THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #2

Senyum Palsu dan Pesan Hantu

Senyum Palsu di Balik Layar Kaca Alya menyukai angka ini: 7,8 detik.

Angka itu adalah metrik kesuksesan, sebuah mantra digital yang ia ulangi setiap hari, dibisikkan seperti doa sebelum tidur dan dibaca ulang seperti kitab suci saat bangun. Tujuh koma delapan detik adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan followers-nya untuk menggulir, melihat, dan menekan ikon hati pada foto yang baru ia unggah. Tujuh koma delapan detik untuk mengagumi senyumnya yang sempurna, yang membutuhkan waktu dua puluh menit di depan cermin dan lapisan lip-gloss mahal seharga enam ratus ribu rupiah. Mereka melihat kemeja sutra dari butik desainer lokal, sudut pengambilan gambar yang cermat agar cahaya pagi memeluk tulang selangkanya, dan latar belakang balkon apartemen di lantai 35 yang dipenuhi tanaman artifisial yang daunnya lebih hijau daripada tanaman asli mana pun yang pernah ia rawat dan biarkan mati karena lupa disiram.

Alya tahu persis di mana harus berdiri agar bayangan pot bunga jatuh tepat di sudut ketiga bingkai. Ia tahu berapa derajat kepalanya harus dimiringkan agar rahangnya terlihat lebih tirus. Ia tahu, dengan presisi seorang insinyur, kapan harus menahan napas selama pengambilan gambar agar perutnya tidak terlihat kembung setelah makan siang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia makan.

Semua itu adalah arsitektur. Semua itu adalah rekayasa. Dan Alya adalah arsiteknya sendiri, sekaligus tahanannya.

"Sempurna. Ekspresi mata ini menunjukkan kebahagiaan yang sedikit lelah, tapi masih bisa diajak hangout. Tahan, Ly," gumam Alya pada bayangannya sendiri di layar ponsel. Ia menekan tombol post dan menyertakan caption ringan: "Sunday bliss. Hope you guys are having a productive weekend! xx"

Bohong.

Alya tidak merasakan bliss sedikit pun. Yang ia rasakan hanyalah sisa kelelahan mental setelah berjuang melawan gravitasi ranjang selama dua jam hanya untuk menghasilkan konten yang memenuhi kontrak mingguannya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia benar-benar menikmati akhir pekannya tanpa menghitung engagement rate atau menganalisis waktu terbaik untuk mengunggah. Ada masa, bertahun-tahun lalu, ketika hari Minggu berarti tidur siang tanpa alarm, film lama di televisi kabel, dan bau kopi yang diseduh terlalu lama karena tidak ada yang terburu-buru. Ia tidak ingat lagi rasanya.

Begitu notifikasi Instagram mulai mereda, setelah lonjakan awal yang memabukkan, ratusan likes dalam lima menit pertama seperti candu yang menyuntik langsung ke pembuluh darah, Alya meletakkan ponselnya di meja kaca dengan bunyi klak yang tajam. Saat itulah ia mengizinkan persona Alya si Influencer ambruk, seperti tirai panggung yang jatuh setelah tepuk tangan terakhir memudar.

Senyum itu lenyap. Mata almond-nya yang tadi tampak berbinar kini hanya menyisakan bayangan kelelahan yang tebal, cekungan ungu tipis yang selalu ia tutupi dengan concealer seharga satu setengah juta rupiah per pot kecil. Alya adalah seorang Digital Influencer dengan hampir lima puluh ribu pengikut yang taat, tetapi ironisnya, privasi dan kebahagiaannya adalah dua hal yang tidak pernah ia bisa influence dalam hidupnya. Ia bisa mengubah pendapat lima puluh ribu orang tentang serum wajah mana yang harus mereka beli, tetapi ia tidak bisa mengubah caranya sendiri bernapas ketika malam turun dan apartemennya menjadi sunyi.

Alya berdiri, merasakan otot punggungnya menegang setelah berjam-jam membungkuk di depan kamera. Ia berjalan tanpa alas kaki di atas lantai marmer yang dingin, menikmati sensasi nyata yang menusuk telapak kakinya, salah satu dari sedikit sensasi di hidupnya yang tidak perlu diedit, tidak perlu difilter, tidak perlu disetujui siapa pun sebelum ia boleh merasakannya.

