THE DIGITAL STALKER

N. Y. YONS
Chapter #15

Kebebasan yang Menyakitkan

DATA BOMB DAN KEPUTUSAN AKHIR

Hari persidangan semakin dekat. Phantom memberikan instruksi terakhir:

"Kunci fisik sudah diamankan. Sekarang kita akan menjatuhkan Data Bomb. Aku sudah membuat flash drive ini. Di dalamnya, semua log transaksi Arga, bukti pencucian uang, dan timestamp ilegal, dienkripsi berlapis. Ibu Citra akan menyerahkannya ke pengadilan. Arga akan tenggelam dalam kejahatannya sendiri."

Alya mengambil flash drive itu. Ia memeriksanya, menggunakan pengetahuan dasarnya yang kini jauh lebih tajam daripada beberapa minggu lalu. Dia melihat sebuah script kecil di metadata, sesuatu yang tersembunyi begitu rapi hingga hampir tidak terlihat oleh mata yang kurang terlatih.

Ia teringat pelajaran-pelajaran kecil yang tanpa sadar telah ia serap selama berminggu-minggu bekerja bersama Phantom, cara membaca pola dalam kode, cara mencurigai sesuatu yang tampak terlalu sempurna. Ironisnya, keahlian yang kini ia gunakan untuk menemukan jebakan Phantom adalah keahlian yang Phantom sendiri yang mengajarkannya, tanpa pernah bermaksud bahwa muridnya akan menggunakan ilmu itu untuk melawan gurunya.

Script itu bukan untuk menyerang Arga. Itu adalah kunci mati. Jika mini-server Phantom dimatikan, flash drive itu akan menjadi sampah digital. Phantom memastikan bahwa keberhasilan Alya, bahkan di hadapan hukum, tetap bergantung pada eksistensi kendalinya, sebuah pengait terakhir, tersembunyi di balik kebaikan yang tampak tulus.

Alya duduk lama menatap temuan itu, pikirannya berputar melalui semua yang telah ia korbankan untuk sampai ke titik ini, kariernya, kepercayaannya pada Dina, kewarasannya sendiri yang berkali-kali diuji sampai batas. Dan di ujung semua pengorbanan itu, ternyata masih ada satu jerat terakhir yang menunggu, disamarkan sebagai jalan menuju kebebasan.

"Kau tidak pernah benar-benar ingin aku bebas," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun yang mungkin mendengar. "Kau hanya ingin aku berpikir aku bebas, selama tali yang mengikatku tetap ada di tanganmu."

Alya menatap flash drive itu, lalu menoleh ke speaker yang diam, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kemarahan yang jauh lebih dingin daripada apa pun yang pernah ia rasakan terhadap Arga, kemarahan yang lahir bukan dari pengkhianatan yang tiba-tiba, tetapi dari pengkhianatan yang dibangun perlahan, dibungkus dalam kata-kata perlindungan.

Ia telah memenangkan pertarungan melawan Arga dengan bantuan Phantom. Sekarang, ia harus memenangkan pertarungan melawan Phantom sendirian.

Alya mengeluarkan bor kecil yang ia gunakan di panti asuhan, yang selama ini ia sembunyikan di bawah tumpukan pakaian, alat kecil yang terasa seperti senjata terakhirnya. Ia berjalan ke lemari buku yang berlubang.

Seketika, speaker itu hidup kembali, suaranya mengandung nada peringatan yang dingin. "Alya. Jangan. Kau akan menghancurkan sistem kita. Kau akan menghancurkan data. Jangan bodoh."

Alya mengabaikannya. Ia menyalakan bornya. Suara bising memekakkan telinga memenuhi apartemen, menembus dinding, besi, dan kaca, sebuah simfoni kehancuran yang, bagi Alya, terdengar seperti kemerdekaan.

"Alya! Matikan! Kau menghancurkan Firewall!" teriak Phantom, suaranya kali ini bukan lagi administrator, tetapi pecah dengan keputusasaan yang manusiawi, untuk pertama kalinya, ia terdengar seperti seseorang yang benar-benar bisa kehilangan sesuatu.

Alya terus mengebor. Ia merasakan bau hangus, asap tipis mengepul dari lubang di dinding. Mini-server itu telah hancur.

Ia melempar bor itu ke lantai, menatap lubang hitam di dinding, lalu berbicara dengan suara lantang ke arah speaker yang kini mati total, ke ruangan yang untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu benar-benar hanya miliknya.

"Aku tidak menghancurkan data, Phantom. Aku menghancurkan kontrol," kata Alya.

Keheningan mutlak. Alya akhirnya bebas. Bebas dari Arga, dan bebas dari Phantom.

KEMENANGAN PENUH DAN BAYANGAN YANG TERSISA

Keesokan harinya, Alya berada di pengadilan, mengenakan blazer sederhana tanpa merek mencolok, wajahnya tanpa riasan berlebihan, bukan lagi seragam influencer, melainkan seragam seseorang yang siap menghadapi kebenaran apa adanya. Ia menyerahkan flash drive yang sudah ia ketahui akan segera mati.

Sebelum sidang dimulai, Alya sempat duduk di ruang tunggu bersama Citra, tangannya dingin dan berkeringat meski ruangan ber-AC. "Kau tidak harus melihat wajahnya kalau kau tidak siap," kata Citra lembut, menggenggam tangan Alya. "Kau bisa memberi kesaksian tanpa menatapnya langsung."

"Tidak," Alya menggeleng, suaranya lebih mantap dari yang ia kira mampu ia keluarkan. "Aku ingin dia melihat wajahku. Aku ingin dia tahu aku tidak lagi takut."

Lihat selengkapnya