'GUAAARRRRR!'
Raungan memekakkan telinga menggema di tengah hutan, membuat udara siang yang panas berubah menjadi mencekam. Seekor makhluk raksasa menyerupai T-Rex muncul dari balik pepohonan. Tubuhnya menjulang hingga lima meter dengan panjang hampir delapan meter, mengintimidasi siapa saja yang melihatnya.
Punggungnya dilapisi sisik merah kristal yang memantulkan cahaya matahari, memancarkan kilau tajam nan berbahaya. Deretan sisik tajam memanjang dari ekor hingga leher, seolah siap mencabik apa pun yang mendekat. Wujudnya menyerupai mimpi buruk yang menjadi nyata.
“Jangan panik! Bentuk barikade! Lindungi wagon!” seru Kapten Ksatria dengan suara lantang, memimpin pasukannya yang segera merespons serempak, “Siap!”
“Sialan, kenapa Naga Dolagos muncul di sini?!” umpat Tuan Leonard dengan nada putus asa.
“Naga Dolagos?” gumamku sambil menatap makhluk itu lebih lekat. Tubuhku mendadak kaku, mencoba memahami ancaman di hadapan kami.
Di sebelahku, Syira tampak gemetar. “Tuan Yudha, apa... apa kita akan selamat?” tanyanya dengan suara lirih, hampir terisak.
Aku menghela napas, menahan rasa takut yang menggigit. “Kita pasti selamat. Percayalah pada mereka,” jawabku, mencoba menenangkan.
“Tapi monster itu—”
“Ssst! Percaya aja. Mereka pasti bisa mengatasinya,” potongku, berusaha terdengar meyakinkan.
Di luar wagon, suasana semakin panas. Para prajurit bergerak cepat, menyusun barikade dengan perisai besar yang melindungi kami seolah menjadi benteng terakhir. Masing-masing dari mereka memancarkan tekad, meski rasa takut tersirat di wajah mereka.
“Aku sudah bilang, jalur laut lebih aman!” keluh Chengiz dengan nada gusar. Matanya tak lepas dari monster itu, genggaman pada kapaknya semakin kuat.
Aku menoleh, mengingat obrolan kami sebelumnya. Chengiz selalu menyarankan agar kami mengambil jalur laut menuju Tura, tapi ancaman monster laut dan badai besar membuat Tuan Leonard memilih melintasi hutan Fluoran. Meski terlihat lebih aman di atas peta, hutan ini menyimpan misteri dan bahaya yang tak kalah mengerikan.
“Makhluk itu tidak sebanding denganku!” suara penuh percaya diri memecah ketegangan.
Semua mata tertuju pada Nona Chinua, yang melompat turun dari kudanya dengan gerakan lincah. Rambutnya berkibar tertiup angin, pedang peraknya berkilat saat ia menariknya dari sarung. Tanpa ragu, ia melangkah ke arah Naga Dolagos, tatapannya penuh keberanian.
“Kau akan menyesal muncul di hadapanku!” serunya dengan nada tajam, menghadapi makhluk raksasa itu seorang diri.
'GUAARRRR!'
Suara menggelegar dari mulut Naga Dolagos menggema, membuat udara terasa mencekam saat monster itu bersiap menghadapi serangan Nona Chinua.
"Hiaakk~ Tebasan Pengoyak Bumi!!" Nona Chinua melancarkan jurusnya, pedangnya terangkat dengan gerakan cepat, membabat ke arah leher naga tersebut.
'SRING!!!'
'BOOM!'
Serangan vertikal Nona Chinua berhasil mengoyak leher monster itu. Namun, yang mengejutkan, luka tersebut segera sembuh dengan cepat, seolah-olah tubuh naga mampu meregenerasi dirinya sendiri.
Nona Chinua terpana, suaranya gemetar, "Apa!? Seranganku sia-sia?"
Akupun tak kalah terkejut dengan regenerasi dari naga tersebut. "Bjir, regenerasi?" gumam ku. Ini kali pertama ku menyaksikan kemapuan regenerasi secara langsung.
Pandangan ku kini menatap Chengiz. Tanpa ragu, pria berkapak itu mengambil giliran. Dengan semangat yang membara, ia berteriak, "Giliranku sekarang! 'Teknik Menghujam Batu!!'"
Begitu kata-katanya bergema, T-rex kembali mengeluarkan raungan menggetarkan.
'GUAARRRR!'
Chengiz meluncurkan serangannya dengan kekuatan luar biasa, namun sebelum serangannya bisa mengenai sasaran, ekor T-rex bergerak dengan kecepatan mengejutkan. Dalam sekejap, ekornya menghantam dengan kekuatan dahsyat.