"Ganti baju. Singkirkan sutra ini," perintahnya pada diri sendiri, seolah tubuhnya adalah karyawan yang harus diberi instruksi tegas agar tidak lalai.

Ia hidup dalam dikotomi yang brutal: dunia luar yang cerah, penuh kolaborasi merek mewah, dan pujian yang mendesis di kolom komentar, dan dunia dalamnya yang sunyi, dijaga ketat, dan dilanda paranoia. Dua dunia itu tidak pernah bertemu. Tidak boleh bertemu.

Paranoia itu. Itu adalah bekas luka dari dua tahun lalu, yang tidak akan pernah hilang, sebagaimana bekas luka bakar tidak pernah benar-benar kembali menjadi kulit yang sama.

Alya duduk di ujung ranjang king size-nya yang terlalu besar untuk satu orang. Tangannya otomatis meraih remote dan menyalakan layar CCTV mini yang dipasang di dinding. Itu bukan remote televisi; itu adalah pusat kendali keamanan pribadinya, sebuah ritual malam yang ia lakukan lebih setia daripada ritual apa pun yang pernah diajarkan agama atau ibunya. Layar itu menampilkan empat sudut apartemen, satu di pintu masuk (sudut pandang 170 derajat), satu di ruang tamu (meliputi balkon), satu di dapur, dan yang paling penting, satu menghadap lorong luar apartemennya, tersembunyi di balik pot tanaman gantung palsu yang daunnya sengaja ia biarkan berdebu agar tidak menarik perhatian.

Semua sistem tampak aman, semua feed terenkripsi berlapis-lapis. Laptop-nya yang sekarang tertutup di meja kerjanya selalu dimatikan total jika tidak digunakan, dan kamera web-nya ditutup rapat dengan pita hitam tebal, kebiasaan yang membuat teman-temannya menertawakannya sebagai "terlalu paranoid untuk seorang yang hidup dari kamera."

Dia belajar dengan sangat keras bahwa kepercayaan adalah celah terburuk dalam sistem keamanan pribadi. Bukan dari buku, bukan dari seminar keamanan siber yang pernah ia hadiri demi konten sponsor, tetapi dari pengalaman yang membakar dirinya hingga ke tulang.

Pikiran Alya kembali ke Arga. Dua tahun lalu, Arga adalah pacarnya, manajer media sosialnya, dan, ternyata, psikopat yang sangat pandai menyembunyikan identitas aslinya di balik senyum hangat dan cara bicara yang selalu tahu apa yang ingin didengar orang lain. Arga tidak hanya menghancurkan karir Alya yang baru merangkak, tetapi juga mencuri semua data pribadi, foto, dan jurnal digital Alya, mengancam untuk membocorkan, dan meninggalkannya dengan trauma yang begitu dalam sehingga selama enam bulan Alya tidak sanggup mengunci pintu kamar mandi tanpa memeriksa jendela tiga kali. Alya pindah, mengubah semua nama akun, membangun dinding enkripsi di sekeliling hidup barunya, dan bersumpah pada dirinya sendiri bahwa tidak akan pernah ada lagi orang yang memegang kunci ke dalam dirinya seperti itu.

Meskipun Arga mungkin sudah jauh, terakhir kali Alya mendengar kabarnya, ia pindah kota, mengganti nama profesionalnya, bekerja di balik layar sebuah agensi yang tidak jelas, bayangan itu tetap ada, mengendap di dasar setiap keputusan yang Alya ambil, seperti sedimen di dasar gelas yang tidak pernah benar-benar bening lagi.

Alya menghela napas, lelah dengan pertahanan abadi ini. "Lupakan, Alya. Itu masa lalu. Dia sudah pergi." Ia mengucapkannya seperti mantra, meskipun jauh di lubuk hatinya ia tahu mantra itu tidak pernah benar-benar berhasil menenangkan detak jantungnya.

