THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #5

Umpan di Instagram dan Jaringan Pemicu

SEBELUM FAJAR

Tiga hari setelah pertemuan atap yang belum terjadi, karena pada titik ini dalam kisahnya, Alya belum tahu bahwa atap Black Mirror Digital menantinya di masa depan, ia terbangun sebelum fajar, sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak bertahun-tahun lalu, sejak masa kuliahnya yang penuh tugas dan tenggat waktu.

Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, mendengarkan detak jantungnya sendiri, mencoba memahami perasaan baru yang tumbuh di dadanya: bukan lagi ketakutan murni, melainkan sesuatu yang lebih rumit, kewaspadaan yang telah menjadi kebiasaan, seperti otot yang terus-menerus tegang hingga lupa bagaimana rasanya rileks.

Ia bangkit, berjalan ke dapur, menyeduh kopi meski tahu kafein akan membuat kecemasannya semakin parah. Ada sesuatu tentang ritual sederhana itu, air mendidih, aroma kopi yang menguar, cangkir hangat di tangannya, yang terasa seperti jangkar ke dunia yang masih normal, dunia yang belum sepenuhnya diambil alih oleh Phantom dan Arga.

Ponselnya, yang ia letakkan sengaja di ruang tamu semalam agar tidak menjadi hal pertama yang ia lihat saat bangun, mulai bergetar. Ia menatapnya dari jarak jauh, seolah alat kecil itu adalah makhluk hidup yang bisa membaca pikirannya.

Ia memutuskan untuk tidak segera memeriksanya. Untuk sepuluh menit, ia hanya duduk di meja dapur, menikmati kopinya, membiarkan matahari yang mulai terbit menembus celah tirai, menghangatkan lengan dan wajahnya. Sepuluh menit itu terasa seperti kemewahan yang lebih berharga daripada apa pun yang bisa dibeli uang.

Ketika akhirnya ia memeriksa ponselnya, ada tujuh pesan dari Phantom, masing-masing dikirim dalam interval sepuluh menit, nadanya semakin mendesak.

Phantom: Kau belum online. Semua baik-baik saja?

Phantom: Alya?

Phantom: Aku mulai khawatir. Balas jika kau membaca ini.

Alya menatap pesan-pesan itu lama sekali, merasakan sesuatu yang aneh: kekuasaan kecil. Untuk pertama kalinya sejak Phantom masuk ke dalam hidupnya, dialah yang membuat entitas itu menunggu, dialah yang memegang kendali atas ritme komunikasi mereka, meski hanya selama sepuluh menit yang berharga itu.

Alya: Aku sedang minum kopi. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri.

Balasan Phantom datang lebih lambat dari biasanya, jeda yang terasa seperti pengakuan diam bahwa ia baru saja diberi batasan yang tidak bisa ia bantah.

Phantom: Dimengerti. Aku akan menunggu.

Kemenangan kecil itu menghangatkan Alya sepanjang pagi, sebuah pengingat sederhana bahwa meski hidupnya sedang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya, ia masih memiliki kekuatan untuk memilih kapan harus menyerah dan kapan harus menahan diri.

MENCIPTAKAN KEHANCURAN VIRTUAL

Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Bukan lagi karena ketakutan, tetapi karena adrenalin, sesuatu yang jauh lebih memabukkan dan jauh lebih berbahaya. Ia kini tahu bahwa ia sedang bermain catur digital dengan taruhan tertinggi: seluruh hidupnya, dipertaruhkan bidak demi bidak di papan yang tidak pernah ia pilih untuk dimainkan.

Ia duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar pada kaki ranjang, laptop terbuka di pangkuannya, cahayanya satu-satunya sumber terang di ruangan yang gelap. Di luar jendela, Jakarta tetap berkedip seperti biasa, tidak peduli bahwa di salah satu apartemen di lantai 35, seorang perempuan sedang belajar cara menjadi umpan bagi dirinya sendiri.

Alya mengambil ponselnya, membuka Telegram, dan mengirimkan draf caption ke Phantom, sesuai permintaan.

Alya: "Aku tahu ada sesuatu yang tersembunyi. Aku tidak akan diam. Kebenaran selalu menemukan jalannya." Terlalu dramatis?

Phantom membalas dalam waktu kurang dari tujuh detik, mengalahkan waktu rata-rata follower Alya, sebuah detail kecil yang tidak pernah gagal membuat Alya merinding, mengingatkannya bahwa di ujung percakapan ini bukanlah manusia yang menunggu dengan sabar, melainkan sesuatu yang selalu, selalu siaga.

Phantom: Terlalu banyak amarah. Arga ingin melihat ketakutan, bukan perlawanan. Dia predator yang menikmati mangsa yang terluka.

Lihat selengkapnya