THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #11

Kepemilikan Data dan Final Choice

OBSESI SEJATI PHANTOM

Saat Phantom berdiri di atas Arga yang kesakitan, Alya melangkah maju, kakinya terasa berat seperti menyeret beban yang tidak terlihat.

"Cukup, Phantom! Kau memenangkan pertarunganmu. Sekarang, hentikan ini," perintah Alya, suaranya lebih tegas dari yang ia kira mampu ia keluarkan.

Phantom menoleh. Mata tajam itu menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Alya melihat kegilaan di balik ketenangan yang dingin itu, sesuatu yang selama ini tersembunyi rapi di balik setiap pesan Telegram yang penuh perhatian, setiap kalimat yang terdengar seperti perlindungan.

"Menangkan pertarunganku? Belum, Alya. Pertarungan kita baru dimulai."

Phantom meraih smartwatch-nya. Dalam sekejap, semua sistem keamanan Gedung Black Mirror Digital lock down, lampu-lampu jauh di bawah mereka berkedip serentak seperti kota kecil yang tunduk pada satu perintah.

"Aku sudah memblokir panggilan Arga ke polisi. Mereka tidak akan datang. Seluruh gedung ini adalah domainku. Aku mengendalikan setiap kamera, setiap pintu, setiap arus listrik," jelas Phantom, suaranya bangga, seolah ia baru saja menunjukkan hadiah terbaik yang pernah ia buat.

Phantom menendang Arga hingga pingsan, gerakannya efisien dan tanpa emosi, lalu berjalan ke arah Alya. Ia melepaskan tudung hoodie-nya, membiarkan wajahnya sepenuhnya terlihat di bawah cahaya hijau redup dari smartwatch-nya.

"Aku bukan Zaki. Zaki adalah engineer yang aku pekerjakan untuk memasang perangkat keras di apartemenmu. Dia jujur. Aku yang meretas sistem audionya untuk mengetahui percakapanmu. Aku yang membuatmu percaya dia adalah Red Herring yang tidak bersalah," aku Phantom, tanpa nada penyesalan sedikit pun, seolah ia sedang menjelaskan langkah teknis biasa dalam sebuah proyek.

"Kau... kau memanipulasi aku. Dari awal. Kau berbohong tentang Zaki. Kau berbohong tentang Arga. Kau berbohong tentang dirimu," kata Alya, suaranya gemetar karena pengkhianatan yang terasa lebih dalam daripada yang pernah ia rasakan bahkan dari Arga. Ia mengambil semprotan merica dari ransel, jarinya sudah siap di pemicu.

Tetapi di tengah kemarahannya, sesuatu yang lebih tenang mulai bekerja di kepala Alya, hasil dari ujian-ujian kecil yang ia lakukan diam-diam selama berhari-hari terakhir. Ia tahu Phantom tidak bisa mengakses percakapan suara langsung atau dokumen yang tidak pernah tersambung internet. Ia tahu ada batas pada kekuasaannya, sekecil apa pun batas itu.

"Kau bilang kau mengendalikan semuanya di gedung ini," kata Alya, suaranya lebih tenang dari yang ia duga, mencoba mengalihkan Phantom, mengulur waktu sambil pikirannya berlari cepat. "Tapi kau tidak bisa mendengar percakapan teleponku dengan Dina subuh tadi, kan? Kau tidak tahu apa yang kukatakan padanya."

Untuk sepersekian detik, sesuatu berkedip di mata Phantom, bukan kemarahan, melainkan kejutan kecil yang tidak sempat ia sembunyikan sepenuhnya. "Itu tidak relevan dengan situasi kita sekarang."

"Itu relevan," Alya melangkah mundur selangkah, menciptakan jarak, pikirannya menyusun strategi dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Karena itu membuktikan kau tidak maha tahu, Aditya. Kau punya batas. Dan jika kau punya batas, itu berarti kau bisa dilawan."

Phantom menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak topeng hoodie-nya terlepas, sesuatu yang menyerupai kekaguman, bercampur dengan kewaspadaan baru, muncul di wajahnya. "Kau sudah mengujiku. Sejak kapan?"

"Sejak aku sadar kau bukan Tuhan, hanya manusia dengan banyak alat," jawab Alya, mengangkat dagunya, menolak menunjukkan ketakutan meski jantungnya berdebar kencang. Pengetahuan kecil itu, meski tidak cukup untuk mengalahkan Phantom malam ini, cukup untuk mengingatkannya bahwa ia bukan lagi korban yang sepenuhnya pasrah, ia adalah lawan yang sedang belajar aturan permainan.

"Ya. Tapi bukan untuk menyakitimu. Kau adalah data terbaik yang pernah kutemukan, Alya. Kau adalah arsitektur yang sangat kompleks. Kau adalah *brand* yang begitu tulus, dan kau begitu rapuh, sehingga kau menjadi artefak paling berharga. Kau adalah bukti bahwa di era digital ini, bahkan yang paling terekspos pun punya jiwa yang tersembunyi."

Phantom mendekat, matanya memancarkan obsesi murni, sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Arga karena obsesi ini terdengar begitu tenang, begitu yakin pada dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya