THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #8

Persiapan dan Aturan Kontak

UJIAN KECIL ALYA

Sebelum menerima sepenuhnya rencana pertemuan di atap, Alya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada Phantom: ia mulai menguji entitas yang selama ini menjadi pelindungnya, dengan hati-hati, seperti seorang ilmuwan yang mencoba memetakan makhluk yang belum sepenuhnya ia pahami.

Ia mulai dengan hal kecil. Ia sengaja meninggalkan detail palsu di sebuah percakapan dengan Dina melalui panggilan telepon biasa, bukan pesan teks yang mudah dipantau, melainkan panggilan suara yang, menurut logikanya, hanya bisa disadap jika Phantom benar-benar mengakses mikrofon ponselnya secara aktif, bukan sekadar log jaringan. Ia menyebutkan sebuah nama kafe fiktif, "Kopi Senja," tempat yang tidak pernah benar-benar ada di Jakarta, sebagai tempat mereka akan bertemu esok hari.

Jika Phantom menyebutkan "Kopi Senja" kapan pun setelahnya, itu berarti pengawasannya jauh lebih dalam daripada yang pernah ia akui, bukan hanya log jaringan, melainkan penyadapan suara langsung, sebuah pelanggaran privasi yang bahkan lebih mengerikan daripada yang sudah Alya ketahui.

Dua hari berlalu. Phantom tidak pernah menyebutkan nama kafe itu.

Alya mencoba ujian kedua: ia sengaja menuliskan sebuah "rencana rahasia" palsu di sebuah dokumen Word yang tidak pernah ia unggah ke cloud, hanya disimpan secara lokal di laptopnya yang biasanya selalu tersambung internet. Dokumen itu berisi rencana fiktif untuk melarikan diri ke luar negeri, lengkap dengan nama maskapai dan tanggal palsu. Ia membiarkan dokumen itu terbuka selama sepuluh menit sebelum menutupnya tanpa menyimpan.

Malam itu, tidak ada reaksi dari Phantom sama sekali terkait dokumen itu, sebuah kelegaan yang bercampur dengan kekecewaan aneh, karena itu berarti setidaknya ada satu ruang di dalam hidupnya, sekecil apa pun, yang masih sepenuhnya miliknya sendiri.

Dari dua ujian kecil itu, Alya mulai menyusun peta batasan Phantom: ia bisa mengakses jaringan, log aplikasi, riwayat digital, bahkan audio melalui perangkat yang sudah disusupi seperti speaker rumah. Tetapi ia tidak bisa, atau belum bisa, mengakses percakapan suara langsung melalui panggilan telepon operator biasa, dan ia tidak bisa mengakses dokumen yang tidak pernah tersambung ke internet.

Pengetahuan kecil itu terasa seperti senjata pertama yang benar-benar miliknya sendiri, bukan pemberian Phantom, sebuah peta rahasia tentang kelemahan sang pengawas, yang ia simpan diam-diam, menunggu saat yang tepat untuk menggunakannya.

MENGHITUNG MUNDUR MENUJU KEGELAPAN

Alya terbangun dengan perasaan yang tidak familiar: kontrol. Seluruh brand-nya telah hancur, followers-nya menghilang, dan privasinya telah sepenuhnya diserahkan kepada stalker digital. Namun, ia tidak lagi merasa panik. Ia merasa fokus. Ini adalah perasaan yang asing; seperti berjalan di jurang, tetapi yakin bahwa ada jaring pengaman yang tersembunyi, meskipun ia tidak pernah benar-benar tahu siapa yang memegang ujung jaring itu.

Selama dua hari, Alya hanya berbicara dengan Phantom melalui Telegram. Pesan-pesan itu sekarang bukan lagi tentang pengawasan data, melainkan perintah militer, disampaikan dengan presisi seorang komandan yang dingin:

Phantom: Jam 20.00, kau harus berada di lobi utama Gedung Central. Jangan datang dengan mobil pribadimu. Pesan taksi online, tapi ganti aplikasimu 15 menit sebelum keberangkatan. Arga melacak semua jejak digital, bahkan algoritma taksi online-mu.

Phantom: Gunakan pakaian yang mudah bergerak. Jangan pakai perhiasan yang memantul. Rambutmu diikat kencang. Jika kau harus bertarung, kau harus gesit.

Phantom: Aku akan menjemputmu di lift servis. Kau tidak boleh terlihat oleh siapa pun di lobi. Jika ada yang melihatmu, terutama mata-mata Arga, rencana ini dibatalkan.

Alya tidak memprotes. Ia hanya menurut. Obsesinya pada keselamatan kini menggantikan semua rasa jijiknya pada pengawasan Phantom, sebuah pergeseran yang, jika ia sempat berhenti dan memikirkannya, seharusnya membuatnya lebih takut daripada segala ancaman Arga sekalipun.

Ia pergi ke pusat perbelanjaan, membeli ransel kecil, dan di dalamnya, ia meletakkan satu-satunya alat pelindung diri yang ia punya: semprotan merica yang ia beli dengan tangan gemetar di sebuah toko peralatan keamanan yang remang-remang, kasirnya menatapnya dengan tatapan curiga yang tidak ia hiraukan. Ini adalah perlawanan kecilnya, simbol bahwa meskipun ia dikendalikan oleh Phantom, jiwanya masih berjuang untuk otonomi.

Malam sebelum pertemuan, Alya duduk di depan cermin kamar mandinya, menatap wajahnya yang sudah tidak ia kenali lagi, bukan wajah influencer yang berbinar untuk kamera, bukan pula wajah ketakutan yang menangis di lantai kamar mandi hotel. Wajah ini adalah sesuatu yang baru: tenang, dingin, dan sedikit... asing.

"Siapa kau sekarang, Alya?" bisiknya pada bayangannya sendiri, tetapi tidak ada jawaban yang datang, hanya gema dari ubin dingin di sekelilingnya.

Pukul 19.30, Alya berdiri di depan cermin, mengenakan hoodie gelap dan celana jeans longgar. Bukan lagi influencer dengan senyum palsu, melainkan seseorang yang siap bertarung di gang belakang digital.

Tiba-tiba, ia teringat Zaki. Si Red Herring yang gugup, yang Phantom klaim hanyalah operator. Alya mengirim pesan singkat ke Phantom.

Alya: Kenapa kau bilang aku harus menghentikan Zaki? Apakah dia benar-benar tidak tahu apa-apa?

Phantom: Zaki adalah operator. Dia melakukan apa yang diperintahkan, tapi dia tidak tahu gambaran besarnya. Dia hanya tahu cara memasang router dan menjalankan software. Semakin jauh kau darinya, semakin baik untuknya. Dia adalah manusia yang terlalu baik dan terlalu naif untuk permainan ini. Jangan libatkan dia.

Alya mengangguk pada dirinya sendiri, meskipun tidak ada yang melihatnya mengangguk. Zaki hanyalah bidak catur. Phantom adalah pemainnya. Permainan ini tidak membutuhkan hati, pikir Alya, dan untuk pertama kalinya, ia membenci betapa mudahnya ia mempercayai kalimat itu.

Lihat selengkapnya