PENGINTAIAN FISIK DAN PENEMUAN KUNCI
Malam itu, Alya mengendarai taksi online menuju Panti Asuhan Bintang Dua. Ia mengenakan hoodie gelap dan sarung tangan, bukan lagi untuk fashion, melainkan untuk misi, jantungnya berdebar dengan campuran rasa takut dan sesuatu yang menyerupai hidup kembali.
Tepat pukul 22.00, lampu di seluruh kompleks padam.
"Sembilan puluh detik. Aku di sini. Jangan bernapas terlalu kencang," bisik Phantom melalui earpiece Alya, suaranya kembali tenang, seolah pertengkaran beberapa jam lalu tidak pernah terjadi.
Alya menyelinap ke ruang penyimpanan dokumen, ruangan tua yang berbau amonia, kertas busuk, dan kenangan yang basi. Ia menyalakan senter kecil, memindai rak-rak yang berdebu, cahayanya menari di antara bayangan tumpukan map yang menjulang seperti reruntuhan kota kecil.
"Lemari kayu ke kanan. Tumpukan map ketiga dari bawah. Arga selalu suka menyembunyikan hal terpenting di tempat yang paling tidak terlihat," instruksi Phantom.
Alya merangkak, tangannya meraba-raba map tebal, jarinya menghitam oleh debu bertahun-tahun. Akhirnya, ia menemukan map "Dana Pembangunan 2023." Di dalamnya, bukan hanya dokumen, tetapi sebuah amplop berlapis plastik.
Di dalamnya, tersembunyi kunci logam kecil yang mengkilap, terlampir pada selembar kertas bertuliskan "Safe 145, Bank Central".
"Aku menemukannya, Phantom. Kunci fisik," bisik Alya, rasa adrenalin membanjiri dirinya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin bisa terdengar di seluruh ruangan yang sunyi. Ini adalah bukti fisik yang tidak bisa dihapus oleh server mana pun, sesuatu yang nyata, yang bisa dipegang, yang tidak bisa dimanipulasi menjadi baris kode.
Sebelum keluar, matanya tertangkap sesuatu yang lain di dalam map yang sama, sebuah foto lama, sudah menguning, memperlihatkan Arga muda, mungkin baru berusia dua puluh tahunan, berdiri di depan panti asuhan ini bersama seorang wanita paruh baya yang tersenyum bangga, tangannya merangkul bahu Arga dengan kasih sayang yang tampak tulus.
Alya memandangi foto itu sesaat, sesuatu yang menyerupai empati, perasaan yang seharusnya tidak lagi ia miliki untuk pria yang telah menghancurkan hidupnya, menyelinap masuk tanpa diundang. Di balik foto itu, tertulis dengan tinta yang mulai pudar: "Untuk anakku tersayang, jangan pernah lupa dari mana kau berasal."
Ia tidak tahu siapa yang menulisnya, ibu kandung Arga, atau mungkin pengasuh di panti ini yang menganggapnya sebagai anak sendiri. Tetapi kata-kata itu terasa seperti jendela kecil ke dalam kemanusiaan yang mungkin pernah dimiliki Arga sebelum apa pun yang mengubahnya menjadi monster yang sekarang memburu Alya.
Ia memasukkan foto itu ke dalam sakunya, bersama kunci logam, tidak sepenuhnya yakin mengapa ia melakukannya, apakah sebagai bukti tambahan, atau sebagai pengingat bahwa bahkan predator paling kejam sekalipun pernah menjadi anak kecil yang dipeluk dengan sayang oleh seseorang.
"Waktu habis. Tiga, dua, satu, keluar, Alya, sekarang!" teriak Phantom, suaranya sedikit pecah, hampir menyerupai kepanikan yang manusiawi.
Lampu kembali menyala. Alya berlari keluar, napasnya memburu, kunci itu dicengkeram erat di tangannya yang berkeringat. Ia telah mempertaruhkan dirinya di dunia fisik, dan ia menang, sebuah kemenangan yang, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, terasa sepenuhnya miliknya sendiri.
PERCAKAPAN DI BANGKU TAMAN
Dalam perjalanan pulang, Alya meminta taksinya berhenti sebentar di sebuah taman kecil yang masih buka meski larut malam, lampu-lampu taman berpendar kekuningan di antara pohon-pohon yang menjulang gelap. Ia butuh udara, butuh momen untuk bernapas tanpa suara Phantom di telinganya, tanpa earpiece yang selama ini menjadi tali pengikat tak kasat mata.
Ia duduk di bangku kayu yang dingin, kunci logam masih tergenggam erat di sakunya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia mengeluarkan ponsel bukan untuk memeriksa Telegram, melainkan untuk menelepon nomor yang sudah lama tidak ia hubungi: Zaki.
"Halo?" suara Zaki di ujung telepon terdengar kaget, ragu-ragu, seperti seseorang yang tidak yakin apakah panggilan ini adalah jebakan atau bukan.