THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #3

Jebakan Sampanye dan Pengawas Nyata

PENINGKATAN SERANGAN DAN BUKTI PENGAWASAN FISIK

Alya tidak tidur malam itu. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan rasa paranoia yang anehnya bercampur dengan rasa ingin tahu, dua emosi yang seharusnya saling meniadakan tetapi justru menyatu menjadi sesuatu yang membuatnya terjaga hingga subuh menyingsing dan cahaya jingga menembus tirai. Ia mencoba mencari tahu siapa Phantom, membuka setiap forum keamanan siber yang bisa ia temukan, sambil anehnya terhibur oleh pesan terakhirnya. Mantan korban Arga. Mungkinkah? Atau ini adalah trik yang lebih canggih dari Arga? Arga adalah manipulator ulung; pasti ada puluhan orang yang pernah ia sakiti, tersebar seperti puing-puing di sepanjang jejak karirnya yang licin.

Keesokan harinya, dengan mata yang disamarkan oleh tiga lapis concealer dan tetes mata untuk menghilangkan kemerahan, Alya harus kembali ke rutinitas influencer-nya: menghadiri acara peluncuran produk kosmetik high-end di sebuah ballroom hotel mewah, lengkap dengan lampu sorot yang menyilaukan dan alunan musik jazz yang terlalu keras untuk percakapan normal.

Pukul 14.00, di tengah keramaian acara yang gemerlap, Alya sedang berpose, mencoba menampilkan kembali senyum 7,8 detiknya meskipun setiap ototnya terasa seperti kertas yang ditarik terlalu keras. Tiba-tiba, ponselnya yang tersembunyi di dalam tas tangan kecilnya bergetar. Getaran itu terasa lebih dingin dan mendesak dari biasanya, seolah ponsel itu sendiri tahu isi pesannya sebelum Alya membacanya.

Notifikasi Telegram. Phantom.

Alya segera menyelinap ke toilet eksekutif, ruangan sunyi yang berbau lavender dan lilin mahal, jauh dari kebisingan dan mata-mata yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya untuk konten "di balik layar." Ia bersandar pada dinding marmer dingin, tangannya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih.

Phantom: Jangan minum sampanye itu, Alya. Aku tahu kau alergi parah terhadap pemanis buatan yang mereka gunakan di sini.

Alya mendongak, matanya membesar. Di luar, di meja catering, segelas sampanye memang menunggunya, yang ia tinggalkan sebentar untuk touch-up. Ia ingat, ia memang pernah mencoba sampanye merek itu bulan lalu dan mengalami ruam hebat di lehernya, bercak merah yang membuatnya harus membatalkan satu sesi foto. Tapi, itu adalah insiden kecil yang hanya ia bagi ke manajernya, Dina, melalui telepon pribadi, sambil mengoleskan salep alergi dengan tangan gemetar karena gatal yang tak tertahankan.

Alya segera menelepon Dina, jarinya menekan layar dengan panik.

"Din, kau pernah bilang ke siapa pun tentang alergi sampanye itu? Alergi parah ke pemanis buatan, yang waktu itu bikin aku harus minum antihistamin?" tanya Alya berbisik tegang, sambil melihat ke pintu toilet seolah Phantom bisa masuk kapan saja, seolah bayangan itu punya bentuk fisik yang bisa mendobrak pintu.

Dina terdengar bingung. "Hah? Yang mana? Enggak, ya, Ly. Cuma kau dan aku yang tahu, itu pun waktu kau mengeluh lewat voice note di WhatsApp. Kenapa, ada masalah?"

Alya menutup telepon tanpa menjawab. Tubuhnya terasa mati rasa, seperti seluruh darahnya berhenti mengalir sesaat. Jika Phantom bukan Dina, dan bukan Arga, maka dia adalah orang luar yang mendengarkan percakapan pribadinya, mungkin meretas ponsel Dina atau bahkan mikrofon Alya sendiri, mendengarkan setiap keluhan kecil yang ia kira hanya terdengar oleh satu orang. Ini bukan lagi tentang mencuri data dari laci. Ini adalah pelanggaran privasi real-time yang mengerikan, sesuatu yang hidup dan aktif, bukan sekadar arsip lama yang dicuri.

