The Destiny Of Parallel Worlds: Chosen As The Hero Commander (Ghost of Fluoran)

Eternity Universe
Chapter #24

CHAPTER 22 : Trauma

"Nona Chinua, apa kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan nada khawatir. Aku benar-benar cemas setelah melihat serangan brutal monster itu tadi.

"Monster itu butuh seratus tahun untuk melukaiku. Serangan seperti itu sama sekali nggak berarti," jawabnya dengan sedikit angkuh, memamerkan kepercayaan dirinya yang luar biasa.

Aku tertegun. Siapa sebenarnya Nona Chinua? Gerakannya yang lincah dan tangkas, serta caranya melawan monster tadi, jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendekar tingkat tinggi. Penasaranku semakin memuncak.

Namun, mataku tertuju pada sebuah batu berkilauan di tangannya. Batu itu tampak seperti sumber kekuatan dari monster yang baru saja kami kalahkan. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Benda itu apa?" tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kamu bercanda, kan? Ini inti mustika monster. Bahkan gelang yang kamu pakai sekarang terbuat dari ini," jawabnya sambil mengangkat alis, terlihat heran dengan ketidaktahuanku.

Aku terkejut. "Gitu ya? Aku sama sekali nggak tahu soal itu."

Nona Chinua hanya menepuk keningnya, tampak kesal. "Coba pikir, gimana kamu bisa bertahan hidup di dunia ini kalau nggak tahu hal mendasar tentang monster dan kekuatan mereka?"

Dia benar. Aku benar-benar harus belajar lebih banyak tentang dunia ini, tentang sihir, monster, dan logika yang mengatur semuanya. Dugaanku tepat, batu itu memang menjadi sumber kekuatan monster tersebut.

"Udah, jangan terlalu dipikirin. Yang penting sekarang, kita harus bantu para prajurit ini," ucapnya, memandang sekitar dengan tatapan prihatin.

Aku mengikuti pandangannya. Pemandangan di sekitar kami suram. Prajurit-prajurit terluka tergeletak, beberapa bahkan hampir tidak bergerak. Luka-luka mereka bervariasi, dari yang ringan hingga yang mengerikan. Rasa putus asa mulai melanda kami.

"Apa nggak ada cara instan untuk menyembuhkan mereka?" tanyaku, masih mencari solusi.

"Cara instan ada, tapi hanya orang-orang tertentu yang punya kemampuan itu. Biasanya, tabib yang bekerja di bawah naungan katedral. Mereka punya keahlian penyembuhan yang efektif. Tapi... mereka nggak murah. Tabib seperti itu biasanya memasang tarif tinggi, dan nggak semua orang mampu membayar," jelas Nona Chinua dengan nada bimbang.

Penjelasannya membuatku geram. Betapa moralitas di dunia ini tampak hilang, bahkan dalam hal menyelamatkan nyawa. Mungkin, salah satu alasanku berada di dunia ini adalah untuk mengubah sistem yang kacau ini.

"Apa kamu bisa melakukan sesuatu dengan sihirmu?" tanyaku, berharap dia memiliki solusi.

"Aku bisa, tapi ada batasnya. Selain itu, teknikku berbeda dari kebanyakan orang di negara ini. Aku hanya mampu menyembuhkan satu orang saja, dan adikku selalu menjadi prioritas," jawabnya, suaranya dipenuhi nada perhatian.

Penjelasannya membuatku sadar bahwa sihir penyembuhan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari sembarangan. Mungkin butuh bakat alami dan dedikasi besar untuk menguasainya.

Tiba-tiba, Tuan Leonard turun dari wagon dengan wajah penuh keprihatinan. Syira mengikutinya dengan hati-hati, matanya menyapu pemandangan sekitar. Dia tampak terguncang melihat para prajurit yang terkapar.

"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Tuan Leonard dengan suara penuh putus asa.

"Hal buruk memang sulit dihindari, Tuan Leonard. Mari kita hadapi dengan kepala tegak," kataku, mencoba mengembalikan semangatnya.

Dia mengangguk, meski masih terlihat berat. "Ya, kau benar. Mari kita lakukan yang terbaik untuk merawat mereka."

Lihat selengkapnya