THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #4

Umpan Ketakutan: Aliansi Melawan Bayangan

GUNCANGAN DARI ARGA

Ketegangan di dunia nyata mulai meningkat, seperti tekanan udara sebelum badai yang bisa dirasakan di ubun-ubun. Dina, manajer Alya, menelepon dengan nada panik yang jarang sekali terdengar dari suaranya yang biasanya tenang dan terorganisir.

"Ly, campaign untuk produk kecantikan Ratu Glow tiba-tiba dibatalkan sepihak. Mereka bilang kau sudah menandatangani kontrak eksklusif dengan kompetitor mereka, padahal kontrak itu bahkan belum kuterima di email!"

Alya terkejut, tangannya yang sedang memegang cangkir teh berhenti di udara. "Aku tidak pernah menandatangani apa pun, Din. Itu pasti penipuan!"

"Bukan. Mereka menunjukkan PDF dengan tandatangan dan cap digital yang terlihat 100% sah! Aku harus tahu, Ly, apa kau diam-diam punya agensi kedua? Ini adalah serangan, Ly. Serangan yang terencana." Suara Dina bergetar di ujung telepon, campuran antara marah dan takut kehilangan kliennya sekaligus temannya.

Alya tahu persis siapa pelakunya. Arga. Dia kembali menggunakan keahliannya dalam pemalsuan digital dan manipulasi data, keahlian yang dulu ia gunakan untuk "membantu" karir Alya, sebelum Alya tahu bahwa bantuan itu adalah jerat yang perlahan mengetat.

Ingatan lain menyeruak, ingatan yang selama ini ia kubur lebih dalam daripada yang lain karena rasa malunya yang begitu tajam: sebuah malam, delapan belas bulan ke dalam hubungan mereka, saat Arga membawanya ke sebuah acara gathering brand besar, acara pertama yang benar-benar penting bagi karir awal Alya. Di tengah acara, di depan puluhan orang penting industri, Arga tiba-tiba mengangkat suaranya, nada bicaranya berubah dari lembut menjadi tajam dalam sepersekian detik.

"Ly, kamu yakin mau pakai gaun ini? Menurutku kemarin yang warna hitam lebih pantas. Yang ini bikin kamu keliatan... kurang percaya diri," katanya di depan semua orang, suaranya cukup keras untuk terdengar oleh meja-meja terdekat, senyumnya tetap terpasang seolah ia baru saja memberikan pujian, bukan kritik yang menghancurkan.

Alya, yang malam itu memang sudah gugup menghadapi jajaran petinggi brand, merasa wajahnya memanas, ingin menghilang saja dari ruangan itu. Beberapa orang tertawa kecil, tidak yakin apakah itu lelucon atau bukan. Arga hanya tersenyum lebih lebar, merangkul pinggangnya erat-erat, seolah ucapan itu adalah bentuk kasih sayang, bukan penghinaan di depan umum yang dirancang untuk membuat Alya merasa harus selalu meminta persetujuannya sebelum melangkah ke mana pun.

Dalam perjalanan pulang malam itu, Alya menangis di dalam mobil, dan Arga, alih-alih meminta maaf, malah berkata dengan nada terluka, "Aku cuma jujur, Ly. Aku kira kamu suka kalau aku selalu jujur sama kamu. Orang lain nggak akan berani ngomong hal itu ke kamu karena takut kamu marah. Cuma aku yang berani, karena aku sayang kamu apa adanya."

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Alya untuk akhirnya memahami pola itu, bagaimana kritik yang menghancurkan dibungkus sebagai kejujuran cinta, bagaimana penghinaan publik disamarkan sebagai kepedulian, bagaimana setiap kali ia merasa terluka, Arga berhasil membalikkan situasi hingga Alya-lah yang akhirnya meminta maaf karena "terlalu sensitif."

Kini, mendengar Dina panik di telepon tentang serangan digital terbaru Arga, Alya menyadari bahwa taktik itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berevolusi, dari kata-kata tajam di tengah pesta menjadi dokumen palsu yang menghancurkan reputasinya di dunia maya. Medan pertempuran berubah, tetapi pemainnya, dan kekejamannya, tetap sama persis.

Alya kembali ke apartemennya, mengunci pintu dengan tiga putaran kunci yang berbeda, dan tangannya gemetar saat mengambil ponsel. Ia harus menghubungi Phantom. Dia satu-satunya yang bisa melihat jejak digital Arga, satu-satunya yang berbicara bahasa yang sama dengan monster yang mengejarnya.

Alya: Phantom. Arga. Dia menyerangku. Dia membatalkan kontrakku dengan dokumen palsu. Aku butuh data. Sekarang.

Phantom tidak menjawab. Satu jam berlalu, jarum jam bergerak dengan kecepatan yang terasa disengaja untuk menyiksa. Dua jam. Alya mengirim spam pesan, kemarahannya berubah menjadi ketakutan yang dingin, merayap dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya.

"Kau di mana, Phantom?! Kau bilang kau menjagaku!"

Setelah tiga jam yang terasa seperti selamanya, saat Alya sudah hampir menangis dan memutuskan untuk menelepon polisi (walaupun ia tahu itu sia-sia, walaupun ia tahu cerita apa pun yang ia sampaikan akan terdengar seperti delusi seorang selebriti yang terlalu banyak minum), notifikasi Telegram muncul.

Phantom: Tenang. Aku melihatnya. Dia tidak menggunakan server lama. Dia menggunakan jaringan pribadi. Aku harus masuk lebih dalam. Kontrak Ratu Glow itu hanyalah umpan kecil.

Alya: Berikan padaku. Segera.

Phantom: Tidak semudah itu. Akses ini berisiko. Jika Arga tahu aku memburunya, dia akan langsung menghilang. Aku butuh ketenangan. Aku butuh kau diam dan percaya, Alya.

Lihat selengkapnya