Alya melihat ke sekeliling, mencari wajah asing melalui celah pintu toilet yang ia buka sedikit. Apakah ada wajah yang tampak canggung, cerdas, tetapi tidak mengancam?

Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang pria di sudut ruangan, di balik tenda live streaming. Dia mengenakan kemeja rapi yang tampak kebesaran, seolah dibeli dua ukuran lebih besar demi kenyamanan daripada gaya, rambut hitamnya agak acak-acakan, dan matanya selalu menunduk menatap laptop portabelnya. Dia terlihat seperti seorang teknisi IT yang dipaksa bekerja di tengah lautan glamour ini, sekumpulan kabel dan router tersembunyi di balik meja yang dihias bunga-bunga mahal.

Itu adalah Zaki.

Zaki sedang bekerja untuk perusahaan yang menyelenggarakan acara ini, mengurus live stream dan keamanan jaringan, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard dengan konsentrasi yang hampir religius. Mata Alya dan Zaki sempat bertemu selama setengah detik. Zaki langsung salah tingkah, menundukkan kepalanya lebih dalam, dan mengetik dengan panik, seolah-olah Alya menangkap basah dirinya sedang melakukan sesuatu yang memalukan, atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tidak mungkin dia. Dia terlalu... canggung. Stalker-ku adalah Phantom yang dingin, cerdas, dan penuh kendali, bukan Zaki yang gemetar saat melihatku, pikir Alya, menepis kecurigaannya sebagaimana ia menepis ratusan teori konspirasi yang muncul di kolom komentarnya setiap hari.

Alya kembali ke Telegram, jempolnya mengetik dengan kemarahan yang perlahan menggantikan ketakutan.

Alya: Siapa kau sebenarnya? Ini bukan lagi tentang Arga. Kau melanggar privasi dan aku akan memanggil polisi.

Phantom: Silakan. Tapi jika kau memanggil polisi, mereka akan meminta akses ke datamu. Dan saat mereka melihat bukti yang kukumpulkan, yang hanya berupa log jaringan, mereka akan menyimpulkan satu hal: kau paranoid, dan datamu adalah sampah karena kau seorang 'influencer' yang berbagi segalanya. Tidak ada yang akan percaya. Mereka akan mengatakan ini adalah kasus cyber-bullying biasa.

Phantom: Aku punya data yang kau butuhkan. Data yang membuktikan Arga tidak hanya merusakmu, tetapi juga menyembunyikan kejahatan yang lebih besar. Aku perlu kau selamat sampai data itu siap. Dan untuk itu, kau harus percaya padaku, bahkan jika itu membuatmu takut.

Alya: Data apa?

Phantom: Katakan padaku, Alya. Apakah kau ingat saat kau hampir menabrak motor kurir di jalan raya tiga minggu lalu, saat kau sedang menangis histeris di dalam mobil dan tidak fokus?

Alya membeku, lututnya lemas hingga ia harus bersandar lebih kuat pada dinding marmer. Itu adalah momen paling gelapnya baru-baru ini. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari pemotretan yang buruk, menangis karena stres, dan nyaris mengalami kecelakaan fatal. Tidak ada kamera, tidak ada saksi luar. Kejadian itu berlangsung di dalam mobilnya, sendirian, di jalan tol yang sepi menjelang tengah malam.

Phantom: Aku tahu kau mengunci mobilmu setelah itu, dan kau menangis sendirian selama dua puluh menit di kursi pengemudi. Kau memeluk setirmu dan berteriak. Kau memaki Arga, Alya. Aku mendengarnya.

Air mata Alya mulai menetes, membasahi make-up-nya, meninggalkan jejak abu-abu tipis di pipinya yang biasanya sempurna. Ini bukan lagi tentang meretas Telegram atau email. Ini tentang mereka mengawasinya secara fisik, di saat ia merasa paling aman di dalam ruang tertutupnya, satu-satunya ruang yang selama ini ia yakini benar-benar miliknya sendiri.

Alya: Apakah kau meretas kamera mobilku?

