THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #13

Menggali Sampah Digital

MEMETAKAN PSIKOLOGI PREDATOR

Tugas Alya sekarang adalah bekerja dengan data yang Phantom berikan padanya. Ia harus membedah jejak digital Arga, bukan sebagai korban, melainkan sebagai seorang analyst, sebuah pergeseran peran yang, meski dipaksakan, memberi Alya sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: rasa kompeten, rasa berguna di luar kemampuannya tersenyum untuk kamera.

Phantom membuka sebuah interface pada browser incognito Alya, sebuah peta visual dari semua kejahatan Arga. Di sana, tertumpuk spreadsheet, log transaksi, dan email palsu yang Arga gunakan untuk mencuci uang dan merusak bisnis, sebuah jaringan laba-laba digital yang terlihat begitu rapi hingga hampir indah, jika saja setiap benangnya tidak dibangun dari kebohongan.

"Arga tidak hanya menyakiti, Alya. Dia mengumpulkan. Perhatikan pola pengeluaran yang tidak perlu ini," instruksi Phantom. "Dana sebesar 5 Miliar Rupiah yang seharusnya untuk amal, ia alihkan ke rekening offshore. Tapi ia melakukannya dengan cara yang bodoh, ia menggunakan template transaksi yang sama persis dari dua tahun lalu."

Alya mulai merasakan perubahan di dalam dirinya. Dia tidak lagi melihat Arga sebagai mantan pacar yang kejam, tetapi sebagai algoritma yang cacat, sesuatu yang bisa dipetakan, diprediksi, dan pada akhirnya, dikalahkan dengan logika, bukan hanya dengan air mata.

"Dia punya kebiasaan. Dia selalu menggunakan layer kebaikan untuk menutupi layer kejahatan. Dia menyembunyikan uang kotornya di balik nama Panti Asuhan Bintang Dua," kata Alya, menunjuk pada sebuah log donasi palsu, suaranya semakin tajam setiap kali ia menemukan pola baru.

"Kenapa panti asuhan itu?" tanya Phantom.

"Dia selalu membual bahwa ibunya bekerja di sana. Dia suka mengemudi melewatinya. Dia menggunakannya sebagai fasad emosional," jawab Alya, matanya kini tajam, memindai spreadsheet itu seperti seorang predator, sebuah versi dirinya yang ia tidak pernah tahu ada, yang mungkin selama ini terkubur di bawah lapisan senyum dan caption manis.

"Kau mulai berpikir seperti black hat," puji Phantom, kali ini dengan nada kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan. Itu adalah validasi, bukan pujian. Dan Alya menyukainya, meskipun ia membenci sumbernya, sebuah kontradiksi kecil yang menambah satu lapisan lagi pada rasa jijiknya terhadap diri sendiri.

Beberapa jam kemudian, saat matanya sudah lelah menatap ribuan baris angka, Alya menemukan sesuatu yang membuatnya duduk tegak, sebuah anomali kecil yang, ia yakin, terlewat dari analisis Phantom sebelumnya. Di tengah spreadsheet transaksi Arga, ada satu baris yang tidak sesuai pola: sebuah transfer kecil, hanya dua juta rupiah, dikirim setiap tanggal 14 setiap bulan, ke sebuah rekening dengan nama penerima yang disingkat menjadi inisial saja, "S.W."

"Phantom, lihat ini," kata Alya, menunjuk pada layar meski Phantom tidak memiliki mata untuk benar-benar 'melihat' dalam artian manusia. "Transfer ini tidak masuk pola pencucian uang yang biasa. Jumlahnya terlalu kecil, terlalu konsisten, terlalu personal untuk jadi bagian dari skema bisnis."

Lihat selengkapnya