THE EnD [End of a major disaster]

Caroline
Chapter #2

2030

"Apa kita harus menyusul mereka?"


Dua jam telah berlalu sejak Dharma dan Hani meninggalkan ruang persembunyian. Awalnya, sesuai kesepakatan bersama, mereka hanya keluar untuk mengambil makanan di kantin. Namun, batas waktu yang telah disepakati telah lama terlewati.

Lelaki berkaus putih itu tidak tahu harus menjawab apa ketika mendengar pertanyaan perempuan di sampingnya. Dengan wajah gusar, ia mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan sambil mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri.

"Jujur saja, aku tidak akan pergi dari sini," jawab Nabil sambil menatap Ani. "Aku juga tidak yakin teman-teman yang lain akan rela mencari mereka."

Ani terdiam beberapa saat. Lalu membalikkan badan menghadap teman-temannya.

"Perhatian, semuanya."

Suasana kelas yang semula sunyi perlahan menoleh ke arah nya.

"Dharma dan Hani sudah dua jam belum kembali. Apa ada yang bersedia ikut mencari mereka?"

Tak ada jawaban untuk beberapa saat

"Tunggu sebentar lagi. Mereka pasti kembali," ujar seorang mahasiswa dari kerumunan.

Ani menatapnya dengan datar.

"Ini sudah dua jam. Kantin juga berada di lantai yang sama dengan ruangan ini."

Ia sempat terdiam, seolah memikirkan sesuatu.

"Baiklah, memang ti—"

"Aku akan ikut."

Seseorang mengangkat telunjuknya dari tengah kerumunan.

Ani tersenyum lalu berkata, "Josua, kamu benar-benar keren."

"Tapi bagaimana kalian akan melawan makhluk aneh itu?" tanya Nabil.

Ani berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Makanya aku akan mengikuti alurnya saja."

Ia menoleh kepada Josua.

"Tunggu di depan pintu saja, Jos."

Josua hanya mengangkat bahu tanpa banyak bicara.

"Tapi itu berbahaya, Ani," sahut salah seorang mahasiswi.

Ani tersenyum tipis menanggapi ucapan salah satu mahasiswi, "Tapi aku memang suka hal-hal yang berbahaya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali menutup pintu depan.


---


Di sudut kelas, seorang mahasiswi tampak duduk santai sambil memainkan ponselnya. Salah seorang temannya menghampiri.

"Gila, keren juga anak ini. Situasi semencekam begini saja dia tidak kelihatan takut. Padahal yang lain sudah panik setengah mati."

Jisa hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

"Anak ini dengar, enggak, sih?" gerutu Ina.

"Nyesel aku ngomong. Anak ini memang tuli, ya?"

"Bisa diam, enggak?" tegur seseorang dari bangku lain.

"Iya, iya. Aku diam," balas Ina dengan kesal.


---


Di sisi lain, Nabil menatap kosong ke arah depan. Kakinya terus bergoyang pelan, berusaha mengusir kecemasan yang memenuhi pikirannya.

"Tenanglah. Mereka pasti kembali," ujar Ani berusaha menenangkan.

"Bagaimana kalau mereka tidak kembali?"

Ani menoleh.

"Kalau mereka benar-benar tidak kembali, kita akan menyusul mereka."

Nabil menatap perempuan di sampingnya.

"Setidaknya kita sudah berusaha melakukan hal yang benar sebelum dimangsa makhluk aneh itu."

Beberapa saat mereka sama-sama terdiam.

"Apa kamu pernah berpikir kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Nabil.

"Aku sempat berpikir... mungkin kita masuk ke kampus yang salah." Ia mengalihkan pandangannya ke depan, "Tapi kalau ini bukan ulah pihak kampus... berarti semuanya jauh lebih mengerikan."

"Kalau memang ini ulah kampus," gumam Nabil, "aku berharap semua ini cuma mimpi."

"Yang paling aneh..."

Nabil kembali membuka suara, "Internet masih lancar, tapi tidak ada satu pun keluarga atau kerabat yang membalas pesan."

Ani mengangguk pelan sebagai tanda mendengar jawaban satu kelasnya, "Entahlah. Semuanya terasa sangat rumit."

"Internet lancar..."

Lihat selengkapnya