PAGI PERTAMA DI BAWAH KENDALI
Alya bangun pukul 06.00 tepat, bukan karena alarm yang ia pasang, melainkan karena suhu ruangan yang tiba-tiba berubah dua derajat, sebuah sinyal halus yang, ia pelajari kemudian, adalah cara Phantom membangunkannya tanpa suara yang mengganggu.
Ia berbaring sebentar, menatap langit-langit, mencoba menyesuaikan diri dengan realitas barunya. Di apartemen ini, bahkan udara yang ia hirup kini diatur oleh kecerdasan yang tidak pernah tidur, tidak pernah lengah, tidak pernah, walau sedetik, berhenti mengawasi.
Ponselnya, yang semalam ia letakkan di meja seperti biasa, kini menampilkan jadwal hari itu, bukan jadwal yang ia buat sendiri, melainkan jadwal yang disusun Phantom, lengkap dengan waktu makan, waktu olahraga ringan untuk menjaga kestabilan mental, bahkan waktu untuk "istirahat emosional" selama lima belas menit di siang hari.
"Ini bukan hidupku lagi," gumam Alya pada dirinya sendiri, duduk di tepi ranjang, menatap jadwal yang terlalu rapi untuk terasa manusiawi.
"Ini adalah hidupmu, dioptimalkan," jawab suara dari speaker, seolah mendengar gumamannya meski Alya yakin ia bicara terlalu pelan untuk ditangkap mikrofon mana pun. "Beri waktu, Alya. Kau akan terbiasa, dan kau akan melihat hasilnya."
Alya tidak menjawab. Ia hanya bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan untuk beberapa menit yang berharga, mengunci pintu, satu-satunya ruang di apartemennya yang, sejauh yang ia tahu, belum sepenuhnya dijamah sensor dan kamera Phantom. Di sana, di depan cermin yang berembun oleh uap air panas, ia mengizinkan dirinya menangis tanpa disaksikan, sebuah kemewahan kecil yang ia jaga ketat sebagai miliknya sendiri.
MENGAMANKAN ASET DI BALIK DINDING
Alya kembali ke apartemennya di lantai 35, melangkah di atas marmer dingin yang terasa asing, seolah lantai yang sama yang dulu ia injak setiap hari kini menjadi milik seseorang yang bukan dirinya lagi. Kemenangan atas Arga di atap menara terasa hampa; ia baru saja mengganti satu tali pengikat dengan rantai yang lebih canggih. Ia telah menyerahkan kendali, menukar paranoia dengan ketaatan.
Saat ia mengunci pintu, sebuah tindakan yang terasa bodoh, mengingat siapa yang kini memiliki akses ke setiap sudut hidupnya, suara Phantom menyambutnya. Suara itu kini keluar dari speaker kecil berwarna hitam yang terpasang rapi di balik smart TV-nya, berbisik dari balik bayangan, seolah rumahnya sendiri telah belajar berbicara dengan suara orang lain.
"Kau telah melakukan apa yang harus dilakukan. Sekarang, aku yang bergerak," kata Phantom. Suaranya terdengar dingin, tanpa emosi, seperti text-to-speech berkualitas tinggi yang telah dilatih bertahun-tahun untuk terdengar menenangkan tanpa pernah benar-benar hangat. "Mulai saat ini, kau berada di bawah Protokol Bayangan. Ini bukan pertahanan. Ini adalah Firewall Hukum kita. Semua datamu adalah amunisiku."
Phantom menjelaskan. Di belakang lemari buku minimalis Alya, ia telah memasang Mini-Server Kaca, sebuah mesin custom-built yang didinginkan oleh kipas sunyi, tersembunyi di dalam dinding, seperti jantung buatan yang berdenyut pelan di balik rusuk apartemennya. Server itu adalah inti dari penjara Alya yang baru.
"Aku harus menyerahkan semua kendali, bukan?" tanya Alya, berjalan mendekati speaker itu, seolah-olah ia sedang berbicara dengan dinding itu sendiri, dengan sesuatu yang tidak punya wajah untuk ia tatap.
"Ya. Aku perlu seluruh log-mu, semua password-mu, semua kebiasaan browsing-mu. Aku perlu tahu persis siapa Alya yang dilihat dunia, dan siapa Alya yang ingin dilihat oleh Arga. Ini akan memberiku keunggulan yang legal, dan keunggulan yang psikologis."
Phantom kemudian mengubah password utama Alya, satu per satu, menjadi string acak yang tidak mungkin diingat oleh manusia, deretan huruf dan angka yang berkelebat di layar seperti bahasa asing. Dia menonaktifkan semua notifikasi media sosial, dan bahkan mengatur suhu ruangan Alya.
"Suhu ideal untuk tidur adalah 20 derajat Celsius. Aku mengatur thermostat-mu," kata Phantom, dengan nada yang seharusnya terdengar seperti perhatian tetapi hanya terasa seperti daftar periksa yang dicentang satu per satu.
Alya berdiri di tengah ruangan, merasakan hawa dingin yang menusuk. Bukan hanya dingin fisik, tetapi dingin dari pengawasan absolut, dingin yang merayap dari ubin ke telapak kakinya, naik ke tulang belakangnya, menetap di dadanya. "Kau bukan penjagaku, Phantom. Kau adalah administrator hidupku."
"Seorang administrator memastikan sistem berjalan dengan sempurna, Alya. Kau adalah sistem yang terlalu berharga untuk crash," jawab Phantom. Suara itu selalu tenang, selalu memegang kendali, membuat Alya merasa semakin kecil di apartemen besarnya, apartemen yang dulu adalah benteng pribadinya, kini terasa seperti akuarium kaca tempat setiap gerakannya dipelajari dan dicatat.
PANGGILAN YANG TIDAK BISA DIJAWAB
Tiga hari setelah Protokol Bayangan dimulai, ibunya menelepon, panggilan mingguan biasa yang selama ini selalu Alya jawab dengan riang meskipun lelah. Kali ini, saat nama "Ibu" muncul di layar, Phantom, melalui speaker tersembunyi, langsung memberi instruksi.
"Jangan angkat sekarang. Aku sedang menjalankan pemindaian keamanan penuh pada jaringanmu. Jika kau bicara di telepon sementara pemindaian berjalan, ada risiko kecil kebocoran data suara. Tunggu dua puluh menit."
"Ini ibuku, Phantom. Aku selalu mengangkat telepon ibuku," bantah Alya, jarinya sudah melayang di atas layar, siap menggeser tombol hijau.
"Dua puluh menit, Alya. Demi keamananmu sendiri."