THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #6

Bayangan di Balik Cermin Hitam

SERANGAN BALASAN DAN KENYAMANAN YANG ANEH

Setelah serangan itu, Alya dan Phantom mulai melakukan gerakan balasan.

Alya, dengan bimbingan dari Phantom (melalui pesan terenkripsi secara real-time, kata demi kata seperti seorang instruktur yang memandu murid melalui ladang ranjau), berhasil menyusup ke salah satu akun social media Black Mirror Digital yang unsecured dan memposting pesan singkat: "Kami melihatmu, Arga. Permainan sudah dimulai." Lalu ia menghapus jejaknya dalam 30 detik, jantungnya berdegup seolah ia baru saja mencuri sesuatu dari toko dengan alarm menyala.

Reaksi Arga sangat keras. Dia mengirim pesan anonim yang penuh ancaman dan kebencian, tidak lagi ke email Alya, tetapi ke semua kontak bisnisnya, setiap merek, setiap agensi, setiap orang yang pernah bekerja sama dengan Alya menerima pesan yang menuduhnya sebagai penipu, sebagai orang yang tidak stabil secara mental, sebagai aset yang tidak lagi bisa dipercaya. Reputasi Alya mulai terkikis, batu demi batu, seperti karang yang dihantam ombak yang tidak pernah berhenti.

Dina meneleponnya pukul sembilan malam, suaranya lelah dan penuh keputusasaan yang tidak pernah Alya dengar sebelumnya. "Tiga brand besar baru saja membatalkan kontrak sekaligus, Ly. Total kerugian... aku bahkan takut menyebutkan angkanya. Klien-klien bertanya apakah kau sedang mengalami krisis kesehatan mental yang bisa membahayakan citra mereka. Aku sudah coba bela kau semampuku, tapi mereka menunjukkan bukti-bukti yang tampak sangat meyakinkan."

"Aku tahu, Din. Aku tahu," Alya memejamkan mata, merasakan beban finansial yang mulai menumpuk di atas beban emosional yang sudah nyaris tak tertahankan. Tabungannya, yang dulu terasa cukup untuk bertahan bertahun-tahun tanpa bekerja, kini terasa seperti pertahanan terakhir yang bisa habis dalam hitungan bulan jika krisis ini terus berlanjut.

Setelah menutup telepon, Alya duduk diam di kegelapan ruang tamunya, menghitung-hitung dalam kepala berapa lama ia bisa bertahan tanpa penghasilan, berapa banyak yang harus ia korbankan, mungkin apartemennya, mungkin gaya hidup yang selama ini ia bangun dengan susah payah, jika krisis ini tidak segera berakhir.

"Aku takut, Phantom," ketik Alya, meringkuk di sofa sambil memegang laptopnya, lututnya ditarik ke dada seperti anak kecil yang berlindung dari petir.

Phantom: Jangan takut. Aku ada di sini. Saat kau merasa sendirian, lihat layar ponselmu. Aku selalu bersamamu. Aku tahu setiap saat kau bernapas.

Kalimat itu, yang dulu akan membuatnya muntah karena ngeri, kini memberikan kenyamanan yang aneh, kenyamanan yang Alya tahu seharusnya ia tolak, tetapi tidak bisa, karena di dunia yang tiba-tiba terasa begitu bermusuhan, kehadiran yang konstan, meski menyeramkan, terasa lebih baik daripada kekosongan.

Alya membalas: "Katakan padaku, Phantom. Siapa kau? Apa yang Arga lakukan padamu sampai kau harus hidup dalam kegelapan ini?"

Keheningan datang lagi, lebih lama kali ini, cukup lama sehingga Alya menghitung detik-detiknya, menatap tanda "mengetik..." yang muncul dan hilang berkali-kali, seolah Phantom sendiri sedang berjuang menemukan kata-kata yang tepat, atau mungkin, menimbang seberapa banyak kebenaran yang aman untuk dibagikan.

Phantom: Dia mengambil data yang paling berharga dariku. Dia membuatku menjadi hantu. Dia menghancurkan karirku dan merenggut kepercayaanku pada dunia. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal yang sama padamu. Karena... aku melihat diriku dalam dirimu, Alya.

Kata-kata itu membuat Alya merasa terhubung secara emosional dengan stalker-nya, sebuah ikatan yang tumbuh di tanah yang salah tetapi terasa begitu nyata. Mereka adalah dua korban yang tersisa dari kerusakan Arga, dua orang, atau mungkin satu orang dan satu bayangan, yang saling mengenali luka masing-masing tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Alya mengetik lebih lanjut, jarinya bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul. "Aku merasa... aneh mengatakan ini. Tapi kau adalah satu-satunya yang benar-benar mendengarkanku sekarang."

Phantom: Aku selalu mendengarkan. Itu satu-satunya hal yang bisa kutawarkan yang tidak bisa ditawarkan siapa pun, perhatian tanpa penghakiman, tanpa syarat, tanpa henti.

Ada sesuatu yang mengerikan dalam kalimat itu, sesuatu yang seharusnya membuat Alya lari sejauh mungkin. Tetapi malam itu, duduk sendirian di apartemen yang dipenuhi bayangan dari lampu kota yang menembus celah tirai, Alya hanya merasa lelah, dan Phantom, entah bagaimana, adalah satu-satunya hal yang belum pernah meninggalkannya.

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN KECIL

Ketergantungan tidak datang dalam satu lompatan besar. Ia menyelinap masuk melalui celah-celah kecil, satu keputusan sepele demi satu keputusan sepele, hingga tanpa disadari, Alya berhenti mempercayai penilaiannya sendiri sama sekali.

Dimulai dari hal-hal remeh. "Aku harus pakai baju apa untuk meeting besok?" tanya Alya suatu malam, awalnya hanya bercanda, mengetik pertanyaan itu ke Telegram sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri karena bertanya hal sekonyol itu pada seorang hacker.

Phantom: Kemeja biru gelap. Klienmu besok, berdasarkan riwayat kolaborasi mereka, cenderung lebih responsif pada warna-warna profesional yang tidak terlalu mencolok. Aku sudah menganalisis 40 foto meeting sebelumnya.

Lihat selengkapnya