THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #7

Ledakan Data dan Kepemilikan Mutlak

KEBOCORAN JURNAL DAN KERUNTUHAN TOTAL

Dua hari kemudian, Arga melancarkan serangan balasan yang tidak terduga.

Pukul 17.00, saat Alya sedang live Instagram untuk kolaborasi kosmetik, tersenyum pada kamera dengan senyum yang sudah mulai terasa seperti topeng yang dijahit ke wajahnya, notifikasi berdering di seluruh media sosialnya, satu gelombang demi gelombang, seperti sirene yang tidak bisa dimatikan.

Bukan hanya spam ancaman. Itu adalah serangan paling intim dan mematikan.

Di sebuah forum gelap dan anonim yang dibuat Arga, muncul tiga foto screenshot yang diambil dari jurnal pribadi Alya, jurnal kulit hitam yang terkunci di laci nakasnya, satu-satunya tempat di dunia yang ia kira benar-benar aman.

Screenshot 1: "Aku lelah berpura-pura baik-baik saja di depan semua kamera itu." - Screenshot 2: "Aku benci setiap produk yang aku jual. Aku hanya boneka yang dibayar mahal." - Screenshot 3: "Aku berharap bisa menghilang saja."

Live Instagram Alya hancur total. Ia bisa melihat komentar-komentar mengalir dengan kecepatan yang tidak mungkin ia ikuti, dari simpati yang canggung hingga kemarahan yang membakar. Followers meninggalkannya, mitra bisnisnya membanjiri kotak masuknya dengan pesan kemarahan. Dalam satu jam, semua kontrak yang tersisa dibatalkan. Brand Alya, yang dibangun selama bertahun-tahun, dengan setiap 7,8 detik yang dihitung dengan cermat, runtuh dalam hitungan menit.

Alya menjerit, air matanya membasahi pipi, mengalir deras hingga membasahi kerah kemeja sutra yang tadi pagi masih terasa seperti baju zirah, kini terasa seperti kain kafan. Bagaimana Arga mendapatkan screenshot jurnal itu? Jurnal itu terkunci!

Jurnal itu adalah bukti, bukan hanya Alya yang paranoid, tetapi bahwa ia adalah penipu yang membenci followers-nya. Arga berhasil menghancurkan Alya menggunakan kelemahan terbesarnya, senjata yang paling tajam karena diasah dari kejujuran Alya sendiri.

Alya meraih Telegram, jarinya nyaris tidak bisa mengetik karena gemetar yang tidak terkendali.

Alya: PHANTOM! DIA MENDAPATKAN JURNALKU! BAGAIMANA DIA,

Balasan tidak datang secepat biasanya. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik yang terasa seperti satu abad penuh bagi Alya yang menatap layarnya dengan putus asa. Untuk pertama kalinya sejak Phantom muncul dalam hidupnya, jeda itu bukan jeda strategis yang disengaja, Alya bisa merasakannya, entah bagaimana, dari cara tanda "mengetik..." muncul dan hilang berulang kali, seolah Phantom sendiri sedang panik, sedang mencoba menyusun kalimat yang bisa menutupi fakta bahwa ia benar-benar tidak melihat ini akan terjadi.

Phantom: Aku... aku tidak memprediksi vektor serangan ini. Beri aku waktu.

Kalimat itu, sesingkat dan sesederhana itu, mengguncang Alya lebih dari yang ia kira mungkin. Selama ini Phantom selalu tampil sebagai kekuatan yang tidak terkalahkan, entitas yang selalu selangkah di depan, yang selalu tahu jawaban sebelum pertanyaan selesai diketik. Mendengarnya mengakui kegagalan, bahkan hanya kegagalan memprediksi, bukan kegagalan bertindak, terasa seperti melihat retakan pertama pada patung yang selama ini ia kira terbuat dari baja.

Alya: KAU BILANG KAU MENGAWASI SEGALANYA! KAU BILANG AKU AMAN!

Phantom: Aku mengawasi jaringan digitalmu. Aku tidak memperhitungkan bahwa dia akan menggunakan metode analog, CCTV fisik, pemulihan gambar dari pantulan. Itu adalah teknik lama, teknik yang sudah kuanggap usang. Aku salah. Aku meremehkannya.

Dua menit kemudian, barulah balasan yang lebih tenang datang, dan Alya bisa merasakan Phantom kembali menyusun ulang topeng ketenangannya, mengumpulkan kembali kendali yang sempat lepas dari genggamannya.

Phantom: Tenang! Aku tahu sekarang! Dia menyusup ke CCTV mini apartemenmu, Alya. Dia merekam saat kau membuka dan menutupnya, lalu menggunakan teknologi AI untuk memulihkan isi halaman yang terekspos dalam pantulan kaca. Dia tidak meretas, dia mengamati. Dia menggunakan kebodohan kita sendiri!

Alya menangis histeris, tubuhnya merosot dari sofa ke lantai, ponsel masih tergenggam erat di tangannya yang basah oleh keringat dan air mata. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi, tidak brand, tidak reputasi, dan yang paling menyakitkan, tidak lagi punya privasi bahkan di ruang yang paling ia lindungi.

Lihat selengkapnya