau bukan, kau hanyalah rekan misi. Tidak lebih, tidak kurang."

Kata-kata itu menusuk seperti anak panah. Untuk pertama kalinya, Urara tampak kehilangan kata-kata. Selama ini, ia mungkin menganggap dirinya lebih penting bagi Aran. Namun kenyataan bahwa ia hanya dianggap sebagai rekan biasa membuat dadanya terasa sesak.

Pria berseragam yang menyaksikan ketegangan itu mencoba meredakan suasana. Ia melangkah maju dengan gerakan kaku. "Mohon maaf sebelumnya, Tuan dan Nona. Kalian ingin bertemu Tuan Albert, bukan? Jika berkenan, izinkan saya memandu kalian menuju tempatnya."

Aran mengangguk ringan, sikapnya tetap dingin seperti es. "Kalau begitu, pimpin jalannya," ujarnya singkat. Tidak ada kata tambahan, tidak ada basa-basi.

Urara hanya mendengus kecil, menutupi perasaan yang ia simpan sendiri. Dalam hati, ia sudah bertekad untuk membalas dinginnya perlakuan Aran suatu saat nanti. Namun, untuk saat ini, ia harus menuruti perintah dan melanjutkan misi.

***

Petinggi itu kemudian mengawal kedua sosok kuat itu mendekati Albert dengan langkah mantap. Wajah mereka serius, tampaknya siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Albert tahu bahwa saat ini dia berada dalam situasi yang kritis, dihadapkan pada orang-orang yang memiliki kekuatan besar dan mungkin tengah berada dalam amarah.

Lihat selengkapnya