Phantom: Aku tidak meretas kameramu. Aku meretas CCTV lalu lintas di sekitarmu, menggabungkan data GPS mobilmu, dan menganalisis polamu. Aku merekam audio dari mikrofon bluetooth mobilmu, yang kau biarkan terhubung ke ponsel. Itu adalah data, Alya. Data tidak berbohong. Dan data menunjukkan: Kau sedang dalam bahaya emosional. Dan Arga akan menggunakan bahaya ini.

Alya merasa Phantom adalah cermin digitalnya, seseorang yang melihat semua sisi tergelapnya, yang paling jujur, tanpa perlu ia menyaringnya terlebih dahulu melalui filter dan caption yang dipikirkan matang-matang. Ia merasa telanjang dan dieksploitasi, tetapi anehnya, ia juga merasa... dipahami, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak sebelum Arga menghancurkan segalanya.

Alya: Mengapa kau melakukan ini, Phantom?

Phantom: Aku sudah bilang. Aku menjagamu. Dan aku ingin menjagamu tetap hidup agar kita bisa menjatuhkan Arga bersama.

Alya melihat ke cermin toilet. Bukan lagi senyum lima puluh ribu followers yang dilihatnya, tetapi mata merah yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan, wajah yang jujur, wajah yang tidak pernah ia unggah ke mana pun.

Alya tidak memanggil polisi. Ia tidak memblokir Phantom. Ia justru menggulir kembali semua pesan yang masuk, membaca ulang setiap kata, mencoba mencari tahu, apakah aku jatuh cinta pada ketakutanku sendiri?

MALAM PERTAMA TANPA TIDUR NYENYAK

Ia berjalan pulang dari acara peluncuran produk malam itu dengan langkah yang terasa berat, seolah gravitasi kota tiba-tiba bertambah dua kali lipat. Supir yang ia pesan lewat aplikasi bertanya apakah ia baik-baik saja melihat wajahnya yang pucat di kaca spion, dan Alya hanya mengangguk, tidak sanggup menjelaskan bahwa dunia yang ia kenal baru saja retak dalam hitungan jam.

Sesampainya di apartemen, ia tidak langsung masuk kamar. Ia berjalan mengelilingi setiap ruangan, memeriksa setiap sudut seperti seorang tentara yang baru kembali dari medan perang, memeriksa apakah musuh bersembunyi di balik gorden, di balik pintu lemari, di balik apa pun yang bisa menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Ia akhirnya duduk di lantai dapur, punggung bersandar pada kabinet, dan menangis untuk pertama kalinya sejak insiden sampanye. Bukan tangisan histeris seperti dulu, melainkan tangisan yang lebih tenang, lebih dalam, seperti sungai yang akhirnya menemukan jalannya setelah lama terbendung.

Ia teringat sebuah nasihat dari terapisnya, dua tahun lalu, saat trauma Arga masih segar: "Rasa aman bukan tentang tidak adanya ancaman, Alya. Rasa aman adalah tentang mempercayai kemampuanmu sendiri untuk bertahan, apa pun yang terjadi." Kata-kata itu terasa kosong saat itu, terlalu abstrak untuk dipegang di tengah kepanikan nyata. Tetapi malam ini, duduk sendirian di lantai dapur dengan dunia yang terasa runtuh di sekelilingnya, kata-kata itu tiba-tiba terasa seperti satu-satunya pegangan yang tersisa.

Ia tidak tahu apakah Phantom adalah ancaman atau penyelamat. Ia tidak tahu apakah kepercayaannya adalah kebijaksanaan atau kenaifan yang akan menghancurkannya sekali lagi. Tetapi ia tahu satu hal dengan pasti: ia telah bertahan dari Arga sendirian, dengan cara yang menyakitkan dan lambat, dan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang keras kepala dan tidak mau menyerah, masih ada di sana, menunggu untuk digunakan lagi.

Ia bangkit dari lantai, mencuci wajahnya di wastafel dapur, menatap pantulannya di jendela gelap yang berfungsi sebagai cermin darurat. "Aku akan bertahan," bisiknya pada bayangan itu, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia hampir mempercayai kata-katanya sendiri sepenuhnya.

Lihat selengkapnya