Ia membuka laci rahasia di nakas sebelah ranjang. Laci itu dibuat khusus, hanya bisa dibuka dengan kunci kecil yang selalu ia sembunyikan di dalam gantungan kalung pemberian almarhum neneknya, satu-satunya benda pusaka yang tidak pernah ia lepaskan, bahkan saat sesi pemotretan yang mengharuskannya mengganti semua aksesoris demi kontrak sponsor. Di dalamnya terdapat buku jurnal kecil dengan sampul kulit hitam yang lusuh, sudutnya sudah melengkung karena terlalu sering dibuka dan ditutup. Ini adalah satu-satunya tempat ia menuangkan isi kepalanya, hal-hal yang terlalu kelam, terlalu jujur, dan terlalu berbahaya untuk dibagikan ke dunia digital, dunia yang, ironisnya, adalah sumber penghidupannya.

Hari itu, ia menulis dengan tergesa-gesa, tinta pulpennya menekan terlalu keras hingga hampir merobek kertas:

20.30. Rasa sunyi ini menusuk. Aku merasa seperti bohlam mati yang dikelilingi ribuan kamera. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang. Aku butuh pelukan, bukan 'like'.

Ia menutup jurnal itu, menekan sampulnya seolah menekan sesuatu di dalam dadanya agar tidak meluap. Alya menutup jurnalnya, menguncinya kembali di dalam laci, dan meletakkan kembali kunci kecil itu ke lehernya. Ia memejamkan mata, mencoba memaksa dirinya tidur, meskipun ia tahu mimpi buruk yang menampilkan wajah sinis Arga akan segera datang, seperti yang selalu terjadi setiap kali ia menulis terlalu jujur.

Ia tidak tahu, malam itu, ia akan menemukan sebuah pesan yang jauh lebih intim daripada apa pun yang pernah ia tulis, yang datang dari sumber yang tidak mungkin.

BAYANG-BAYANG DUA TAHUN LALU

Sebelum tidur benar-benar merenggutnya, pikiran Alya melayang, seperti selalu, ke apartemen lamanya, unit kecil di lantai delapan yang dulu ia bagi dengan Arga, dengan dinding bercat krem dan satu sofa oranye murah yang mereka beli bersama di pasar loak, tertawa karena kainnya bermotif bunga yang norak. Ia ingat bagaimana Arga dulu bisa duduk berjam-jam mengedit videonya, memuji setiap detail kecil, cara ia memiringkan kepala, cara cahaya jatuh di rambutnya, dengan ketelitian yang saat itu terasa seperti cinta, bukan pengintaian.

"Kamu punya potensi jadi besar, Ly," kata Arga suatu malam, matanya berbinar dengan sesuatu yang Alya kira adalah kebanggaan. "Aku cuma perlu tahu semuanya tentang kamu. Bukan cuma yang di kamera. Semuanya. Biar aku bisa bantu kamu jadi versi terbaik."

Saat itu, kata-kata itu terdengar romantis. Sekarang, dalam ingatan yang sudah dipoles ulang oleh dua tahun terapi yang setengah jalan dan ribuan malam tanpa tidur, kata-kata itu terdengar seperti kontrak perbudakan yang ditandatangani tanpa sadar dengan sebuah ciuman di dahi.

Arga memintanya untuk berbagi password semua akunnya "demi efisiensi kerja." Arga memintanya untuk menyimpan semua jurnal lama dalam satu folder yang bisa Arga akses "untuk riset konten." Arga memintanya untuk memberi tahu setiap kali ia merasa cemas, setiap kali ia menangis, setiap kali ia merasa tidak cukup baik, dan Arga akan mencatatnya semua, katanya, "supaya aku tahu cara terbaik menjagamu."

Itu baru permulaan. Perlahan-lahan, dengan kesabaran seorang arsitek yang membangun penjara batu demi batu tanpa pernah terlihat sedang membangun apa pun, Arga mulai menjauhkan Alya dari orang-orang di sekitarnya. Dimulai dari hal kecil: "Kenapa kamu masih dekat sama Rian? Dia kan pernah naksir kamu, aneh aja kalau kalian masih sering chat." Lalu berkembang: "Teman-teman kuliahmu itu nggak ngerti dunia yang kamu jalani sekarang, Ly. Mereka cuma bikin kamu insecure." Dan akhirnya, tanpa Alya sadari kapan tepatnya itu terjadi, grup chat lamanya sepi, teman-teman kosnya berhenti mengajak nongkrong karena ia selalu menolak, dan satu-satunya orang yang tersisa untuk diajak bicara adalah Arga, persis seperti yang direncanakannya sejak awal.

Lihat selengkapnya